Beranda ›› Headline ›› Centeng Kebun PTPN 3 Dituduh Lakukan Penganiayaan

Centeng Kebun PTPN 3 Dituduh Lakukan Penganiayaan

Rantauprapat | suarasumut.com  –  Pihak PTPN3 Kebun Rantauprapat akhirnya angkat bicara soal dugaan tindak penganiayaan yang diduga dilakukan 6 orang centeng kebun terhadap seorang pria cacat bernama Sunarto alias Sutari (38), warga Lingkungan Bangunan, Kelurahan Pulo Padang, Kecamatan Rantau Utara, Kabupaten Labuhanbatu.

Kepada wartawan, Manager PTPN3 Kebun Rantauprapat Ir E Pirgok Manurung yang dikonfirmasi melalui Koordinator Keamanan PTPN3 Kebun Rantauprapat Hendra B Sembiring, Selasa (29/3) membantah jika centeng PTPN3 tersebut dikatakan telah melakukan tindak penganiayaan terhadap Sunarto. “Itu tidak benar, sedikitpun tidak ada centeng kita melakukan penganiayaan,”ujarnya.

Menurut Sembiring, kejadian itu berawal saat sejumlah centeng PTPN3 Kebun Rantauprapat menyaksikan adanya aksi pencurian buah kelapa sawit oleh puluhan orang tak dikenal persisnya di Afdeling IV, Blok J 16 TM 1999 pada Kamis (17/3) malam, sekitar pukul 23.30 WIB.

“Melihat aksi pencurian itu, sejumlah centeng kita pun langsung melakukan penyergapan. Namun sayang, puluhan pencuri itu berhasil kabur,” ungkapnya.

Tak mau lolos begitu saja, centeng kebun itupun, kata Sembiring, terus melakukan pengejaran hingga ke luar areal kebun PTPN3.

“Dan saat itulah, satu dari puluhan pencuri itu yakni Sunarto, berhasil ditangkap centeng persis diareal kebun masyarakat di Dusun Tebangan. Pria yang memang terlihat mengidap penyakit stroke itu pun tertangkap centeng lantaran menabrak sebuah pohon,”terangnya.

Masih kata Sembiring, saat itu petugas centeng pun langsung membawa Sunari ke kantor manajemen PTPN3 Kebun Rantauprapat untuk dimintai keterangannya dan selanjutnya diserahkan kepada pihak Polres Labuhanbatu.

“Jadi sama sekali tidak ada dilakukan penganiayaan. Kalau pun ada luka diwajah Sunarto, mungkin itu luka karena tertabrak pohon, bukan dianiaya,”katanya menambahkan.

Sementara Kasubag Humas Polres Labuhanbatu AKP Viktor Sibarang dikonfirmasi mengatakan jika pihaknya masih terus mendalami kasus penganiayaan itu dengan akan segera melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah centeng PTPN3 yang dilaporkan itu.

“Dalam waktu dekat sebahagian centeng itu akan diperiksa, perkembangannya kita sampaikan nanti,” ujarnya

Sementara, Sugianto (35) warga Kabupaten Rohil yang merupakan adik ipar korban kepada wartawan di Rantauprapat mengisahkan, peristiwa penganiayaan yang dialami ayah 4 anak ini terjadi ketika korban disangka maling oleh enam centeng PTPN3 Kebun Rantauprapat.

Malam itu kenang Sugianto, abang iparnya tengah mencari seekor kambingnya yang belu masuk ke kendang. Pencaharian itupun masih disekitaran areal perkebunan kelapa sawit milik masyarakat yang berada di Dusun Tebangan, Kecamatan Bilah Barat.

Namun tiba-tiba, korban mendengar suara teriakan maling sembari melihat enam petugas PTPN3 Kebun Rantauprapat mendatangi dirinya dan belakangan diketahui sebagai centeng perkebunan.

Takut akan terjadi hal tidak diinginkan, korban sebut Sugianto, bergerak ingin meninggalkan lokasi sambil berlari. Dikarenakan suasana malam, korban tersandung dan terjatuh.

“Begitu ditangkap, abang ipar saya langsung diborgol karena tuduhan mencuri sawit perkebunan. Karena tidak berbuat, korban menyangkal semua tuduhan dan menjelaskan kalau dia hanya ingin mencari kambingnya yang hilang,” terangnya.

Walau telah menjelaskan berkali-kali, tetapi keenam oknum centeng tersebut tidak memperdulikan pengakuan korban. Bahkan terang Sugianto, centeng itupun melakukan pemukulan dengan secara bersama-sama.

Saat pemukulan terjadi, bukan hanya menggunakan tangan kosong, malah ada yang memakai gagang arit, bahkan sembari berteriak matikan saja orang ini. Setelah itu, korban dibawa oknum centeng membawa korban ke kantor manajemen,” ujarnya lagi.

Parahnya tambah sumber, sepanjang perjalan korban diseret sambil dipukul, bahkan sempat hendak digilas pakai ban sepedamotor. Sesampainya di kantor Manajemen PTPN3, diinterogasi dan korban tetap bertahan tidak melakukan pencurian.

“Lalu, pada Jumat (18/3) korban dibawa ke Polres Labuhanbatu serta dilaporkan. Setelah ada jaminan, sekitar pukul 17.00 WIB hari itu juga, abang ipar saya diperbolehkan pulang,” tegas Sugiarto lagi.

Atas penganiayaan yang diduga dilakukan ke enam centeng tersebut, pihak mereka kembali melaporkan aksi penganiayaan tersebut ke Polres Labuhanbatu dengan nomor STPLP/579/III/2016/SU/RES-LBH pada tanggal 22 Maret 2016.

Berdasarkan informasi yang diperolehnya, tiga dari enam centeng pelaku dugaan penganiayaan tersebut antara lain Agus, Jawi dan Edot yang berdomisili di Pondok Bangunan, Afdeling III.

“Sampai hari ini, abang ipar saya masih depresi, pikiran tidak labil dan masih merasakan sakit,” paparnya sembari menjelaskan korban mengalami cacat pada kedua tangannya akibat penyakit stroke yang dideritanya sejak 10 tahun silam.(ab/ss-rp)

Lihat Juga

Bupati Nias Ajak Gelar Turnamen Volly Bina Atlet Nias

Nias | suarasumut.com –  Bupati Nias Drs Sokhiatulo Laoli,MM mengajak semua pihak untuk menggelar turnamen …

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.