Beranda ›› Umum ›› Protes Penolakan Proyek Dermaga Diabaikan, Warga Ancam Akan Demo Ke DPRD Sumut

Protes Penolakan Proyek Dermaga Diabaikan, Warga Ancam Akan Demo Ke DPRD Sumut

Rantauprapat, suarasumut.com  –  Kesal karena aksi protes penolakan pembangunan dermaga tidak ditanggapi oleh Pemerintah kecamatan dan Kabupaten, Warga di dusun Harapan, desa Tanjung Sarang Elang, Kecamatan Panai Hulu, mengancam akan melakukan aksi protes ke Kantor DPRD Provinsi Sumatera Utara.

“Tanggal 8 oktober kemarin warga sudah protes agar proyek pembangunan dermaga itu tidak dilanjutkan.Tapi, pihak rekanan PT.Hari beserta pemerintah kecamatan dan kabupaten hingga hari ini tidak menanggapi. Makanya, kita akan berencana demo ke Kantor DPRD Sumut dalam waktu dekat ini. Agar mereka tahu kondisi bangunan proyek itu tidak bisa dilanjutkan,” ungkap Aran (40) salah seorang pengusaha Angkutan boat kepada wartawan, Senin (19/10).

Menurutnya, bangunan fisik proyek yang sudah sempat dikerjakan 40 persen itu dikahwatirkan tidak kuat. Sehingga, para pengguna dermaga takut terjadi musibah dikemudian hari.

“Jika proyek bangunan itu bagus dan kokoh, kami warga disini pasti mendukung pembangunan dermaga itu. Tapi, karena kondisinya baru beberapa hari dikerjakan sudah retak-retak, ya warga disini menjadi takut jika kedepannya dermaga itu roboh dan menelan korban jiwa. Makanya, warga disini ngotot ingin menyampaikan aspirasi ke kantor DPRD Sumut,”terang Aran.

Selain berencana akan menyampaikan Aspirasi Ke DPRD SU, Aran bersama warga lainnya juga akan menyurati pihak kementrian Perhubungan agar turun ke Lokasi untuk melihat kondisi pembangunan proyek dermaga.

“Kita tidak tahu, siapakah yang salah dalam hal ini apakah PPTK, konsultan perencanaan, kontraktor pelaksana, konsultan pengawas. Sebab, semua pihak terdiam, protes warga dibiarkan. Makanya, kita rencanakan akan menyurati kementrian perhubungan,” tutupnya.

Sebelumnya,pembangunan Proyek Dermaga sungai di dusun harapan, desa Tanjung Sarang Elang, kecamatan Panai Hulu Diprotes Ratusan warga sekitar. Pasalnya, Proyek APBN dari Dinas Kementrian Perhubungan Darat, satuan pengembangan LLASDP Sumatera Utara itu, yang dikerjakan pihak kontraktor PT.Hari dengan jumlah anggaran Rp 5,8miliyar tahun 2015 di nilai asal jadi.

Sebagai bentuk protes, dilokasi bangunan proyek itu ratusan warga melakukan orasi dan membentang spanduk serta Poster bertuliskan ” tangkap kontraktor nakal, pembangunan ini dari uang rakyat, proyek ini asal jadi, kami minta dinas terkait untuk melakukan peninjauan ulang pembangunan ini.

Kemis selaku Kepala Dusun yang juga turut serta menandatangi sebagai bentuk penolakan tersebut sangat menyesalkan atas ketidak seriusan pihak kontraktor dalam membangun proyek dermaga. sebab, menurutnya selain tidak tepat sasaran dalam pengerjaan proyek yang menggunakan uang rakyat itu , juga dalam pelaksanaannya dinilai menyimpang karena diduga banyak ditemukan pengurangan Volume.

“Kita bukannya tidak senang dengan program Pemerintah dalam membangun dermaga ini, namun seharusnya pihak kontraktor sebagai pemenang tender serius mengerjakannya. jangan asal jadi seperti ini, baru hitungan hari sudah terlihat bangunan retak dan di saat air pasang bangunan kantornya tengelam sekitar setengah meter. jangan hanya membangun tanpa jelas fungsi dan kegunaannya, ini namanya mubajir,”keluhnya.

Selain itu, Kemis mengaku khawatir dengan proyek dermaga yang dibangun tersebut akan terkesan sia-sia dan dikhawatirkan tidak berfungsi.

“Kami khawatir proyek ini tidak berfungsi sepeti proyek bangunan dermaga yang ada di Sei Piandang dan Kampung Sipirok Desa Selat Besar. Dimana, dermaga tersebut terbengkalai dan tidak berfungsi. Jadi, Orasi ini kami lakukan sebagai bentuk kekecewaan terhadap pihak pengawas dan perwakilan kontraktor yang sudah berulang kali kami tegur agar meterial banguanan nya diperbaiki namun tidak diperdulikan,”ungkapnya.

Sementara itu, salah seorang perwakilan proyek mengaku tidak mengetahui jika proyek dermaga yang dibangun itu terkesan dikerjakan asal jadi.

”Kami tidak tahu dan tidak mengerti pak. soalnya PPK dan Pengawas lagi di Medan, jarang berada di tempat,”ucap Bayu salah satu suplayer pengadaan barang dalam proyek itu.

Informasi yang di himpun dari sejumlah warga yang melakukan unjuk rasa, proyek tersebut diduga tidak menggunakan tapak kuda atau pondasi, hanya cerucuk sepanjang satu meter yang ditanam. Setelah itu, di pasang batu padas. Dan selanjutnya dipasang besi angkernya yang tidak sesuai ukurannya, sehingga Hanya hitungan hari proyek bangunan tersebut sudah tampak jebol dan retak-retak.(ab/ss/rp)

Lihat Juga

PD Gerakan Pemuda Alwashliyah Labusel Dilantik

Labusel | suarasumut.com  –  Pengurus Pimpinan Daerah Gerakan Pemuda Alwashliyah (GPA) Kabupaten Labuhanbatu Selatan dilantik …

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.