Beranda ›› Headline ›› Demi Meraup Untung Gede, Pekerjaan Proyek Pembangunan Gedung Kantor Upt Dispenda Dikerjakan Asal Jadi

Demi Meraup Untung Gede, Pekerjaan Proyek Pembangunan Gedung Kantor Upt Dispenda Dikerjakan Asal Jadi

Rantauprapat, suarasumut.com – Kwalitas proyek pembangunan gedung Kantor UPT Disependa Sumatera Utara di Kabupaten Labuhanbatu yang direncanakan dibangun berlantai tiga dengan mengunakan uang negara sekitar Rp 5.695.990.000 milyar layak untuk dianalisa ulang metode pembangunannya. Pasalnya tiang pondasi bangunan tersebut dibangun tidak mengunakan batu pecah, tetapi mengunakan batu kerikil.

Hal itu diketahui dari Igbal pihak kontraktor dari PT Dwi Tunggal Bersama sebagai pemenang tender proyek yang ditemui di lokasi
proyek tersebut, yang menyatakan, Senin (29/9) menjawab pertanyaan wartawan, “tiang bangunan proyek memang tidak mengunakan batupecah karena hal itu tidak ada disebutkan dalam Rencana anggran belanja (RAB) proyek.

Apakah tiang pondasi bangunan tidak menggunakan batu pecah/yang sejenisnya ?, tanya wartawan, dan dijawab Igbal dengan jelas, “ mana mungkin kami kerjakan kalau tidak ada disebutkan dalam RAB,” katanya menjawab pertanyaan wartawan. Perlu diketahui, di Labuhanbatu tidak sulit untuk mencari batu pecah dengan berbagai ukuran. Itu dapat dilihat dari pembangunan perluasan Kantor Bupati Labuhanbatu yang saat ini sedang dikerjakan. Semua tiang pondasinya mengunakan batu pecah (split).

Padahal, diberbagai situs dan website yang dipublikasikan diberbagai media on line disebutkan, ada tiga jenis pondasi, diantaranya
pondasi batu kali, yang diguanakan untuk bangunan sederhana. Pondasi tapak (Foot Plate) yang digunakan untuk bangunan bertingkat dan tanah lembek.

Pondasi pelat beton lajur atau jalur digunakan bila luas penampang yang menggunakan pondasi pelat setempat terlalu besar. Karena itu luas penampang tersebut dibagi dengan cara memanjangkan lajur agar tidak terlalu melebar.

Sedangkan pembangunan gedung Dispenda Propinsi (samsat) dinilai bukanlah bangunan sederhana karena berbiaya Rp 5.695.990.000 milyar dan direncanakan berlantai tiga. Dari ketiga jenis pondasi tersebut ketiganya diwakibkan mengunakan batu pecah atau split yang gunanya agar hasil yang didapat lebih maximal kekuatannya.

Menanggapi Hal itu Aktifis Laskar Anti Korupsi Indonesia (LAKI) Labuhanbatu “ sepengetahuan saya, setiap pembangunan yang mengunakan uang Negara harus sesuai dengan perpres no 54 tahun 2010 yang diubah pepres 70 tahun 2012 tentang barang dan jasa. Setiap rekanan yang diharuskan mengacu kepada Standart operasuanal Prosedure (SOP),” tegas Patrisno. (ta/ss/ra)

Lihat Juga

Banggar DPRD Dan TPAD Pemkab Labusel Bahas APBD 2020

LABUSEL | suarasumut.com  –  Badan Anggaran (Banggar) DPRD Kabupaten Labuhanbatu Selatan (Labusel) bersama Tim Anggaran …

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.