Pengumuman & Ucapan:
Beranda ›› Bisnis & Ekonomi ›› Perdagangan Margawatwa Yang Dilindungi Undang Undang, Marak Dipesisir Labuhanbatu

Perdagangan Margawatwa Yang Dilindungi Undang Undang, Marak Dipesisir Labuhanbatu

Negerilama | suarasumut.com  –  Perdagangan margasatwa yang jelas dilindungi Pemerintah RI justru marak dipesisir pantai tepatnya Kecamatan Panai Hulu dan Kecamatan Bilah Hilir Kabupaten Labuhanbatu. Pemerintah melahirkan regulasi dimaksud guna menciptakan Perlindungan sistem penyangga kehidupan ditujukan bagi terpeliharanya proses ekologis yang menunjang kelangsungan kehidupan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia serta Sistem penyangga kehidupan merupakan satu proses alami dari berbagai unsur hayati dan non hayati yang menjamin kelangsungan kehidupan makhluk.

Namun dua hal yang menjadi tujuan regulasi itu tertuang dalam Undang Undang Nomor 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya serta Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 7 Tahun 1999 Tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, justru tidak diindahkan.

Anehya, perdagangan margasatwa yang banyak berasal dari areal perkebunan itu pun marak disebabkan minimnya kontrol dari pihak-pihak yang berkompeten.

Salah seorang makelar Margawasta, Agus, warga Desa Sidomulyo Kecamatan Bilah Hilir ketika dikonfirmasi (14/9) siang lalu, kepada wartawan mengaku dirinya membeli berbagai jenis margasatwa yang dilindungi pemerintah.

“Benar, saya beli ular, biayak, penyu yang dijual warga, saya mau ngantar berobat ini, nanti kita sambung,Pak,” ujar Agus memutus pembicaraan lewat telepon. Esok harinya dihubungi dengan nomor yang sama, dirinya tidak mau menjawab lagi.

Menanggapi maraknya perdagangan margasatwa dipesisir pantai Labuhanbatu, Ketua Yayasan Konservasi Bumi Lestari Indonesia Kabupaten Labuhanbatu, Haray Sam Munthe kepada wartawan melalui selularnya (25/9) mengatakan perusahaan perkebunan harus bertanggung-jawab terhadap satwa-satwa yang ada didalam areal perkebunannya serta berkewajiban membuat hutan mikro sebagai rumah bagi berbagai jenis satwa serta melakukan pendataan, monitoring serta patrol terhadap satwa yang ada didalam areal kebun.

Sebab lanjutnya, setiap satwa memiliki fungsi ekosistem yang ada didalamnya guna menunjang kebidupan manusia.

“Perusahaan harus bertanggungjawab terhadap keberlangsungan berbagai jenis satwa serta berkewajiban buat hutan mikro,” ujar penggiat lingkungan tingkat Nasional itu tegas.

Pihaknya berharap, Polres Labuhanbatu harus melakukan tindakan terhadap para pelaku perniagaan satwa yang sedang terjadi guna menghindari kepunahan spesienya.

Kanit Ekonomi Polres Labuhanbatu, Iptu Gali Ramadhan ketika dimintai komentarnya, (26/9) Selasa melaluin selularnya kepada wartawan mengaku masih di Medan namun akan segera pulang karena tugas-tugas yang sudah menanti.

“Saya masih di Medan, Mala mini pulang, akan ditindaklanjuti, makasih infonya, Pak,” ujar Gali mengakhiri.

Sebagaimana diketahui, para makelar margasatwa itu beroperasi di Kelurahan Negeri Baru Dusun Bangun Sari dan Desa Negeri Lama Seberang Dusun Alpajar di Kecamatan Bilah Hilir, Sementara di Simpang Ajamu Kecamatan Panai Hulu dikenal berinisial A yang sudah lama beroperasi. (fk/ss-lb)

Lihat Juga

Bupati Taput Resmikan Listrik Tenaga Turbin Di Desa Lobusihim Kecamatan Simangumban

Taput | suarasumut.com  –  Usai sambut Kunjungan Presiden RI Joko Widodo, pada malam harinya Bupati ...