Beranda ›› Headline ›› Gelapkan Uang Saudara, Oknum Polisi Polres Labuhanbatu Diseret Ke Pengadilan

Gelapkan Uang Saudara, Oknum Polisi Polres Labuhanbatu Diseret Ke Pengadilan

Rantauprapat | suarasumut.com  –  Sidang perkara penggelapan yang melibatkan oknum Polisi Polres Labuhanbatu yaitu H.Zen Herman Siregar Cs yang digelar di Pengadilan Negeri Rantauprapat Rabu (13/7) bakal berbuntut panjang. Pasalnya, terdakwa H.Zen Herman terancam mendapat sanksi dari instusinya jika terbukti melanggar Pasal 372 KUHPidana Jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana yang ancaman pidana maksimal 4 tahun penjara.

Meski terdakwa H.Zen Herman Siregar tahanan kota, namun ia sempat mendekam dua hari di Lapas Lobusona Rantauprapat, setelah Majelis Hakim mengabulkan permohanan terdakwa atas jaminan yang disetorkan ke Bank BRI Rp.100 juta, hingga menjadi tahanan kota.

Dalam dakwaannya, Jaksa Penuntut Umum Maulita Sari menyebutkan perbuatan terdakwa H.Zen Herman Cs bermula saat saksi korban atas nama Chaidir Achyar Harahap yang merupakan saudara terdakwa (ipar terdakwa) ingin menjual tanah miliknya seluas 8,7 Ha yang terletak di Dusun Aman Desa Hajoran Kecamatan Sungai Kanan Kabupaten Labuhanbatu Selatan. Berdasarkan Surat Keterangan Tanah Nomor 593/ 581/ HJ/ 2013, tanggal 30 Desember 2012, A.n. Caidir Achyar Harahap.

Selanjutnya, bahwa niat saksi korban tersebut diketahui oleh Pareddi Pane, dan H. Zen, serta Muflihandi menawarkan diri dapat menjualkan tanah milik saksi korban tersebut. Dan terjadilah mufakat bahwa hasil penjualan tanah tersebut dibagi keuntungannya antara saksi korban dengan para terdakwa dengan pembagian masing-masing 60% untuk saksi korban selaku pemilik tanah dan 40 % untuk para terdakwa selaku agen yang menjualkan berdasarkan surat pernyataan, tanggal 9 Juni 2014, yang dibuat dan ditandatangani oleh saksi korban dan istrinya bernama Winar Sariati Siregar, dan dilegalisasi oleh Notaris SETIAWATI, SH Nomor : No. 2227/ L/ 2014.

Bahwa selanjutnya, pada sekitar akhir bulan Januari 2014, D.L SITORUS menyetujui dan membeli tanah milik saksi korban tersebut dengan harga Rp. 8.784.200.000,- (delapan milyar tujuh ratus delapan puluh empat juta dua ratus ribu rupiah), yang diberikan oleh D.L. SITORUS kepada korban dengan rincian sebagai berikut:

Pertama, pada akhir bulan Januari 2014, terdakwa H. ZEN HERMAN SIREGAR dan terdakwa PEREDDI PANE menerima uang panjar pembelian tanah tersebut sebesar Rp. 2.000.000.000,- (dua milyar Rupiah) dari D.L. SITORUS, dimana Rp. 900.000.000,- (Sembilan ratus juta rupiah) diambil oleh terdakwa PEREDDI PANE, kemudian uang sebesar Rp. 600.000.000,- (enamratus juta rupiah) diambil oleh tersangka H. ZEN HERMAN ALIAS H. HERMAN SIREGAR, sedangkan sisanya diberikan kepada korban Rp. 500.000.000,- (limaratus juta rupiah).

Kedua, pada tanggal 5 Juni 2014 Saksi DISPRILLA BUTAR-BUTAR Alias BAGONG atas perintah Notaris SETIAWATI, SH ada menerima dari D.L. SITORUS 3 lembar bilyet giro masing-masing BR 287673, tanggal 27 Juni 2014 senilai Rp 2.500.000.000,- dan Bilyet Giro Nomor BR 287674, tanggal 17 Juli 2014, senilai Rp. 2.500.000.000,- dan memberikan Bilyet Giro Nomor BR 287672, tanggal 7 Juni 2014 senilai Rp. 779.108.500,-, namun yang diterima oleh korban hanya Bilyet Giro Nomor BR 287674, tanggal 17 Juli 2014, senilai Rp. 2.500.000.000,- dan memberikan Bilyet Giro Nomor BR 287672, tanggal 7 Juni 2014 senilai Rp. 779.108.500, sedangkan bilyet giro Nomor BR 287673, tanggal 27 Juni 2014 senilai Rp 2.500.000.000,- diambil oleh TERDAKWA MUFLIHANDI dengan pembagian kepada terdakwa H. ZEN HERMAN SIREGAR sebesar Rp. 1.000.000.000,- (satu milyar rupiah) dan MUFLIHANDI menerima Rp. 1.500.000.000,-.

Selanjutnya, bahwa keseluruhan uang penjualan tanah milik saksi korban tersebut yang diterima oleh saksi korban adalah Rp. 3.779.108.500 (tiga milyar tujuh ratus tujuh puluh sembilan juta seratus delapan ribu lima ratus rupiah), dimana pembagian tersebut tidak sesuai dengan 60 %, sedangkan para terdakwa menerima keseluruhan uang hasil penjualan tersebut adalah Rp. 5.270.520.000 (lima milyar dua ratus tujuh puluh juta lima ratus dua puluh ribu Rupiah), dan tidak sesuai dengan 40 %.

Bahwa atas perbuatan terdakwa PEREDDI PANE, dkk tersebut, maka saksi korban merasa keberatan, dan mengakibatkan korban mengalami kerugian sebesar Rp. 1.491.411.500,- . (satu milyar empat ratus sembilan puluh satu juta empat ratus sebelas ribu lima ratus rupiah).

“ Maka, Perbuatan terdakwa-terdakwa sebagaimana diatur dan diancam melanggar Pidana Pasal 372 KUHPidana Jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana,”ucap JPU.

Usai JPU membacakan dakwan, terdakwa melalui penasehat hukumnya memberikan tanggapan yang pada intinya bahwa perkara tersebut merupakan rana perdata, bukanlah perkara pidana. Namun, JPU tetap bersikeras atas dakwaannya.

Sementara itu, Majelis hakim melalui putusan selanya menyatakan bahwa perkara tersebut merupakan perkara tindak pidana alias ditolak saat putusan sela.(ab/ss-lb)

Lihat Juga

Tingkatkan Pelayanan, Pemkab Nias Benahi Manajemen Kepegawaian

Nias | suarasumut.com  –  Meningkatkan pelayanan dan mewujudkan kondisi birokrasi yang ideal, Pemerintah Kabupaten Nias …

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.