Beranda ›› Foto & Video ›› Terkait Kekerasan Terhadap Wartawan, AWAK Sibolga-Tapteng Minta Copot Kajari Sibolga

Terkait Kekerasan Terhadap Wartawan, AWAK Sibolga-Tapteng Minta Copot Kajari Sibolga

Sibolga, suarasumut.com  –  Kajari Sibolga Marihot Silalahi,SH memberi tuntutan ringan terhadap terdakwa pelaku kekerasan waratawan Deristan Malau.Sejumlah Aliasi Wartawan dan LSM Anti Kekerasan (AWAK) Sibolga Tapteng melakukan aksi protes secara besar-besaran di depan kantor Kejari Sibolga, Senin(1/6) sekira pukul 10.00 wib, terkait 6 bulan potong masa tahanan terhadap Kasi Pendidikan Agama Kemenag Tapteng, padahal antara korban kekerasan sama sekali tidak ada perdamaian/perundingan.

Maka itu, puluhan AWAK Sibolga Tapteng menilai Kajari Sibolga Marihot Silalahi dan Kasipiddumnya Herianto Siagian mengesampingkan penerapan hukum dalam menerapkan tuntutan terhadap terdakwa pelaku kekerasan (Deristan Malau-Red),

Dengan mengenakan toa serta spanduk dan karton, para awak media menyampaikan ungkapan hati mereka yang merasa tersakiti dengan ringannya tuntutan dari Kajari. Padahal sebagaimana diatur dalam Pasal 351 KHUP, pelaku tindak kekerasan ringan dituntut 2,8 tahun penjara.

“Kajari Sibolga telah melecehkan profesi wartawan, dan ini menjadi ancaman serius kepada kami wartawan didalammenjalankan tugas sehari-hari. Dengan ringannya tuntutan tersebut, maka keselamatan wartawan semakin terancam, karena orang akan beranggapan memukul wartawan tidak masalah karena ringan hukumannya. Padahal wartawan itu dilindungi oleh Undang-undang dan merupakan pilar pembangunan bangsa. Untuk itu kami meminta kepada bapak Kajatisu dan bapak Kajagung RI, agar segera mencopot Kajari Sibolga, karena tidak becus didalam menerapkan hukum,”tegas Toga Sianturi selaku wartawan harian.

Sementara itu Dominuis Hasibuan dalam orasinya mengatakan, bahwa ringannya tuntutan yang dikeluarkan Kajari kepada terdakwa Deristan Malau dicurigai ada permainan kotor. Pasalnya, waktu dipersidangan di PN Sibolga terungkap bahwa Kajari Sibolga belum menurunkan Rencana Tuntutan (Rentut) terdakwa Deristan Malau, sementara saat itu adalah sidang pembacaan tuntutan oleh JPU. Karena tidak turunya Rentut dari Kajari, sidangpun terpaksa ditunda.

“Dengan ditundanya sidang pembacaan tuntutan tersebut kita semakin curiga, ada apa dengan Kajari Sibolga dan Kasipidumnya yang tidak menurunkan Rentut?. Ternyata kecurigaan kita itu terbukti dengan ringannya tuntutan yang disampaikan Kajari terhadap terdakwa. Ini jelas ada permainan, karena sangat tidak logika seorang terdakwa yang melanggar Pasal 351 KUHP hanya dituntut 6 bulan penjara itupun dipotong masa tahanan. Parahnya lagi, antara terdakwa dengan korban tidak ada perdamaian. Seharusnya itu sudah memberatkan terdakwa, namun nyatanya jurstru diperingan oleh Kajari. Untuk itulah kami meminta kepada bapak Kajatisu dan Kajagung agar segera mencopot Kajari dan Kasipidum Kejari Sibolga, karena tidak pantas untuk menerapkan hukum dengan baik dan benar,”teriak Hasibuan

Para awak media yang terdiri dari berbagai terbitan ini mengecam perlakuan Kajari Sibolga yang sudah melecehkan profesi wartawan, dan ini menjadi ancaman buruk bagi kebebasan Pers, mengingat pasal yang dituntutkan kepada terdakwa pasal berlapis, yakni pasal 351, pasal 406 dan UU Pers nomor 40 tahun 1999. Namun nyatanya, Kajari berani menuntut terdakwa hanya tuntutan 6 bulan dipotong masa tahanan.

Usai menyampaikan orasinya, para awak media dan kalangan LSM menolak ajakan dari pihak Kejari untuk bertemu di ruangannya. Para Insan Pers ini menilai tidak ada guna bertemu dengan Kajari Sibolga yang sudah melukai hati wartawan dengan tuntutan yang melecehkan korps mereka.

“Kami tidak butuh bertemu dengan Kajari Sibolga, bagi kami Kajari Sibolga telah ikut melakukan kriminalisasi Pers. Dan hanya ada satu kata, Kajari Sibolga dan Kasipidumnya harus dicopot. Jika tuntutan kami ini tidak digubris, wartawan akan demo di Kajari Sibolga, dan juga di Kejati serta Kejagung, karena ini menyangkut masa depan kami selaku Pers,”kata Jason Gultom selaku korban pemukulan sebelumnya di Kantor Kemenag Tapteng.

Sebagaimana ramai diberitakan media, bahwa terdakwa pelaku kekerasan terhadap Pers, Deristan Malau, melakukan kekerasan terhadap wartawan Jason Gultom yang melakukan konfirmasi di Kemanag Tapteng sekaitan belum turunya sertifikasi guru agama di Kemenag Tapteng. Diduga ada praktik pungli di Kemenag Tapteng terkait proses pengurusan sertifikasi guru. Hal itulah yang dikonfirmasi kepada terdakwa yang berujung terhadap pemukulan kepada wartawan yang mengakibatkan kamera wartawan rusak, korban terpaksa dirawat di RSU Pandan selama 4 hari.

Sementara itu pihak Polres Tapteng dan Kejari Sibolga sudah menetapkan 3 pasal bagi terdakwa, yakni pasal 351 penganiayaan, pasal 406 pengrusakan, UU Pers Tahun 1999. Namun kenyataan Kajari Sibolga hanya menuntut terdakwa 6 bulan penjara dipotong masa tahanan. Dan kini terdakwa bebas melakukan kegiatannya sebagai Kepala Seksi di Kemenag Tapteng, karena status tahanan kotanya. Sedangkan dari pimpinan Deristan baik itu dari Kakan Kemenag Tapteng dan juga Kakanwil Kemenag Sumut tidak ada kepada terdakwa.(ph/ss/sb)

Lihat Juga

PD Gerakan Pemuda Alwashliyah Labusel Dilantik

Labusel | suarasumut.com  –  Pengurus Pimpinan Daerah Gerakan Pemuda Alwashliyah (GPA) Kabupaten Labuhanbatu Selatan dilantik …

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.