Beranda ›› Foto & Video ›› Terdakwa Miliki Sabu-Sabu 31,46 Gram Divonis 1 Tahun, Majelis Hakim Armansyah Siregar Cs Abaikan Rasa Keadilan

Terdakwa Miliki Sabu-Sabu 31,46 Gram Divonis 1 Tahun, Majelis Hakim Armansyah Siregar Cs Abaikan Rasa Keadilan

Rantauprapat, suarasumut.com – Sontak masyarakat Kabupaten Labuhabatu resah atas putusan Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Rantauprapat, Armansyah Siregar SH MH, Jhonson FE Sirait SE, dan Mince S Ginting yang memvonis Syirwan Sabran Ambarita 1 tahun pidana penjara. Pasalnya, putusan Majelis Hakim atas kepemilikan 31,46 gram sabu-sabu itu tidak mencerminkan rasa keadilan dan tidak mendukung program pemerintah dalam pemberantasan narkoba.

Kepada ssuarasumut.com, Senin (22/6) tokoh muda Kabupaten Labuhanbatu, Marulin Hasbi Hasibuan (36) menyebutkan, putusan perkara terdakwa yang tertangkap tangan memiliki, menyimpan sabu-sabu seberat 31,46 gram merupakan putusan lembaga peradilan yang tidak mencerminkan rasa keadilan. Dia ragu terhadap Hakim di PN Rantauprapat akan menerapkan hukum yang sama dengan terdakwa lainnya.

“Seluruh lapisan masyarakat sudah tau terdakwa merupakan target jajaran Polres Labuhanbatu sejak tahun 2013 dan tertangkap tangan menyimpan sabu-sabu di bulan Desember tahun 2014. Mungkinkah Hakim di Pengadilan Negeri Rantauprapat juga menerapkan hukum yang sama dengan masyarakat sipil yang merupakan korban penyalahgunaan narkoba,” kata Marulin Hasbi Hasibuan.

Lanjut Marulin Hasbi Hasibuan, saat ini Pemerintah RI yang dipimpin Presiden RI, Joko Widodo sedang gencar-gencarnya memberantas peredaran narkoba dengan menerapkan hukuman mati terhadap pengedar narkoba. Oleh sebab itu, lanjut Marulin Hasbi Hasibuan, dirinya mengkhawatirkan putusan Hakim PN Rantauprapat itu tidak menimbulkan efek jera bagi pengedar narkoba di Kabupaten Labuhanbatu. “Seluruh lapisan masyarakat di NKRI bahkan seluruh bangsa yang tergabung dalam Perserikatan Bangsa Bangsa telah menyoroti kebijakan Presiden RI dalam pemberantasan narkoba atas penerapan hukuman mati. Ancaman dari Australia juga dihadapi Presiden RI, tapi mengapa di Pengadilan Rantauprapat malah tidak mendukung program pemerintah,” sebut Marulin Hasbi Hasibuan sembari menyebutkan rasa kekhawatiran efek jera bagi pengedar narkoba di Kabupaten Labuhanbatu.

Hal senada juga disampaikan praktisi hukum yang berprofesi sebagai pengacara, Ricardo Aritonang SH menyebutkan, adanya putusan PN Rantauprapat yang memvonis terdakwa 1 tahun pidana penjara, sementara Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Rantauprapat menuntut 14 tahun pidana merupakan bentuk ketidak adilan yang tidak sama dengan terdakwa-terdakwa lainnya. “Harapan kita, Hakim melihat aspek rasa keadilan yang berlaku di tengah-tengah masyarakat dan memberikan dukungan terhadap program pemerintah dalam pemberantasan narkoba. Rasa keadilan dapat dilihat dari beberapa aspek, diantaranya penerapan hukuman kepada pelaku-pelaku lainnya yang dihukum dengan putusan diatas itu,” kata Ricardo Aritonang melalui selulenya.

Menurut Ricardo Aritonang, hukuman minimal yang ada pada Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2009 tentang Narkotika ditujukan kepada JPU dan bukan ditujukan kepada Hakim. Ricardo Aritonang secara tegas menyebutkan, sekalipun Hakim memiliki kewenangan memutus perkara sesuai dengan keyakinannya, namun harus tetap memperhatikan aspek keadilan. “Hukuman maksimal dan hukuman minimal itu untuk Jaksa, dituntut sesuai batas hukuman maksimal dan minimalnya. Hakim boleh memutus diatas ataupun dibawah tuntutan, tapi harus tetap melihat aspek rasa keadilan,” tegas Ricardo Aritonang.

Humas yang juga Wakil Ketua sekaligus Koordinator Pengawas PN Rantauprapat, R Aji Suryo SH MH yang dikonfirmasi lanjutan terlihat ogah-ogahan menanggapinya. Menurut R Aji Suryo, pemberitaan yang ditunjukan kepadanya yang berjudul “Miris! Dituntut 14 Tahun, Terdakwa Sabu-Sabu 30 Jee Hanya Divonis 1 Tahun” merupakan pemberitaan yang cukup bagus. “Bagus ini,” kata R Aji Suryo enteng tanpa sedikitpun menunjukan beban tanggungjawab selaku Koordinator Pengawas di PN Rantauprapat.

Secara terpisah, Humas Pengadilan Tinggi Medan, Bangun Ginting SH yang dikonfirmasi via short massage service (SMS) hingga berita ini dikirim ke meja redaksi belum memberikan berhasil dimintai tanggapannya. Sesuai SMS balasan yang dikirimkannya, Humas Pengadilan Tinggi itu akan menghubungi balik. “Nanti saya telepon balik,” kata Bangun Ginting via SMS.
JPU Kejaksaan Negeri Rantauprapat Banding

Putusan Majelis Hakim Armansyah Siregar Cs yang memvonis terdakwa Syirwan Sabran Ambarita yang merupakan anggota Polri di Resor Labuhanbatu bagian Sabhara itu memaksa JPU Kejaksaan Negeri Rantaupat untuk melakukan perlawanan hukum banding ke Pengadilan Tinggi Medan. Pasalnya, dari 14 tahun pidana penjara yang dituntut itu seolah-olah sedang “menelanjangi” kinerja mereka.

JPU Susi Sihombing SH yang dikonfirmasi di PN Rantauprapat mengaku mereka telah mengajukan permohonan banding. Menurut Susi Sihombing, memori banding perkara terdakwa Syirwan Sabran Ambarita akan segera mereka kirimkan. “Sudah diajukan permohonan banding. Memori bandingnya menyusul,” kata Susi Sihombing singkat.

Sekedar untuk diketahui, Syirwan Sabran Ambarita merupakan target operasi (TO) jajaran Polres Labuhanbatu sejak tahun 2013, namun baru tertangkap pada 3 Desember 2014 lalu di Lingkungan Lingga Tiga Desa Lingga Tiga Kecamatan Bilah Hulu Kabupaten Labuhanbatu. Saat konferensi Pers yang dipaparkan oleh Waka Polres Labuhanbatu, Kompol Sony Nugroho mengakui terdakwa Syirwan merupakan anggota Polri di Resor Labuhanbatu bagian Sabhara. “Tersanka sudah lama jadi TO kita. Ini baru tertangkap atas informasi yang disampaikan oleh masyarakat,” kata Kompol Nugroho yang saat itu masih menjabat sebagai Waka Polres Labuhanbatu.

Pada pemeberitaan sebelumnya, JPU Kejaksaan Negeri Rantauprapat, menjerat terdakwa Syirwan dengan dakwaan primer Pasal 114 ayat (2) dan subsider ke-1 Pasal 112 ayat (2) dan ke-2 Pasal 111 ayat (1) UU No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Sesuai fakta persidangan, akhirnya JPU menuntut terdakwa Syirwan Sabran Ambarita dengan dakwaan subsider dengan tuntutan 14 tahun pidana penjara.

Sesuai berita acara penimbangan barang bukti Nomor : 514/JL.10102/2014 tanggal 04 Desember 2014 yang ditandatangani oleh Joko Sukendro diketahui, hasil taksiran timbangan terhadap barang bukti yakni, 2 bungkus plastik klip dengan berat brutto 31,46 gram dan berat netto 31,46 gram. Sementara, 1 butir pil dengan berat netto 0,28, dan 1 batang rokok Sampoerna dengan berat netto 1,06 gram.

Oleh Majelis Hakim, Armansyah Siregar, Jhonson FE Sirait, dan Mince S Ginting, pada tanggal 16 Juni 2015 lalu, terdakwa Syirwan Saban Ambarita divonis dengan hukuman 1 tahun pidana penjara. (ls/ss/lb)

Lihat Juga

PD Gerakan Pemuda Alwashliyah Labusel Dilantik

Labusel | suarasumut.com  –  Pengurus Pimpinan Daerah Gerakan Pemuda Alwashliyah (GPA) Kabupaten Labuhanbatu Selatan dilantik …

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.