Beranda ›› Headline ›› Terindikasi Dikriminalisasi, Peradi Berikan Bantuan Hukum Pada Monalisa

Terindikasi Dikriminalisasi, Peradi Berikan Bantuan Hukum Pada Monalisa

Rantauprapat, suarasumut.com – Dalam suasana kegalauan karena tidak memahami proses hukum yang menjeratnya, akhirnya terdakwa Monalisa yang masih berstatus mahasiswi di salah satu perguruan tinggi swasta di Kabupaten Labuhanbatu dapatkan bantuan hukum dari Perhimpunan Advokat Indonesia (Paradi). Didasari rasa kemanusiaan dan keadilan, Jekson Nababan,SH.

Pantauan suarasumut, Selasa (7/4), sekitar pukul 14.45 wib, anggota Peradi, Jekson Nababan SH yang sering beracara di Pengadilan Negeri (PN) Rantauprapat berikan bantuan hukum kepada terdakwa Monalisa. Dimana, Monalisa didakwa Pasal 365 ayat (2) ke-2 Junto Pasal 368 KUHP dengan ancaman pidana penjara 12 tahun.

Dikonfirmasi di ruang tahanan perempuan PN Rantauprapat, Monalisa menyebutkan, dirinya merasa sangat lega atas kesediaan Jekson Nababan anggota Peradi itu. Menurutnya, tanpa ada bantuan hukum atau pengacara yang mendampinginya di persidangan, dirinya akan sulit untuk melakukan pembelaan dan mengungkap fakta yang sebenarnya.

“Saya tidak kuasa melakukan pembelaan di persidangan bang. Apa hak dan bagaimana untuk mendapatkan hak juga saya tidak tahu. Dengan bantuan bapak Jekson Nababan, saya yakin bapak itu dapat membantu saya untuk menghadirkan saksi-saksi yang mengetahui proses peralihan handphone ke tangan polisi (penyelidik,red) hingga ke tangan hakim,” kata Monalisa.

Kronologi Versi Terdakwa Monalisa

Menurut Monalisa, pada tanggal 24 februari 2015 sekitar pukul 14.30 wib, sepeda motor yang dikendarinya bersama terdakwa Pspt berusia 16 tahun (berkas terpisah) kehabisan bensin di jalan Menara, Kelurahan Siringo-ringo, Kecamatan Rantau Utara, Kabupaten Labuhanbatu. Saat itu, korban berinisial Fsrh (16) juga melintas ditempat tersebut dimintai uang sebesar Rp10 ribu untuk membeli bensin. “Korban mengaku gak punya uang dan Pspt mau mengambil handphone korban (Fsrh) di bagasi (sepeda motor) namun tak jadi diambil karena korban memukul tangan Pspt. Tak dapat uang, korban kami suruh pergi,” kata Monalisa.

Naasnya bagi Monalisa dan Pspt, berselang 1 jam kemudian, Fsrh bersama ibunya bernama Irma Suryani (45) mendatangi mereka di lokasi kejadian semula dengan mengendari sepeda motor. Melihat gelagat tidak baik tersebut, Monalisa melajukan sepeda motor mereka ka arah jalan Torpisangmata hingga akhirnya terperosok di selokan di simpang jalan Padan Bulan. “Baju kami berdua ditarik ibunya dan tak berselang berapa lama, rombongan Polisi yang juga mengkuti kami pun tiba. Kami langsung di naikan ke mobil dan dibawa langsung ke Polres,” sebut Monalisa.

Lanjut Monalisa, kejanggalan proses penangkapannya sudah dirasakan sejak diperiksa di ruang Sentral Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polres Labuhanbatu, dimana handphone sebagai objek perbuatan pencurian tersebut diterima pihak Penyelidik dari korban. Saat itu, pihak penyelidik meminta kepada Fsrh agar meninggalkan handphone tersebut untuk dijadikan bukti. “Yang menyaksikan kejadian itu Pspt, ibu dan bapak saya. Handphone diminta Polisi dari korban agar ditingalkan,” jelas Monalisa.

Sekedar untuk diketahui, sepekan lalu dalam sidang keterangan saksi korban Fsrh, ibunya Irma Suryani, dan Pspt (terdakwa dalam berkas terpisah) telah diperiksa Majelis Hakim, Jhonson FE Sirait, Mince, dan Iqbal. Pada persidangan tersebut, baik Jaksa Penuntut Umum (JPU), Erna maupun Majelis Hakim tidak menggali keterangan untuk mengungkap fakta peralihan handphone milik Fsrh ke tangan penyelidik hingga ke tangan Majelis Hakim.

“Hanphone ini ada disini karena pernah diambil,” kata Jhonson FE Sirait setelah Fsrh memberikan keterangannya tidak mengetahui factor penyebab handphone miliknya berada ditangan hakim.

Berdasarkan dakwaan, Monalisa didakwa melakukan perbuatan pidana pencurian dan pemerasan disertai kekerasan sebagaimana dimaksud Pasal 365 ayat (2) ke-2 Junto Pasal 386 ayat (2) KUHPidana dengan ancaman pidana penjara 12 tahun. Padahal, sesuai Pasal 89 KUHPidana, kekerasan yang dimaksud adalah perbuatan yang mengakibatkan orang pingsan atau tidak berdaya. “Diikuti sajalah persidangannya,” dalih Erna saat disebutkan, apakah pemukulan terhadap di kepala korban yang saat itu memakai helm dikategorikan sebagai perbuatan kekerasan. (ls/ss/lb)

Lihat Juga

Danramil 09/Sirombu Turut Sukseskan Program KB Manunggal

Nias Barat | suarasumut.com  –  Beberapa tahun belakangan pemerintah melibatkan TNI dalam mensukseskan program KB …

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.