Pengumuman & Ucapan:
Beranda ›› Bisnis & Ekonomi ›› Sejarah Sumur Nommensen Di Barus, Sorot Jadikan Wisata Dunia

Sejarah Sumur Nommensen Di Barus, Sorot Jadikan Wisata Dunia

Tapteng | suarasumut.com  –  Awal masuknya penyebaran agama ke Nusantara tepatnya di kota tua Barus Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) provinsi Sumatra Utara dan juga merupakan wilayah pusat sejarah perdagangan dunia melalui pelabuhan tertua Pantai Barat Sumatra.

Hal itu jelas terbukti dengan kunjungan Presiden RI Jokowidodo keduakalinya di Kabupaten Tapteng serta beberapa terakhir ini telah meresmikan titik nol yang merupakan pintu masuk pertama penyebaran agama dan perdagangan dunia ke Indonesia.

Konsultan sejarah J E Hutauruk mengatakan, budaya yang lahir di kota tua Barus, bisa saja Melayu, Batak, Cina/Tiongkok. “Barus dibangun oleh budaya tersebut, mari jadikan Barus sebagai tempat akademik, dan wisata,” ajak Hutauruk.

Dalam seminar yang di ulas tersebut, salah satunya Misionaris (penyebaran/pendakwah) agama Kristen dari Jerman Dr Ingwer Ludwig Nommensenyang ditulis dalam sejarah merupakan bukti peradaban Misonaris yang ditugaskan di Tanah Batak tepatnya di kawasan kota tua Barus.

“Membaca sejarah, pada tanggal 16 Juni 1862 Dr I L Nommensen tiba di Sibolga, bersama seorang suku dayak yang berkenan dahulu di Barmen-Jerman bernama Punrau. Kemudian tanggal 6 Juli 1862 tiba di Barus kurang lebih 4 atau 5 bulan berinteraksi dengan masyarakat dengan pengembangan aksara Batak,” kata Dr Simon Harianja dari ke tiga narasumber dalam seminar tersebut, di Ball Room Pia Hotel Kecamatan Pandan, Jumat (19/5/2017).

Mengulas tentang kedatangan Nommensen selama tinggal di Barus Dr RE Nainngolan lebih jauh menjelaskan, salah satunya adanya bukti sejarah tempat pemandian khusus Dr I L Nommensen berupa sumur, yang sampai saat ini berada di desa Sihorbo kecamatan Barus Utara.

“Maka tempat itu lah yang layak akan direncanakan menjadi monumen besar sebagai wisata sejarah rohani diberbagai nusantara baik itu dunia,” kata Nainggolan yang merupakan salah satu narasumber penulis buku sejarah Barus.

Dikisahkannya, dengan berbaur terhadap masyarakat Dr I L Nommensen sambil menulis kembali buku Vander Tuuk dari bahasa Belanda ke bahasa Batak, tulisan aksara Batak saat ini terjadi beberapa versi yakni dari buku Laklak (bahan yang terbuat dari kayu), kulit kayu dan kulit kering binatang, versi Vender Tuuk (Belanda), versi pemerintah berupa penggabungan aksara batak Toba, Simalungun, Dairi, Karo, Angkola, dan versi komputer Uli Kozok (Jerman).

“Dalam sejarah itu, pekerjaan yang dilakukan Nommensen selama di Barus berinterkasi dengan raja-raja disekitarnya, menulis kembali buku vander Tuuk dari bahasa Belanda ke bahasa Batak, menebus orang yang terjerat hutang, mengunjungi dan memberi obat terhadap orang sakit, mengunjungi daerah Tukka dan Rambe,” terangnya.

Diceritakan, ada dua monumen fisik dan non fisik pada ketokohan Nommensen, yakni dengan didirikan monumen Oppu Nomensen di Tarutung. Namun ditahun 1942 monumen tersebut dihancurkan Jepang dan munculnya universitas Nomensen di Tarutung (Tapanuli Utara).

Sorotan Wisata Rohani Di Belahan Dunia, Pembangunan Infrastruktur Masuk Master Plan.

Bakal jadi daya tarik wisata Rohani, Dr R E Nainggolan berharap, jika serius tentang sejarah baik itu berupa master plan disediakan maka pembangunan tanda keberadan Nommensen bakal menjadi sorotan wisatawan lokal bahkan mancanegara.

“Jika kita memang konsisten membangunnya, maka beberapa tahun Barus akan dikenal dunia yang dapat menyatukan Indonesia yang beragam-ragam. Maka itu, perlu persiapan yang baik mengenai pembangunan sumur Nommensen ini,” tutur Nainggolan.

Menurut Pj Bupati Tapteng, Drs Bukit Tambunan MAP, pembangunan yang tertuang dalam master plan akan ditindak lanjuti pemerintah,” pembangunan Sumur itu akan diusulkan baik bersumber dar APBD, tingkat I maupun dari pemerintah pusat. Nah, ini sudah sudah menasional, nanti akan disepakati untuk menggagasinya, baik itu dari segi pembangunan infrastrukturnya,” ucap Pj Bupati.

Lebih jauh ditambahkan, bahwa akses menuju Si Horbo baik melalui perhubungan udara akan disampaikan destinasi danau Toba dengan Pantai Barat Sumatera melaui jalur Bandara, Silangit, Sibisa, dan Pinangsori.

Proyeksi tersebut harap Bukit akan menjadi tuntas, dan senantiasa mendorong daerah Tapteng dengan julukan Negri Wisata Sejuta Pesona dan senantiasa mendorong pembangunan daerah berupa bangunan yang sangat unik dan menarik.

“Bila perlu akan dibuat menara yang tinggi melihat indahnya alam Tapteng, bila perlu juga pakai lift kita bangun, kenapa itu mimpi? itu fakta,”kata Bukit terhadap wartawan sambil mengacungkan jempolnya.(ph/ss-tt)

Kata kunci terkait:
barus, bahasa batak indah, dr il nommensen

Lihat Juga

Bupati Labuhanbatu Hadiri Arahan Mendagri

Labuhanbatu | suarasumut.com  –  Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo memberikan pengarahan kepada Forum Komunikasi ...