Meski 75% militer Iran hancur, drone Shaheed menjadi "kartu truf" untuk mengalahkan AS dan Israel.Simak analisa kami kenapa senjata murah ini sulit dikalahkan.
Israel Jangan Terlalu Percaya Diri!Feses Sebut Iran Masih Punya Kartu Trump
Minggu, 15 Maret 2026 |07:36 WIBWashington, – Di tengah pengumuman mendadak Presiden AS Donald Trump bahwa perang dengan Iran hampir berakhir, sebuah detail krusial muncul.Meski Amerika Serikat dan Israel mengklaim telah melumpuhkan 75% kemampuan militer Iran, “senjata rahasia” sederhana masih menjadi kendala besar bagi kekuatan militer tercanggih di dunia tersebut.
Strategi militer Iran yang mengandalkan teknologi drone murah, khususnya Shaheed, telah menimbulkan komplikasi.Senjata ini telah memaksa pasukan AS dan Israel menghadapi masalah ekonomi, harus mengeluarkan uang mahal untuk peluncur rudal hingga menghancurkan armada pesawat yang mudah diproduksi.
Serangan pesawat tak berawak di dekat Bandara Dubai telah memaksa pemerintah setempat untuk menangguhkan semua penerbangan.Peristiwa ini membuktikan bahwa ancaman ini mampu menembus wilayah keamanan yang paling sulit sekalipun.
Ryan Ball, analis senior RANE untuk Timur Tengah dan Afrika Utara, menjelaskan bahwa teknologi tinggi dan investasi militer besar-besaran tidak selalu menjadi jawabannya.
“Drone sederhana adalah ancaman yang tidak dapat dihentikan oleh Amerika Serikat, Israel, dan negara-negara Teluk,” jelas Ball tentang kerentanan sistem pertahanan saat ini.
Kasus ini mirip dengan yang terjadi di Ukraina, di mana pasukan lokal berjuang untuk mengakhiri ancaman yang ditimbulkan oleh ribuan drone Shahed yang dikirim Iran ke Rusia.Meskipun Iran telah kehilangan banyak peralatan perangnya dalam seminggu terakhir, drone tetap menjadi kartu truf yang meningkatkan perlawanannya.
Terkadang, material sederhana dapat menyebabkan gangguan besar pada angkatan bersenjata Amerika dan Israel.Iran memang telah kehilangan sebagian besar aset militernya, namun selama masih bisa meluncurkan unit drone tersebut, berakhirnya konflik Timur Tengah pada tahun 2026 mungkin tidak akan secepat prediksi Donald Trump.
Temukan berita dan artikel lainnya di Google Berita
Ikuti saluran WhatsApp
KontraS: Luka bakar Andrei Yunus mencapai 24 persen
Kontras dan air sadah, deja vu 1998?
Saat Mufti Makarim Tok menjadi nafas zaman
Tommy Darmadi Melaspas eL Hotel and Resort Bali, Antara Ombak dan Doa
