Pengumuman & Ucapan:
Beranda ›› Foto & Video ›› LGBT Bertentangan Dengan Moral Dan Pancasila

LGBT Bertentangan Dengan Moral Dan Pancasila

Medan | suarasumut.com  – Pancasila sebagai falsafah hidup bangsa menentang LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transeksual).

Demikian dikatakan Kandidat Pemuda Muhammadiyah Kota Medan Partaonan Harahap,ST.MT menyebutkan dalam konprensi pressnya, Minggu (14/2), sebagai Negara Pancasila jelas tidak sependapat dengan LGBT. Dalam sila pertama Pancasila, menyatakan bahwa bangsa mengakui Ketuhanan yang Maha Esa. Penjabarannya dalam pasal 29 UUD 1945 dimana Negara menjamin agar setiap warga Negara untuk melaksanakan ajaran agamanya. Ada 6 agama di dan kesemuanya tidak setuju pernikahan sesama jenis.

“Apalagi agama mayoritas di bumi nusantara adalah Islam yang sangat tegas menolak hal tersebut. Bahkan dalam kitab suci al Qur’an dikatakan Allah melaknat kaum Luth dan menghukumnya dengan azab yang pedih tatkala kaum Sodomi yang berkelakuan homo seksual sangat mengebiri budaya dan melanggar etika dan kodrat manusia. Apalagi manusia diciptakan sebagai laki-laki dan perempuan memiliki kodrat menikah untuk menghasilkan keturunan. Dimana hal itu tidak dapat dilakukan dalam perkawinan sesama jenis. Maka, sudah sepantasnya masyarakat Indonesia menolak. Pemerintah semestinya juga membuat aturan yang tegas mengenai hal ini untuk menghindari kemaslahatan umat,”tegas partaonan.

Sementara itu, Tim Forum Lintas abang Musahar, Amnur, Sudirman, , Untung, Yandri, Ilhan Tanjung, Idham dan Bayu menilai lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LBGT) tidak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Menikah (cinta) sesama jenis itu merupakan larangan, bukan pilihan. Agama mana pun melarangnya, termasuk dasar negara kita.

Mereka yang mengalami problem penyimpangan karena berbagai sebab, perlu diberi solusi yang baik. Tidak dengan memusuhi dan memberi sanksi sosial sebab hal tersebut akan semakin menjauhkan mereka. “Kita tidak boleh memusuhi mereka yang menderita kelainan. Kita harus merangkul mereka, tetapi bukan berarti kita membenarkan sesuatu yang menyimpang,” terang Musahar.

Amnur menambahkan, fenomena homoseksualitas tidak dapat diterima dalam hukum nasional yang bersendikan Ketuhanan Yang Maha Esa karena tidak saja bertentangan dengan ajaran semua agama, namun juga menghancurkan kemanusiaan. Karena itu semua pihak harus berupaya mengatasi gejala yang semakin mengkhawatirkan tersebut. “Perkawinan adalah peristiwa sakral, prosesi ibadah, dan karena itu harus dilaksanakan sesuai ajaran agama,” ungkapnya.(rl/ss/md)

Lihat Juga

Tokoh Lintas Agama Diajak Untuk Menjaga Kamtibmas

Gunungsitoli | suarasumut.com  –  Seluruh tokoh lintas agama yang ada di Kepulauan Nias diajak ikut …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.