Beranda ›› Citizen Journalism ›› Caleg Di Mata Rakyat Labura

Caleg Di Mata Rakyat Labura

Catatan : Darrenzius Nababan

Serba serbi pencalegan dengan segala liku-liku perjuangan masing masing kandidat wakil rakyat bersangkutan, akhir-akhir ini memang telah menjadi Hot Issue di kalangan luas. Caleg dengan segala sepak terjangnya memang telah menjadi topik pembicaraan yang sangat menarik, setidaknya hingga bulan april nanti.

Namun, pengamatan penulis, khususnya di Kabupaten Labuhanbatu Utara, pencalegan yang kerap menjadi topik utama di tempat-tempat yang menjadi sentral berkumpulnya tokoh-tokoh politik di daerah ini, ternyata pembahasannya bertolak punggung dengan segala harapan para caleg yang umumnya hanya mampu menjual diri mereka ke tengah masyarakat tanpa visi dan misi yang jelas.

Jika para caleg berharap mereka akan dapat meraih simpati rakyat untuk memilihnya, maka berbeda halnya dengan yang terjadi di masyarakat. Janji-janji tak berujung yang dulunya juga pernah diucapkan oleh para caleg yang kini telah duduk dan masih menjabat sebagai wakil rakyat periode 2009-2014, tampak sangat mempengaruhi kondisi psikologis masyarakat untuk dapat menggunakan hak pilihnya pada april mendatang.

Bosan, muak dan tak mau dibohongi lagi. Inilah rasa yang kini dimiliki masyarakat menyangkut akan diselenggarakannya pesta rakyat untuk memilih wakil mereka untuk duduk di parlemen sebagai penyampai aspirasi mereka.

Tapi apa lacur? Anggota DPRD yang mereka harapkan dapat menjadi perpanjangan lidahnya, sama sekali tak mau mendengarkan suara hati mereka. Boro-boro mendengarkan dan menindaklanjuti aspirasi rakyat, seringkali para wakil rakyat ini raib tak berbekas saat rakyat yang dulunya adalah konstituennya datang menemui mereka ke gedung dewan.

Sejak Labura berdiri, tercatat ada beberapa kali rakyat mendatangi gedung dewan untuk menyampaikan aspirasinya. Beragam persoalan yang dikeluhkan rakyat disana, tampak hanya menjadi mainan dan lahan mencari “job sampingan” semata bagi para wakil rakyat.

Persoalan lahan antara petani dengan beberapa perusahaan misalnya. Untuk persoalan ini, dalam jumlah yang tidak sedikit, rakyat telah berulangkali melakukan aksi unjukrasa, baik terhadap eksekutif pemkab Labura, maupun terhadap legislatif.

Tapi apa yang rakyat terima, eksekutif dan legislatif seolah telah memiliki kesamaan hati untuk selalu memberikan jawaban yang seragam kepada rakyat yang mendemonya. “Kami bersama pihak terkait akan segera menindaklanjuti persoalan ini”. Inilah rangkaian kalimat sakti yang kerap diucapkan para eksekutif dan legislatif di pemerintahan Labura.

Sejak dilantik menjadi anggota DPRD, para wakil rakyat ini nyaris tak pernah memikirkan nasib rakyat yang dulu memilihnya. Mereka menjadi demikian sibuk dengan urusan-urusan yang berpotensi dan bermanfaat hanya untuk mereka saja. Studi banding yang kerap dilakukan oleh insan-insan terhormat ini, cenderung hanya dilakukan demi memenuhi agenda kegiatan belaka. Berkali-kali melaksanakan studi banding, namun belum juga membuahkan hasil yang baik.

Bahkan banyak kalangan memplesetkan istilah studi banding menjadi “studi tidak sebanding”. Pasalnya, besarnya anggaran yang terserap untuk melaksanakan studi banding ini, dianggap tak sebanding dengan kinerja para senat ini. Jangankan dalam menelurkan peraturan daerah yang umumnya hanya hasil kloning dari daerah lain, tata tertib (tatib) saja pun dikabarkan belum dimiliki oleh lembaga perwakilan rakyat ini.

Ironis. Seolah tak lagi memiliki “urat malu”, para wakil rakyat yang telah menikmati empuknya kursi dewan, kembali mencalonkan diri mereka untuk merebut lagi keempukan kursi jabatannya. Tak tanggung-tanggung, tak hanya merebut kursi dewan di Labura, terdapat juga yang berambisi besar untuk merebut kursi yang jauh lebih empuk di tingkat Propinsi Sumatera Utara. Dan lagi-lagi janji dan ikrar yang sama seperti sebelumnya mereka ucapkan dan dengung-dengungkan di tengah masyarakat. Pertanyaan berikutnya adalah, jika di tingkat Labura saja tak mampu jadi perpanjangan lidah rakyat, bagaimana mungkin bisa mampu ke tingkat Sumatera Utara? Mimpi ketinggian akan sangat menyakitkan saat terjaga.

Nah, berbeda dengan caleg yang masih menjabat, di sisi lain, saat ini banyak wajah-wajah baru yang muncul dan mencalonkan diri mereka menjadi anggota DPRD masa bakti 2014-2019. Hampir sama dengan pendahulunya, wajah-wajah baru ini juga mulai terjun ke masyarakat dan mencoba meraih simpati, bahkan empati. Janji-janji akan adanya perubahan, kerap menjadi “mantra” sakti yang mereka gunakan untuk mengambil hati rakyat.

Ada yang sangat menarik dari para caleg wajah baru ini. Umumnya mereka ini adalah kaum muda yang tiba-tiba saja muncul ke kancah politik yang sebelumnya tak pernah dikenalnya. Kader-kader hasil “karbitan” tampak ramai mendeklarasikan dirinya sebagai calon wakil rakyat yang akan mampu membawa perubahan dan perbaikan.

Saling unjuk kekuatan dan kemampuan pun dimulai. Namun sayang, pertunjukan kekuatan dan kemampuan tadi tetap saja berorientasi pada uang. Upaya menjalin silahturahmi, penguatan kader partai, pemantapan basis suara pemilih, tak pernah lepas dari pamer uang. Malah tak jarang, mereka yang sebelumnya tak pernah berbakti pada masyarakat, menjadi “mendadak dermawan” dan mulai giat mencitrakan diri sebagai tokoh yang memiliki kepedulian sosial yang tinggi.

Lantas, apa yang harus dilakukan oleh rakyat dalam menyikapi ambisi dan gempuran sifat mendadak dermawan para caleg ini? Semua kembali kepada rakyat. Jika layak, pilihlah! Jika tak layak, jangan katakan Wani Piro!.

Penulis adalah salah seorang Jurnalist di Labura .

Lihat Juga

Danramil 09/Sirombu Turut Sukseskan Program KB Manunggal

Nias Barat | suarasumut.com  –  Beberapa tahun belakangan pemerintah melibatkan TNI dalam mensukseskan program KB …

7 Komentar

  1. Salam radaksi saudara Hotmaruba Manik, kalau ada permasalahan yang dialami masyarakat Sei Apung bisa bapak kirim informasinya ke email redaksi, redaksi@suarasumut.com nanti info yang bapak kirim bisa kita naikkan di kolom citizent journalis http://suarasumut.com

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.