Dinas Kesehatan Sumsel memperkirakan puncak kasus demam berdarah terjadi pada Januari hingga Februari.Masyarakat diimbau berhati-hati dan melakukan tindakan pencegahan, termasuk PSN dan wolbachia.
Dinas Kesehatan Sumsel menyebutkan jumlah kasus demam berdarah dengue (DBD) tertinggi akan terjadi pada awal tahun ini, perkiraan tersebut sejalan dengan prevalensi nyamuk Aedes aegypti sebagai vektor penularan demam berdarah pada musim hujan.
Diperkirakan puncak kasus DBD terjadi pada bulan Januari hingga Februari. Selain masih merupakan puncak musim hujan, juga berdasarkan tren kasus tahunan, kata Ira Primadesa Ogatiyah, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Sumsel, Kamis (2125/206).
Saat curah hujan tinggi, banyak terdapat genangan air yang menjadi tempat berkembang biak nyamuk, sehingga risiko penularan meningkat.
Ia menjelaskan, “Sesuai data yang ada, peningkatan curah hujan di kawasan perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti dimulai pada November tahun lalu dan puncak penyebarannya pada Desember dan mencapai puncaknya pada Januari tahun ini.”
Ia mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan melakukan tindakan pencegahan sesegera mungkin.Salah satu upaya utama yang disorot adalah penerapan pengendalian perkembangbiakan nyamuk (PSN).
Kemudian perkembangbiakan Wolbachia, bakteri alami yang banyak terdapat pada serangga, dapat digunakan untuk mengendalikan penyebaran penyakit demam berdarah dengan cara menginfeksi nyamuk Aedes aegypti agar tidak menularkan virus tersebut ke manusia.
Bakteri ini aman bagi manusia dan lingkungan, serta bekerja dengan cara mencegah replikasi virus pada lebah atau mencegah lebah menetaskan telur saat dikawinkan dengan lebah bebas Wolbachia.
“Palembang menjadi salah satu pilot project perluasan inovasi Wolbachia hingga 25 kabupaten/kota,” ujarnya.
Selain itu, masyarakat diimbau segera menghubungi puskesmas terdekat jika mengalami gejala demam berdarah seperti demam tinggi mendadak, sakit kepala, nyeri otot, dan bintik merah pada kulit.
Dinas Kesehatan Sumsel menekankan pentingnya peran aktif masyarakat dalam mencegah peningkatan kasus DBD.Koordinasi antara masyarakat, petugas kesehatan, dan otoritas setempat dianggap penting untuk mengurangi angka infeksi, terutama saat kita memasuki puncak musim hujan.
