Pengumuman & Ucapan:
Beranda ›› Headline ›› Perjalanan Hidup Bersama Waktu

Perjalanan Hidup Bersama Waktu

Oleh: Wulan Purnama Sari

Dia wanita yang kupanggil Ibu, perempuan perkasa yang setiap hari bertelanjang kaki menyusuri pematang sawah yang becek. Kemudian membiarkan kakinya terendam dalam kubangan lumpur. Badan membungkuk menggemburkan tanah dengan kakinya yang kokoh. Suaranya nyaring mengendalikan kerbau menyusuri setiap jengkal sawah kami. Ibu dan Kerbau adalah pasangan serasi. Pasangan yang sadar dengan takdirnya. Pasangan yang harmonis diantara petak sawah yang menghampar dan ladang yang rimbun. Dan kami, anak anaknya adalah bagian penonton suatu drama kehidupan yang juga dulu ibu pernah lalui ketika masih kanak kanak. Kehidupan memang bergerak lambat dan tradisi ini menjadikan kami selalu akrab dengan kerbau dan sawah.

Ibu, adalah juga bagi kumpulan wanita dikampung kami. Semuanya berbaris rapi menjadi lebah pekerja karena para ayah turun ke kota menjadi kuli atau apa saja untuk membangun kota. Kepulangan para ayah tidak lagi menjadi sebuah penantian. Para ibu hanya tahu bahwa mereka harus membunuh rasa birahinya hanya untuk sebuah harapan dari kota. Hingga setiap jengkal tanah dikampung ini hanya dipenuhi oleh para ibu yang kelelahan ketika malam datang. Keesokan paginya mereka harus kembali berbaris bersama kerbau kesayangannya. Layaknya suami, sang kerbau menjadi sahabat setia dan juga tempat makian bila kerbau itu malas bergerak. Tapi sang suami tetap menjadi harapan.

Yang menjadi kenangan terindah bagiku dan ini kelak yang akan selalu kurindu, adalah memberikan tumpukan jerami kepada kerbau dan ibu akan membakar sebagian kotoran kerbau untuk menghangatkan tubuh kami dari sengat dingin malam dan juga untuk menghindarkan kami dari sengatan nyamuk. Semua tersusun dengan sangat sistematis. Antara kerbau dan kami saling melengkapi. Desa ini bila senja tanpa seluet elang menari nari. Pria tempat kehangatan bagi ibu ibu tidak lagi hadir dikala senja datang merangkak malam. Ibu nampak tidak lagi peduli karena selalu ada harapan bila ayah pulang. Membenamkan diri dalam kesuyian malam dalam kelelahan adalah irama hidup yang kadang membosankan namun ibu akan selalu baik baik saja.

Satu saat ketika Ayah pulang, maka keceriaan terpancar diwajah ibu dan juga kami. Maka hari hari berikutnya terasa sangat lain. Ibu lebih banyak bersolek. Apa lagi Ayah datang membawa oleh oleh bedak berwarna warni dari kota. Bibir ibu nampak ranum dan juga pipinya. TV berwarna yang dibawa Ayah dari kota menceritakan banyak impian untuk ku.  “Kamu harus melihat dunia luar. Kamu harus seperti dunia yang ada diluar sana,“ begitu kata Ayah memberikan semangat untuk ku. Hari hari berikutnya, Kerbau ku tak lagi nampak. Dia sudah digantikan oleh motor bebek baru berwarna merah. Juga ibu tidak perlu lagi bersusah payah membusukan jerami disawah kami. Karena ayah membawa pupuk dari kota untuk ditebar. Juga Ayah membawa bibit bibit terbaik dari kota. Semuanya “agar ibu tidak perlu berlelah disawah dan dapat menikmati hasil banyak” demikian Ayah.

Kami merasa berubah dan harapanpun semakin besar bahwa kami akan menjadi lebih baik dari sebelumnya. Waktu bergerak maju, impian kami jauh lebih maju tapi anehnya kami tetap saja ditempat kami bahkan tak lagi merasa berpijak ditanah kami. Apa pasal? Sawah kami menghasilkan padi namun tidak memberikan kami cukup uang untuk dimakan karena harus berbagi dengan Koperasi untuk membayar pupuk dan bibit dan juga upah traktor menggemburkan sawah.  Juga kami harus membayar cicilan hutang keperluan ibu membeli kulkas, membayar kredit motor dan banyak lagi. Lambat laun Ayah sudah jarang bicara tentang keindahan hidup di kota. Tentang mimpi kelap kelip lampu kota dimalam hari. Tentang rumah megah berlapis marmer. Dan ibu sudah tak pernah lagi memintal rambutku yang panjang. Ibu selalu pergi ketika aku terlelap dalam tidurku dan baru kembali setelah ayam berkokok. Tapi aku yakin ibu akan baik baik saja.

Aku tidak pernah tahu kenyataan yang sebenarnya tentang kota. Ingin sekali aku datang ke kota melihat semua yang Ayah ceritakan, seperti bintang filem, mobil mewah, gedung tinggi dan banyak lagi yang selama ini hanya kulihat dari televisi. Dalam keinginan dan impian itu, aku pun tidak begitu tertarik lagi belajar disekolah, apalagi ketika Motor bebek kesayangan ibu sudah tidak ada lagi untuk mengantarku kesekolah. Aku tidak mau berlelah jalan kaki ke sekolah atau merusak sepatu cantikku. Aku rindu kota, tapi juga aku merindukan ibu yang tidak lagi ada ketika aku sangat membutuhkannya. Ayah hanya bilang ” Ibu mencari uang”.  Aku sendiri bingung, sejak kapan Ibu pandai mencari uang?.  Yang kutahu ibu adalah sahabat kerbau ku disawah dengan arit ditangan menyiangi kebun kami. Tapi aku yakin , ibu akan baik baik saja.

Satu waktu yang tidak pernah aku lupakan, ketika malam aku terjaga.  Aku sangat merindukan Ibu. Kulihat disebelah kamar, Ibu tidak ada, Ayah juga tidak ada. Aku mencoba melangkah keluar rumah. Berjalan menembus pekatnya malam. Diujung jalan desa terdengar suara musik sayup sayup dan suara tawa orang ramai. Kesanalah aku pergi. Disana aku lihat ayah sedang bermain remi dengan bertemankan bir hitam. Kemana Ibu? Aku tidak melihat ibu. Langkah ku terus bergerak mencari ibu. Dari kejauhan nampak ibu ku sedang berdiri didepan losmen kumuh. Ibu tersenyum kepada siapa saja yang lewat atau kadang kala bercanda dengan tukang becak yang mangkal didepan losmen. Apa yang sedang dikerjakan ibu?. Aku tidak tahu. Tapi aku yakin, ibu akan baik baik saja.

Kini waktu berjalan terasa lambat seiring dengan semakin jarangnya aku melihat ibu dan Ayah dirumah. Memasak , menanak nasi dan mencuci adalah bagian dari keseharian ku.  Tapi setidaknya aku tidak harus bercengkrama dengan kerbau. Atau menggiring kerbau kesawah. Karena sawah sudah dijual, kebun sudah juga dijual setelah sebelumnya kerbau pun terjual. Keinginan dan impian yang dibawa oleh TV,  tidak lagi bisa kami dengar karena TV pun sudah lama terjual. Kami tidak punya apa apa lagi. Kecuali jasad dan impian yang masih tersisa walau tak bisa diungkapkan. Kami hanya butuh makan untuk membuat hari hari dalam impian kami tetap hidup. Itu pun semakin sulit. Tapi kami yakin, kami akan baik baik saja.

Kini, aku tidak lagi ada di desa bersama mimpiku. Aku berada di etalase dengan lampu temaram. Tubuh ku menjadi tontonan orang orang yang melirik setiap melintas didepan etelase. Aku tersenyum bersama semua mereka yang ada didalam rumah kaca ini. Harapan kami disini, hanyalah berharap agar ada orang yang memanggil kami dan membeli kesenangan sesaat yang dapat kami berikan untuk membayar impian kami. Beginilah akhir dari cerita bila akhirnya aku ada disini bersama mimpiku dan juga sama dengan semua mereka yang terkapar tanpa masa depan karena terampas oleh mesin kepongahan dari budaya yang salah. Aku tidak akan menyalahkan ibu dan ayahku. Karena mereka juga adalah korban dari sebuah negeri yang gagal menjadi dirinya sendiri…

Pesan moral :

Nak, kini Saatnya revolusi mental agar kita menjadi diri kita sendirii.

Membangun melihat kedalam, bukan keluar.

Membangun dengan budaya, dan kearifan lokal.

Membangun dengan akhlak mulia, dan taqwa

Membangun dengan gotong royong

Membangun dengan cinta , tentunya.

Kata kunci terkait:
puisi beginilah hidup banyak warna warni, puisi sayup terdengar suara memanggil

Lihat Juga

Fakultas Teknik UMSU Lakukan Rekrutmen Staff

Medan | suarasumut.com  –  Fakultas Teknik UMSU menjalin kerjasama dengan Incasi Raya Group dan Gunas ...