Beranda ›› Foto & Video ›› Majelis Hakim Langgar KUHAP, Ketua PN Rantauprapat Bungkam

Majelis Hakim Langgar KUHAP, Ketua PN Rantauprapat Bungkam

Rantauprapat, suarasumut.com – Pertimbangan Majelis Hakim yang memeriksa Nomor 156/PID.B/2015/PN Rap yang menghukum terdakwa Monalisa Nasution masih simpang siur. Pasalnya, Ketua Pengadilan Negeri (PN) Rantauprapat masih bersikap bungkam atas konfirmasi tertulis yang ditujukan kepadanya, sekalipun Majelis Hakim yang memeriksa terindikasi melanggar hak asasi manusia yang diatur KUHAP.

Informasi yang dihimpun suarasumut.com hingga Senin (8/6), Majelis Hakim Armansyah Siregar SH MH, Jhonson FE Sirait SH, dan Mince S Ginting SH tidak memeriksa barang bukti dan alat bukti perkara terdakwa Monalisa Nasution sebagaimana diatur dalam KUHAP. Hingga agenda pengucapan putusan, Majelis Hakim hanya menghadirkan barang bukti handphone. “Sepeda motor ini milik (terdakwa) Pspt. Kereta korban dimana, kenapa tidak ada dalam daftar barang bukti,” kata Megawati br Sitorus menunjukan Surat Putusan Nomor 156/PID.B/2015/PN Rap yang diterimanya.

Selain itu, Majelis Hakim itu juga tidak menggali pembuktian terjadinya proses pemerasan dengan kekerasan sesuai Pasal 368 KUHPidana. Dimana, baik saksi korban maupun saksi mahkota, uang Rp10 ribu sebagai pokok perkara secara terang dan tegas dinyatakan tidak terjadi dikarenakan korban tidak memiliki uang. “Itu Wakil Ketua,” kata Ketua PN Rantauprapat, Tumpal Sagala SH MH sembari menunjuk Wakil Ketua, R Aji Suryo SH MH.

Anehnya, R Aji Suryo malah mengaku baru mengetahui adanya surat konfirmasi tertulis yang ditujukan kepada Ketua PN Rantauprapat sejak tanggal 18 Mei 2015 lalu itu. Menurut dia, surat konfirmasi tertulis sudah dijawab oleh Majelis Hakim yang diketuai Armansyah Siregar SH MH ternyata surat pengaduan dari LSM. “Kita tidak tau apa masalahnya. Oh enggak,” kata R Aji Suryo saat disebutkan indikasi Ketua PN Rantauprapat memperlambat proses disposisi surat dimaksud.

Menurut R Aji Suryo, konfirmasi tertulis kepada Ketua PN Rantauprapat itu akan dijawab langsung oleh Majelis Hakim yang meriksa perkara. Namun ditanya tentang kewenangan Hakim Anggota memimpin persidangan, R Aji Suryo enggan memberikan jawaban. “Saya gak bisa menjawabnya. Saya Tanya dulu hakimnya, apa memang seperti itu,” jawab R Aji Suryo mengelak.

Parahnya lagi, salinan putusan perkara nomor 156/PID.B/2015/PN Rap yang telah diputusa sejak 13 Mei 2015 itu tak kunjung diupload di website PN Rantauprapat. Hal tersebut mengakibatkan pertimbangan hukum Majelis Hakim yang memvonis Monalisa Nasution 8 bulan pidana penjara tidak berani disampaikan Humas PN Rantauprapat, M Iqbal FJ Purba SH MH. “Harus berdasarkan putusanlah. Besoklah salinan putusan itu,” kata M Iqbal FJ Purba.

Pada pemberitaan sebelumnya, kasus yang menjerat Monalisa bermula pada tanggal 24 Februari 2015 sekitar pukul 14.30 WIB di jalan Menara, Kelurahan Siringo-ringo, Kecamatan Rantau Utara, Kabupaten Labuhanbatu. Saat itu, sepeda motor yang dikendarai Monalisa bersama Pspt (terdakwa dalam berkas terpisah) mogok karena kehabisan bensin.
Saat itu, Pspt dan Monalisa meminta uang Rp10 ribu kepada Fsrh yang sedang melintas di lokasi yang sama. Namun karena Fsrh mengaku tidak memiliki uang, Pspt mengambil handphone korban yang diletakan di bagasi depan (terbuka,red) sepeda motor milik korban.

Usai handphone dikuasai, Monalisa mengajukan kembali permintaan uang Rp10 ribu kepada korban untuk mengisi bensin sepeda motor yang dikendarinya bersama Pspt. Karena Fsrh tetap mengaku tidak punya uang, Monalisa memukul (tangan kosong,red) kepala korban yang saat itu masih menggunakan helm dikepalanya, dan handphone dikembalikan kepada korban.

Namun naas, sekitar pukul 15.30 WIB, dengan mengendarai sepeda motor, Fsrh yang ditemani ibunya mendatangi kembali Monalisa dan Pspt di TKP. Melihat gelagat buruk itu, Monalisa dan Pspt melarikan diri hingga akhirnya ditangkap di Simpang Jalan Padang Bulan, Kelurahan Padang Bulan, Kecamatan Rantau Utara, Kabupaten Labuhabatu.

Tak berselang berapa lama, dengan mengendarai mobil Patroli, satuan Polri Resor Labuhanbatu tiba di lokasi penangkapan Monalisa dan Pspt dan membawanya ke Polres Labuhanbatu untuk diperiksa. Sesuai keterangan terdakwa Monalisa dan Ibunya, Megawati br Sitorus, serta tidak dibantah Kasipidum, Alan Baskara, barang bukti handphone diserahkan korban kepada anggota Polri di Resor Labuhanbatu. “Handphone yang dituduh kami curi, korban sendiri yang menyerahkan kepada polisinya,” kata Monalisa beberapa waktu lalu di ruang sel PN Rantauprapat

Jaksa Penuntut Umum (JPU), Erna yang dikonfirmasi di kantor Kejaksaan Negeri Rantauprapat menyebutkan, dalam perkara yang menjerat Monalisa, mereka hanya memiliki 1 barang bukti, yakni handphone milik korban Fsrh. Bahkan Erna secara tegas menerangkan, visum et revertum tidak ada. “Hanya handphone,” jawab Erna dengan tegas. (ls/ss/lb)

Lihat Juga

PD Gerakan Pemuda Alwashliyah Labusel Dilantik

Labusel | suarasumut.com  –  Pengurus Pimpinan Daerah Gerakan Pemuda Alwashliyah (GPA) Kabupaten Labuhanbatu Selatan dilantik …

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.