Seorang anak berusia 4 tahun meninggal karena demam berdarah di Puleng, Bali.Pada awal April 2026, jumlah kasus demam berdarah di wilayah tersebut telah mencapai 109 kasus.
DBD di Buleleng tembus 109 kasus, anak usia 4 tahun meninggal
Sabtu, 11 April 2026 |16:54 VIBSingaraja, - Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Buleleng Bali kembali memakan korban jiwa.Seorang gadis berusia empat tahun dari desa Banyuning di kabupaten Buleleng Bali meninggal setelah mengalami komplikasi serius akibat infeksi demam berdarah.
Kejadian ini menambah daftar kasus demam berdarah di wilayah tersebut yang pada awal April 2026 mencapai 109 kasus, menurut data Dinas Kesehatan.
Pasien datang dengan demam pada Kamis (2/4/2026).Keesokan harinya, Jumat (3/4/2026), pihak keluarga membawa korban ke ruang gawat darurat (IGD) RSUD Buleleng untuk mendapat perawatan.
Usai mendapat perawatan, korban diperbolehkan pulang.Namun karena kondisinya tak kunjung membaik, pihak keluarga membawa almarhum ke laboratorium pada Sabtu (4/4/2026) untuk dilakukan pemeriksaan darah.
Kondisi korban terus memburuk hingga Minggu (5/4/2026).Dia dibawa kembali ke ruang gawat darurat untuk pemeriksaan lebih lanjut, dan dokter mencurigainya menderita demam berdarah.
Pada Senin (6/4/2026), kondisi korban semakin parah dan harus mendapat perawatan oksigen di ICU.Tes menunjukkan bahwa jumlah trombosit korban telah menurun secara signifikan.
“Senin trombositnya turun menjadi 60.000 mcl, lalu Selasa pagi turun lagi menjadi 30.000 mcl. Siangnya dinyatakan meninggal,” kata ayah korban, Gede Andy Pradnyana, kepada wartawan, Sabtu (11/4/2026).
Petugas medis mengatakan korban menderita sindrom syok dengue (DSS), yaitu komplikasi serius dari demam berdarah yang dapat menyebabkan gangguan peredaran darah bahkan kegagalan organ.
Kepala Puskesmas III Buleleng, dr Siti Nurul Aisyah mengatakan, pihaknya menerima laporan kematian pasien dari rumah sakit pada malam hari.
Dia berkata, “Saya mendengar berita kematian dari rumah sakit pada malam tanggal 7 April.”
Dia menambahkan bahwa pejabat kesehatan masyarakat akan melakukan penyelidikan epidemiologi di sekitar korban untuk memperkirakan kemungkinan penularan lebih lanjut.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Bulelen Sucipto mengatakan, hingga awal April 2026 telah dilaporkan 109 kasus DBD di wilayah tersebut.
Menurut dia, kelompok usia produktif menguasai jumlah pemangku kepentingan.Namun kasus masih terjadi pada anak-anak dan anak kecil.
“Kelompok usia 15 hingga 44 tahun menyumbang sekitar 42,2% kasus, disusul kelompok usia 5 hingga 14 tahun sebesar 33%. Kasus masih ditemukan pada anak kecil,” ujarnya.
Lihat berita dan artikel lainnya di Google Berita
Ikuti yang terbaru di saluran WhatsApp.
Unik!Malta memberi Rp 400 juta kepada anak muda untuk berhenti mengemudi
