Beranda ›› Foto & Video ›› Istri Meninggal, Suami Korban Surati Direktur RSU Gunungsitoli

Istri Meninggal, Suami Korban Surati Direktur RSU Gunungsitoli

Gunungsitoli | suarasumut.com — Hondianus Harefa, SE, MM (40), warga Desa Faekhu, Kota Gunungsitoli melayangkan surat keberatan atas pelayanan Rumah Sakit Gunungsitoli yang menyebabkan istrinya Alm.Yulisa Budi Lestari Larosa meninggal dunia setelah menjalani kurek di RSU Gunungsitoli, Rabu (9/9).

Hondianus menduga kematian istrinya merupakan kelalaian pihak RSU Gunungsitoli atau dr.Fatolosa Panjaitan, Sp.OG, dan akan menempuh jalur hukum apabila surat keberatan yang dilayangkan tanggal 1 Oktober dan tanggal 22 Oktober 2015 tidak ditanggapi pihak RSU Gunungsitoli.

Ketika ditemui wartawan, Rabu (28/10), Hondiaman memberitahu, sebelum meninggal di RSU Gunungsitoli (9/9), istrinya sehat sehat saja. Bahkan istrinya telah melakukan kontrol janin kepada dr.Romi, Sp.OG pada tanggal 20 Agustus 2015, dan janin dalam rahim istrinya dinyatakan sehat.

Pada, Rabu (9/9), istrinya mendatangi RSU Gunungsitoli untuk memeriksa dan memastikan kembali kesehatan janin yang ada dirahimnya. Namun, usai di USG, dr.Fatolosa Panjaiatan, Sp.OG menyatakan janin yang ada dalam rahim istrinya tidak bernyawa dan istrinya mengalami keguguran.

Istrinya dianjurkan untuk dikurek, padahal istrinya baru beberapa bulan lalu menjalani operasi melahirkan (Sectio Caecaria). Karena anjuran dan jaminan dr.Fatolosa bahwa setelah dikurek istrinya akan pulih dan dapat kembali ke rumah esok hari, maka pelaksanaan kurek terhadap istrinya dilakukan.

Dr.Fatolosa kemudian melakukan induksi (memacu) rahim istrinya untuk kontraksi, tetapi setelah pelaksanaan induksi dan pemeriksaan pervaginaan, istrinya mengalami pendarahan. Karena mengalami pendarahan terus sejak pukul 18.00 wib, baru pada pukul 22.00 wib istrinya ditetapkan untuk dioperasi.

“Setelah pendarahan dan dibiarkan beberapa dari pukul 18.00 wib, istri baru dipastikan untuk dioperasi pukul 22.00 wib. Sebelumnya dr.Fatolosa kelihatan panik, dan meminta bantuan dr.H.Marundruri, Sp, OG. Tetapi dr.H.Marundruri, Sp,OG baru bisa membantu setelah prakteknya selesai,” tutur Hondianus kepada wartawan.

Tidak lama setelah pelaksanaan operasi oleh dr.Fatolosa panjaitan, Sp.OG, menurut Hondianus, istrinya meninggal dunia. Dia merasa keberatan, dan menganggap kematian istrinya merupakan kelalaian pihak RSU Gunungsitoli, khususnya dr.Fatolosa Panjaitan, Sp,OG.

Dokter Tidak Mau Pasiennya Meninggal

Dr.Fatolosa Panjaitan, Sp,OG yang dihubungi wartawan, Kamis (29/10), mengakui jika ada pasien yang dia tangani atas nama Yulisa Budi Lestari Larosa meninggal dunia. Dia mengaku ikut prihatin atas kematian pasien tersebut, dan mengatakan jika tidak ada dokter yang ingin pasiennya meninggal.

“Setiap hari ada pasien yang meninggal, namanya juga di Rumah Sakit. Dokter juga tidak ada yang mau pasiennya meninggal, dan kita ikut merasakan empati atas kepergian Yulisa. Kita juga merasa sedih dan berharap sebelumnya dia selamat,” ujar dr.Fatolosa kepada wartawan melalui telepon seluler.

Melalui telepon seluler, dr.Fatolosa mengakui ada kalanya, ada kasus kasus yang tidak bisa tertangani dan dipastikan hasilnya. Menurut Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Nias tersebut, pada prinsipnya dokter akan melakukan tindakan semaksimal mungkin.

“Proses ada, tetapi dokter tidak bisa menjamin hasilnya, walau sudah melakukan tindakan semaksimal mungkin. Itulah bedanya persepsi masyarakat dengan kami. Kami tidak pernah mengatakan tidak bisa, tetapi kami akan tetap melakukan secara upaya daya, tergantung sumber daya infrastruktur yang ada,” jelas dr.Fatolosa.

Terkait keberatan keluarga korban, dia memberitahu jika dalam minggu ini pihak RSU akan memberikan penjelasan. Tidak luap dia mengungkapkan, selama ini pihak RSU tidak dapat langsung menjawab, karena harus melakukan pembahasan kasus dan pelaksanaan sidang audit oleh komite medik dahulu.

“Mekanisme kita harus seperti itu, dan keberatan keluarga korban akan dijawab pihak RSU Gunungsitoli bersama komite medik dalam waktu dekat. Kita berharap keluarga korban dapat mengerti, dan prinsip kita, kita akan menjelaskan menurut standart kita terapkan,” tutur Fatolosa melalui telepon seluler.

Korban Meninggal Karena Pendarahan

Disinggung penyebab kematian korban, dr.Fatolosa mengungkapkan, korban meninggal bukan karena proses kurek. Tetapi korban meninggal karena pendarahan yang tidak berhenti.

“Karena mengalami pendarahan yang tidak berhenti setelah dikurek, kita terpaksa harus melakukan pengangkatan rahim. Namun, korban meninggal setelah beberapa jam kita telah melakukan penanganan masksimal,” jelasnya melalui telepon seluler.(ih/ss/gs)

Lihat Juga

Bupati Nias Ajak Gelar Turnamen Volly Bina Atlet Nias

Nias | suarasumut.com –  Bupati Nias Drs Sokhiatulo Laoli,MM mengajak semua pihak untuk menggelar turnamen …

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.