Beranda ›› Citizen Journalism ›› Pasutri Yang Terlindas Hak Otoritas Gereja
Jamiaten Sihombing dan isterinya Parulian br Lumbanraja

Pasutri Yang Terlindas Hak Otoritas Gereja

Jamiaten Sihombing dan isterinya Parulian br Lumbanraja
Jamiaten Sihombing dan isterinya Parulian br Lumbanraja

Aek Kanopan, suarasumut.com – Masih terngiang dipikiran melaui ingatan akan kematian putra ke 4 dari 5 bersaudara, anak pasangan suami istri yang disebut-sebut sebagai kematian yang tidak wajar oleh lembaga Gereja tempat mereka beribadah dan bersekutu.

Awal dari peristiwa kematian putra dari pasangan Jamiaten Sihombing (54) dan isterinya Parulian br Lumbanraja (51) alamat Aek Pamingke Kec. Aek Natas, pekerjaan petani ini menurut informasi yang dituturkan Pasutri ini tidak ada tanda-tanda anaknya akan menghabisi nyawanya sendiri dengan meminum racun.

Sebab pada tangal 8 Januari 2014 lalu pada pkl 17.00 wib saat diantar ke RSU TIGA BERSAUDARA Kota Batu Kec NA IX-X Kab. Labura tidak begitu mengkhawatirkan. Hanya, anak mereka menunjukkan sedikit lemah dan tidak bergairah karena saat sebelum diantar ke RSU hanya mendapati anaknya muntah di lantai tanpa menunjukkan turunnya kondisi anak. Terbukti ujar Ibu si korban saat diantar ke RSU masih dapat berjalan dan jarak tempuh dari rumah ke RSU ±15km dan saat diperjalanan si korban tidak menunjukkan kelainan.

Berselang beberapa jam kemudian setelah si korban di rawat di RSU itu datanglah salah satu Pengurus Geraja HKBP Pamingke yang menjabat sebagai Guru Jemaat di Gereja tersebut. Dari hasil yang didapati oleh guru jemaaat penyebab opnamenya si Krisandi dikarenakan keracunan dan pengakuan guru jemaat (Marwan Simanjuntak) mengatakan bahwa anak pasangan suami istri dari Jamiatene dan Parulian br Lumbanraja langsung dari pengakuan anaknya Krisandi beberapa waktu lalu telah meminum cairan yang mengandung racun yang biasanya dipergunakan untuk membasmi lalang dan rumput.

Maka pada tanggal 9 Januari 2014 (alm) meninggal dunia dan dikebumikan pada tangal 10 Januari 2014. Keterlibatan guru jemaat inilah yang menjadi persoalan dan tanda tanya buat pihak keluarga dari pasangan suami istri ini yang hingga saat ini menimbulkan persoalan.

Menyikapi persoalan ini pihak pengurus gereja HKBP Pamingke seperti yang dituturkan oleh Pdt. Pasier Aritonang S.Th, “jika memang anak dari sdr Jamiaiten Sihombing yang diakuinya sebagai jemaatnya ternyata meninggal dunia beberapa bulan lalu bukan karena bunuh diri, yang bertanggungjawab dalam keputusan ini adalah guru jemaat, bukan saya. Sebab tugas saya hanya menerima laporan dan bagi saya pendapat dan keterangan guru jemat adalah suatu kebenaran“, ujarnya.

Lanjutnya lagi, “Prosedurlah yang kami turuti, jika ada warga jemaat yang meninggal dunia karena bunuh diri tidak mendapat berkat doa acara Sakramen dari gereja melalui pengurus gereja baik pendeta dan guru jemaat dan disinggung walaupun ada bukti akurat“, tambah pendeta.

Berupa hasil forensik maupun melalui rekam medis yang menyebutkan akibat kematian seseorang itu tidak ada indikasi bunuh diri bukanlah menjadi alat pembuat keputusan, akan tetapi jika ditanya pada si korban pada saat menjalani perawatan mengatakan penyebab penyakit hingga kondisi buruk yang dialaminya hingga nantinya dapat mengakibatkan kematian itulah yang menjadi patokan. Karena yang bertanya pada korban adalah pengurus gereja dalam hal ini guru jemaat. “Jadi sekali lagi ujar pendeta jika nantinya ini menjadi persoalan yang bertanggungjawab sebenarnya adalah guru jemaat (Marwan simanjuntak) bukan saya”.

Lain lagi pendapat guru jemaat HKBP PAMINGKE (Marwan simanjuntak), menurutnya dan bersikukuh bahwa Alm. Krisandi meninggal dikarenakan meminum cairan yang mengandung racun khusus racun rumput. Jika hal ini tetap dipersoalkan oleh keluarga besar Jamaiten Sihombing silahkan mengadu kemanapun, karena bagi kami persoalan ini sudah selesai,” ujarnya.

Atas sikap dan tindakan kedua pengurus gereja terhadap keluarga Sihombing ini mengatakan tindakan dan jawaban para pengurus gereja terlebih guru jemaat Marwan Simanjuntak tidak berperikemanusiaan. Seakan anak saya ditentukannya seekor binatang tidak memiliki keyakinan atau agama hingga saat meninggal ditanam tanpa di Sakramen. Kalau secepatnya pengaduan kami ditanggapi oleh penjabat pareses saat itu yang kami temui di Rantauprapat yang hingga saat ini tidak ada penyelesaian maka kami mengharapkan pendeta dan guru jemaat di pindahkan saja dari bumi Labura. Sebab nantinya warga jemaat lainnya mendapat kekecewaan.

Lihat Juga

Danramil 09/Sirombu Turut Sukseskan Program KB Manunggal

Nias Barat | suarasumut.com  –  Beberapa tahun belakangan pemerintah melibatkan TNI dalam mensukseskan program KB …

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.