Kehamilan berisiko tinggi bukan hanya tanggung jawab ibu.Para dokter menekankan agar keluarga mengenali tanda-tanda bahaya bagi keselamatan ibu dan janin.
KOMPAS.com - Kehamilan seringkali dianggap sebagai suatu kondisi alami yang terjadi dengan sendirinya.
Bahkan, dalam kondisi tertentu, suatu kehamilan bisa masuk dalam kategori risiko tinggi dan membahayakan keselamatan ibu dan janin jika salah dikelola.
Dokter Obstetri dan Ginekologi RSUP dr Wahidin Sudirohusodo, dr.Effendi Lukas, Sp.OG, menekankan, kehamilan risiko tinggi tidak hanya menjadi persoalan bagi ibu hamil, tapi juga seluruh anggota keluarga.
Dukungan dan kesadaran keluarga berperan penting dalam pengenalan dini tanda-tanda bahaya
“Kehamilan bukanlah suatu penyakit. Namun jika tidak ditangani dengan hati-hati, kehamilan dapat menimbulkan risiko bagi ibu, janin atau keduanya,” kata dr Effendi saat Talk Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan, Sabtu (3/1/2026).
Menurut dr Effendi, kehamilan risiko tinggi adalah kondisi kehamilan yang berpotensi menimbulkan komplikasi serius.
Risiko ini bisa terjadi sebelum, selama, dan setelah kehamilan.
“Kehamilan risiko tinggi adalah kehamilan yang dalam keadaan tertentu dapat membahayakan ibu, bayinya, atau kedua-duanya,” ujarnya.
Oleh karena itu, ibu hamil saja tidak cukup mewaspadai risikonya.Keluarga, terutama suami, perlu memahami situasi tersebut agar bisa cepat mengambil keputusan ketika tanda bahaya muncul.
dr Effendi menjelaskan, beberapa kondisi kesehatan menjelang kehamilan dapat meningkatkan risiko komplikasi.Misalnya ibu dengan riwayat penyakit diabetes, hipertensi, obesitas, penyakit autoimun, kelainan darah, dan tumor.
“Jika ibu memiliki kondisi yang sudah ada sebelumnya sebelum pembuahan, maka kehamilan tersebut harus dianggap sebagai kehamilan risiko tinggi,” jelasnya.
Ia mengatakan angka obesitas pada perempuan di Indonesia cukup tinggi.Hampir satu dari lima wanita mengalami obesitas, yang dapat meningkatkan risiko diabetes dan tekanan darah tinggi selama kehamilan.
Usia ibu merupakan faktor penting yang sering diabaikan dalam kehamilan.Ibu hamil dengan usia di atas 35 tahun, apalagi di atas usia 40 tahun, memiliki risiko yang tinggi.
Risiko terjadinya preeklampsia, diabetes gestasional, dan kelainan bawaan pada bayi meningkat seiring bertambahnya usia ibu, kata dr Effendi.
Di sisi lain, kehamilan di usia yang sangat muda, yakni sebelum usia 20 tahun, juga berisiko.Selain meningkatkan kemungkinan terjadinya kelahiran prematur, keadaan fisik dan emosi ibu yang prematur dapat mempengaruhi kesehatan ibu dan anak.
Jarak kehamilan yang terlalu berdekatan juga merupakan faktor risiko.Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan selang waktu minimal 24 bulan antara satu kelahiran dan kehamilan berikutnya.
“Jika jaraknya terlalu jauh maka pemulihan kesehatan ibu tidak akan terlalu baik. Hal ini dapat mempengaruhi gizi ibu dan janin, apalagi jika persalinan sebelumnya dilakukan dengan cara operasi,” kata dr Effendi.
Selain dampak fisik, kehamilan dekat juga dapat menimbulkan tekanan emosional dan finansial pada keluarga.
Mengenai pentingnya keluarga mengenali tanda bahaya kehamilan risiko tinggi, Dr.
Beberapa di antaranya adalah darah, bengkak berlebihan di sekujur tubuh, sesak napas, sakit perut hebat, muntah berlebihan, dan berlangsung lebih dari dua hari.
“Jika terjadi pendarahan, ibu harus segera dibawa ke fasilitas kesehatan. Jangan menunggu,” tegasnya.
Demam juga tidak bisa dianggap remeh karena suhu tubuh yang tinggi dapat membahayakan janin, dan meningkatkan risiko kematian janin jika tidak segera ditangani.
Baca juga: Vaksin RSV diberikan pada usia kehamilan 32-36 minggu, demikian keterangan medisnya
Menurut dr Effendi, banyak kasus kehamilan risiko tinggi yang terlambat ditangani karena kurangnya dukungan dan pengertian keluarga.
"Keluarga perlu hati-hati. Jangan hanya bergantung pada ibu. Kalau tidak ada tanda-tanda bahaya, segera bawa ke klinik sumur," ujarnya.
Ia juga mengatakan, aktivitas dan kehamilan yang teratur menjadi kunci untuk mencegah masalah serius serta mengurangi angka kematian ibu yang masih berada di Indonesia.
“Dengan pengawasan yang baik, banyak kehamilan berisiko tinggi yang bisa berakhir dengan kelahiran yang aman,” kata Dr. Effendi.
Dalam segala situasi, MOMPAS.com berkomitmen untuk memberikan fakta nyata di lapangan.Subbagian Terima kasih khusus atas dukungannya terhadap jurnalisme.Urutkan penilaian sekarang!
