Beranda ›› Headline ›› Dalihkan Kerugian Rp1 Juta Disertai Kekerasan, Mahasiswi Ini Ditahan Sejak 24 Februari 2015

Dalihkan Kerugian Rp1 Juta Disertai Kekerasan, Mahasiswi Ini Ditahan Sejak 24 Februari 2015

Rantauprapat, suarasumut.com – Hanya karena dituduh mencuri handphone senilai Rp1 juta terdakwa Monalisa (19) mahasiswi salahsatu perguruan tinggi di Kabupaten Labuhanbatu bersama Pspt (16) harus meringkuk di penjara sejak 24 Februari 2015. Dalihan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Erna, penahanan terhadap Monalisa bersama Pspt dikarenakan pengambilan handphone disertai dengan kekerasan (pemukulan dikepala,red) korban Fsrh (16) yang saat itu memakai helm.

Informasi yang dihimpun suarasumut.com hingga Selasa (7/4), sekalipun korban berinisial Fsrh tidak mengalami luka dikepala yang mengakibatkan pingsan atau tidak sedang dalam kondisi tidak berdaya saat terjadinya peristiwa 24 Februari 2014, namun Monalisa bersama Pspt didakwa melakukan pencurian dan pemerasan dengan kekerasan sebagaimana dimaksud Pasal 365 ayat (2) ke-2 Junot Pasal 368 KUPidana.

Tentunya, dakwaan JPU Kejaksaan Negeri Rantauprapat kepada Monalisa dan Pspt sangatlah bertentangan dengan Pasal 89 KUHPidana. Dimana, sesuai KUHpida yakni, membuat orang pingsan atau tidak berdaya disamakan dengan menggunakan kekerasan. Prilaku JPU Erna tersebut semakin dikuatkan dikala dirinya tidak memberikan penjelasan kategori “kekerasan” dalam perkara Monalisa tersebut. “Diikuti sajalah persidangannya,” dalih Erna saat disebutkan, apakah pemukulan terhadap korban yang memakai helm dikategorikan sebagai perbuatan kekerasan.

Versi Kejaksaan Negeri Rantauprapat dengan JPU, Erna yang menangani perkara mahasiswi salahsatu perguruan tinggi swasta Kabupaten Labuhanbatu itu, hanphone milik Fsrh sempat dikuasai oleh Pspt. Namun karena dihantuai rasa ketakutan, handphone tersebut dikembalikan kepada korban saat itu juga. “Ada diambil. Karena takut si korban (Fsrh,red) diteriaki, makanya dikembalikan. Nilai kerugiannya Rp1 juta,” kata Erna beropini

Semantara, pengembalian handphone kepada korban Fsrh dikarenakan rasa ketakutan yang dimaksud oleh Erna tersebut tidak terungkap (digali,red) dalam persidangan dengan agenda keterangan saksi-saksi sepekan lalu. Pada saat itu, baik JPU maupun Majelisa Hakim hanya menggali keterangan saksi-saksi terkait ada atau tidaknya handphone milik Fsrh diambil oleh Pspt.

Secara terpisah, terdakwa Monalisa yang dikonfirmas di ruang tahanan perempuan PN Rantauprapat, handphone yang dimaksud tidak sempat diambil oleh Pspt dari bagasi depan (terbuka,red) sepeda motor korban. Sebab, lanjut Monalisa, saat itu Fsrh yang melihat handphonenya hendak diambil langsung memukul tangan Pspt. “Gak sempat diambil. Korba (Fsrh) langsung memukul tangan Pspt,” kata Monalisa.

Pada pemberitaan sebelumnya, kasus yang menjerat Monalisa bermula pada tanggal 24 Februari 2015 sekitar pukul 14.30 WIB di jalan Menara, Kelurahan Siringo-ringo, Kecamatan Rantau Utara, Kabupaten Labuhanbatu. Saat itu, sepeda motor yang dikendarai Monalisa bersama Pspt mogok karena kehabisan bensin.

Saat itu, Pspt dan Monalisa meminta uang Rp10 ribu kepada Fsrh yang sedang melintas di lokasi yang sama. Namun karena Fsrh mengaku tidak memiliki uang, Pspt mengambil handphone korban yang diletakan di bagasi depan (terbuka,red) sepeda motor milik korban. (ls/ss/lb)

Lihat Juga

Danramil 09/Sirombu Turut Sukseskan Program KB Manunggal

Nias Barat | suarasumut.com  –  Beberapa tahun belakangan pemerintah melibatkan TNI dalam mensukseskan program KB …

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.