Website logo
Home

Blog

Kisah seorang perempuan asal Jakarta Selatan yang menderita stroke di usia 32 tahun, awalnya mengira itu hanya penyakit mata;

Kisah seorang perempuan asal Jakarta Selatan yang menderita stroke di usia 32 tahun, awalnya mengira itu hanya penyakit mata;

Seorang perempuan di Jakarta Selatan bernama Irene (32 tahun) menderita stroke saat usianya masih sangat muda.Awalnya Irene mengira gejalanya hanya pembengkakan mata biasa. Seorang perempuan bernama Airin Stanyawati (32 tahun), seorang pekerja swasta di Jakarta Selatan, harus menghadapi situasi mengejutkan...

Kisah seorang perempuan asal Jakarta Selatan yang menderita stroke di usia 32 tahun awalnya mengira itu hanya penyakit mata

Seorang perempuan di Jakarta Selatan bernama Irene (32 tahun) menderita stroke saat usianya masih sangat muda.Awalnya Irene mengira gejalanya hanya pembengkakan mata biasa.

Seorang perempuan bernama Airin Stanyawati (32 tahun), seorang pekerja swasta di Jakarta Selatan, harus menghadapi situasi mengejutkan setelah ia didiagnosis menderita stroke pada pertengahan Januari 2026.

Erin mengatakan dia mengalami masalah otak karena terkena serangan jantung.Suatu kondisi yang terjadi secara tiba-tiba tanpa adanya 'peringatan' nyata sebelumnya.

"Iya, hari itu aku cuci muka pagi-pagi dan baru sadar kalau mata sebelahku kecil. Kukira cuma sakit mata. Biasanya kalau bangun tidur mataku bengkak." kata Irene kepada Detikcom, Minggu (2/1/2026).

Setelah itu, Irene mengaku mengabaikan rambu-rambu tersebut dan tetap beraktivitas seperti biasa.Namun, beberapa hal salah mulai terlihat.

"Setelah makan siang, pas naik ke atas, tiba-tiba ngantuk. Saya menguap lima kali sekaligus. Biasanya kalau orang menguap satu per satu dan besar-besaran seperti itu, kemungkinan otak kekurangan oksigen," kata Irene.

“Saya selalu ngobrol dengan teman karena lidah saya kaku sekali, jadi kalau bicara terasa seret,” lanjutnya.

Saat itu, Irene mulai menyadari ada yang aneh pada tubuhnya.Namun, dia tetap bekerja seperti biasa.

"Dari situ aku sadar kenapa lidahku terasa berat. Lalu aku kembali ke meja, saat aku membaca di meja, aku tersenyum saat membaca, tapi saat aku tersenyum tidak sinkron. Kanan dan kirinya tidak simetris," kata Irene.

"Dari situ aku mulai deg-degan dan panik. Lalu aku coba ngomong sama suamiku. Tapi kenapa banyak salah ketik, aku nggak tahu itu panik atau kejang," lanjutnya.

Infark miokard

Irene dibawa ke ruang gawat darurat (UGD) untuk diperiksa kondisinya.Ahli saraf melihat sesuatu yang aneh di wajah Irene dan awalnya mendiagnosisnya sebagai serangan iskemik transien (TIA).

"Ranap langsung [pergi ke RS] dan sorenya dia (dokter saraf) bilang akan langsung ke MRI. Lalu Ranap pasang infus. Pelan-pelan, bicaranya kembali normal," kata Irin.

Setelah menerima hasil MRI, Erin dan keluarganya mengetahui bahwa itu bukan TIA lagi, melainkan stroke.Ia menjalani perawatan lebih lanjut, termasuk angiografi pengurangan digital (DSA), yang kemudian menunjukkan adanya plak di pembuluh darah yang menuju ke otaknya.

Namun, pertarungan Eren tidak berhenti sampai di sini.Ia mengalami stroke kedua kalinya setelah menderita LMA, sehingga dokter menyarankan agar kondisi jantungnya diperiksakan ke dokter spesialis.

Katanya, ini tandanya hatimu berlubang, aku kaget, karena kamu masih kecil, tidak kecil, tidak kecil jika dilihat dari hati.

Di sinilah Erin didiagnosis menderita paten foramen ovale (PFO), atau lubang di jantung yang tidak menutup sebagaimana mestinya.Erin memutuskan menjalani operasi penutupan PFO.

Oleh karena itu, gumpalan darah tidak mengalir ke otak sehingga menyebabkan stroke, kata Airin.

"Sekarang sudah aman. Artinya tidak ada komplikasi dan tidak terasa apa-apa. Tidak ada yang aneh, tidak ada yang berbeda dengan jantungnya," ujarnya.

Your trusted source for the latest updates across news categories like Health, Games, Technology, and Sports.

© 2025 Suara Sumut, Inc. All Rights Reserved.