Pengumuman & Ucapan:
Beranda ›› Bisnis & Ekonomi ›› Selesai Dibangun, Lokasi Pasar Onan Poriaha Rebutan Kepemilikan

Selesai Dibangun, Lokasi Pasar Onan Poriaha Rebutan Kepemilikan

Tapteng | suarasumut.com  –  Beberapa bulan terakhir ini lokasi Pasar Onan Poriaha kelurahan Tapian Nauli II Kecamatan Tapian Nauli telah selesai dibangun oleh Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) melalui Dinas Perdagangan dan Perindustrian Tapteng.

Namun salah satu masyarakat Kecamatan Tapian Nauli yang tidak mau namanya disebutkan dalam kepemilikan mengklaim bahwa lahan Balairung Pasar Onan yang dibangun itu merupakan kepemilikan dari ahli waris.

Ahli waris yang mengaku pemilik lahan yang melalanglang buana ini juga mengatakan, seketika pulang kampung di Poriaha merasa kaget melihat perubahan bentuk bangunan pasar tersebut. Ia merasa kecewa tanpa ada pemberitahuan pemerintah setempat terhadap kepemilikan lahan yang selama ini digunakan para pedagang tradisonal.

“Lahan itu merupakan tanah waris dari nenek moyang kami, lengkap dengan surat tanahnya, saya bukannya melarang pembangunan pasar onan itu, tetapi apa salahnya saling kordinasi dengan kami,” katanya, Kamis (20/03/2017) di Pandan, sekira pukul 09.00 Wib.

Dijelaskannya, lahan tersebut memang sudah puluhan tahun dipergunakan masyarakat pedagang tradisonal untuk memutar perekonomian masyarakat.

“Itu memang pasar di peruntukkan untuk para pedagang tradisional puluhan tahun lamanya. Saya menduga ada permainan dalam kepemilikan lahan oleh oknum pemerintah yang bertugas dalam pasar itu,” jelasnya.

Ia meminta terhadap pemkab Tapteng agar lahan tersebut segera diselesaikan dalam kepengurusan legalitas yang jelas tanpa merugikan kepemilikan lahan dalam perubahan pembangunan pasar tersebut.

Terkait lahan pasar tersebut kepala Dinas Perdagangan Tapteng B Doloksaribu melalui Pj Kepala Bidang Pasar dan pertambangan energi Pierre Sihotang, ST mengatakan klaim maupun kepemilikan lahan dari masyarakat merupakan hal yang biasa diterima pemkab Tapteng.

“Soal diklaim sejumlah masyarakat itu sah-sah saja, ini bukti surat ada sama kita kalau tidak salah surat tanah yang tertulis ini sudah dikelolah oleh pemerintah sejak tahun 1943,” jelas Pierre.

Diungkapkan Pierre, terkait lahan tersebut salah satu kepemilikan lahan menggugat hingga hingga menunggu proses menuju hasil gugatan ke pengadilan berdasarkan surat keterangan setumpuk pohon kelapa,” satu orang menggugat, berdasarkan surat keterangan hanya setumpuk pohon kelapa,” terang Pj Kepala Bidang Pasar dan Tambang Energi.

Namun ketika gugatan itu mencuat, kepemilikan lokasi lainnya juga datang dan mengaku bahwa objek tersebut merupakan milik dari luar si penggugat. ”Yang menggugat itu marga Pasaribu, setelah diketahui ada gugatan, yang marga Hutagalung juga mengklaim itu tanahnya,” tandas Pierre.(ph/ss-tt)

Lihat Juga

Pembentukan Karakter Dan Pengenalan Budaya, Unimed Latih Anak Usia Dini

Medan | suarasumut.com  –  Pendidikan karakter dan pengenalan budaya merupakan hal yang mutlak yang diberikan ...