Pengumuman & Ucapan:
Beranda ›› Foto & Video ›› Makanan Pakkat Diburu Warga Selama Bulan Puasa

Makanan Pakkat Diburu Warga Selama Bulan Puasa

Rantauprapat | suarasumut.com  –  Makanan jenis pakkat selama bulan Ramadan nampaknya jadi buruan warga Labuhanbatu. Seperti hal Pendi Harahap warga asli kota pettro dollar ini kerap menyantap makan khas daerah Sumut itu.

Dikatakannya, kelebihanan makanan tersebut memiliki daya tarik untuk membuat selera makan saat menjelang sahur dan berbuka.

“Entah kenapa daya tarik makanan itu menambah selera makan saya, sehingga jika adanya makanan tersebut nafsu makan saya bertambah,”kata Fendi, Minggu (12/6) pada suarasumut.com.

Ditambahkanya, meski banyak lagi pilihan makanan khas Sumut, terkuhus di Labuhanbatu ia lebih memilih fakkat untuk dijadikan lalap sebagai penambah selera makannya. Karena kata Fendi, selain fakkat penambah selera makan juga menambah stamina menjadi segar. “Aku rasa jika asli warga Labuhanbatu tak ada yang tak kenal pakkat,”oceh Fendi.

Dari pantauan, penjual pakkat bisa ditemukan di beberapa titik Kota Rantauprapat, seperti Jalan Perisai, Jalan SM. Raja dan Jalan Aek Tapa. Sejak hari pertama puasa hingga hari ini para pedagang ramai dengan pembeli.

“Setiap bulan puasa, pembeli pakkat selalu ramai. Ini sudah terjadi sejak beberapa tahun lalu,”kata Zefri Lubis pedagang pakkat di Jalan Perisai , kepada wartawan, Minggu (12/6).

Dia menuturkan, saat Ramadan mampu menjual hingga 30 ikat pakkat yang perikat bisa berisi 150 batang muda rotan. Padahal, dibanding hari biasanya, dia hanya mampu menjual 10 ikat saja dan itu pun untuk langganan. Tingginya permintaan ini membuat dia harus dibantu istrinya.

Pria berkulit sawo matang ini pun mengaku mendapat untung kala Ramadan. Sebab tingginya permintaan masyarakat akan pakkat sebagai menu berbuka, menjadi pendulang rezeki bagi keuangan keluarganya. Selain pakkat, dia juga menjual makanan tradisional lain seperti anyang, lemang, ikan mas panggang, dan bumbu ayang, bumbu ikan bakar, dan bumbu pakkat. Untuk memenuhi permintaan pelanggannya, pakkat yang merupakan makanan khas Mandailing atau Tapanuli Selatan itu didatangkan dari Kabupaten Padang lawas atau Gunung tua. Tempat berjualannya pun sangat sederhana, hanya memakai drum bekas sebagai panggangan dan meja untuk menggelar pakkat.

“Harga yang dibanderol untuk per batang pakkat sebesar Rp2.000 dan bumbu per bungkusnya Rp5.000,” katanya.

Sementara Kurnia yang berjualan pakkat di Jalan Sisingamangaraja, tepatnya di simpang Jalan KH Dewantara, mengaku hanya menjual pakkat setiap bulan Ramadan. Pakkat yang dijual pemuda warga Jalan Rantau lama ini berasal dari Kotapinang dan Langgapayung.

“Kami memesannya melalui agen di Kotapinang dan Langgapayung, kemudian dijemput di terminal. Harga masih terjangkau, Rp2.000 per batang. Kami sudah berjualan mulai pukul 13..00 WIB hingga berbuka puasa. Seperti puasa sebelumnya, biasanya laku habis,” katanya.(ab/ss-rp)

Kata kunci terkait:
Huta ginjang pakkat

Lihat Juga

Tidak Semua Program Dan Kegiatan Yang Telah Ditetapkan Dapat Dilakukan Oleh Pemerintah Sendiri

Rantauprapat | suarasumut.com  –  Pemerintah menyadari bahwa tidak semua program dan kegiatan yang telah ditetapkan ...