Pengumuman & Ucapan:
Beranda ›› Bisnis & Ekonomi ›› Kontraktor Angkutan PT.KHU Rugikan Pemilik Truck Angkutan Sawit Di Panai Hulu

Kontraktor Angkutan PT.KHU Rugikan Pemilik Truck Angkutan Sawit Di Panai Hulu

Ajamu, suarasumut.com – Para pemilik truk angkutan tandanan buah segar (TBS) sawit di PTPN 4 Unit Kebun Meranti Paham (MEP) merasa dirugikan , Pasalnya sistim pembayaran ongkos angkutan yang dilakukan pihak kontraktor sangat lambat, tidak transparan bahkan terkesan amburadul di Kecamatan Panai Hulu Kabupaten Labuhanbatu.

Akibatnya, para pengusaha angkutan truk hanya dapat pasrah dan mengelus dada walau mendapat perlakuan yang tidak professional dari kontraktor yang sudah puluhan tahun beroperasi di unit MEP dimaksud.

Padahal, kalau bukan karena sigapnya angkutan truk mengangkut TBS, MEP tidak akan mendapatkan prestasi kerja terkait target produksi yang trercapai waktu lalu.

Pengusaha angkutan truk yang juga pengusaha mini market berinisial, S, mengaku sudah menyerahkan Surat Pengantar (SP) sekira satu tahun yang lalu kepada pengurus kontraktor namun hingga detik ini tidak ada pembayaran sisa ongkos angkutan. “Rasanya kesal,” tegasnya.

Kemudian Salmon Manurung, Jonas Purba dan Fiktor Situmorang, kepada wartawan mengaku sistim pembayaran yang dilakukan kontraktor MEP, sangat merugikan pengusaha angkutan truk sebab selain lambat hingga tiga bulan juga tidak tranparan.

Kata Manurung, setiap trip angkut TBS MEP para sopir mengambil 50 persen ongkos angkutan dari kasir sebagai perwakilan kontraktor, dan sisanya akan dibayar satu bulan kemudian. “Tetapi sisa 50 persen itu dibayar tiga bulan kemudian, resikonya terlambat membayar kredit dan kena denda leasing,” ungkapnya.

Kontraktor MEP tidak melihat timpal Purba, truk yang mengangkut TBS MEP itu mayoritas masih kredit dimana pembayaran kredit akan dikenakan denda sebesar Rp.0,2 persen per hari bila terlambat. “Akibat keterlambatan pembayaran kontraktor tidak tepat waktu, pengusaha menanggung denda leasing kredit motor tiap bulan,” timpal Situmorang.

Selain itu lanjutnya, tehnis kerja dilapangan semrawut, sebab tidak ada aturan yang mengikat bagi setiap truk untuk mengangkut disetiap afdeling, “Tidak professional karena penggunaan waktu tidak efisien, saling terobos antara satu dengan lainnya, ongkosnya murah, pungli banyak,” ungkap Purba.

Para pengusaha angkutan meminta Direksi PTPN 4 agar memberikan wewenang kepada masing-masing menejer unit di pesisir pantai Labuhanbatu untuk melakukan kontrak lokal khususnya angkutan TBS, bukan dari Medan dimana hal itu dapat memberdayakan warga setempat selain itu keputusan dapat diambil secepat mungkin.

Menurut sumber kebun Unit MEP yang layak dipercaya, pihaknya siap menjembatani para pengusaha angkutan truk yang belum dibayar oleh kontraktor, namun harus diserahkan bukti Surat Pengantar (SP) agar lebih mudah untuk melakukan kroscek. “Bukti SP dimaksud akan saya bawa ke Aleng, kontraktornya di Medan,” ujar sumber dimaksud.

Selain itu lanjutnya, sistim pembayaran ongkos angkutan TBS Kebun MEP dilakukan dengan mengirimkan giro kerekening kontraktor setiap dua minggu sekali. Artinya, kontraktor bekerja dulu dua minggu kemudian dibayar dengan giro kerekening kontraktor. “Jadi, pembayaran MEP tetap lancar ke kontraktor, tidak ada masalah,” tegas sumber dimaksud.

Selain itu lanjut sumber tadi, sistim kontrak PTPN 4 Unit Ajamu, Unit MEP dan Unit Pane Jaya, langsung dari kantor Direksi Medan, tidak dikelola oleh masing-masing unit seperti yang terjadi di berbagai unit-unit lain. Hal ini terjadi lanjutnya disebabkan kontraktor angkutan TBS dulu dilakukan melalui rel kereta api yang diangkut loko, itu tidak bisa dilakukan kontraktor lokal, saat ini loko hanya berfungsi 30 persen saja, selebihnya sudah truk.

Kelemahannya lanjutnya, kalau ada masalah maka sistim penyelesaiannya sangat lambat karena pemegang keputusan berkedudukan di Medan walaupun perwakilan kontraktor ada di kebun unit, idealnya sistim itu diubah agar lebih menguntungkan semua pihak.

Menejer Kontraktor lapangan PT.Kahar Utama (KHU),Ir. Sakti Tarigan, ketika dikonfirmasi minggu lalu kepada wartawan mengaku pihaknya sudah menjalankan sistim yang ada. “Keterlambatan bayar terjadi karena transfer dari Medan memang lambat,” ungkapnya.

Katanya, bagi siapa saja yang merasa sisa ongkos angkut TBS MEP yang belum dibayar agar menyerahkan bukti SP sehingga dapat dipertanggungjawabkan. ta/ss/lb

Kata kunci terkait:
mobil angkutan sawit, Angkutan sawit, penawaran angkut Tbs kontraktor, bisnis angkutan tbs, uang panai satu truck, menjadi kontraktor penganhkutan buah sawit, mobil angkut sawit, kontraktor pengangkutan ptp iv, kontraktor angkutan ptp 5 mengeluhkan minim nya tarip angkutan tbs, kontraktor angkut tbs

Lihat Juga

Terkait Mau Tampar Anggota, Kadis Pendidikan Akan Nasehati Oknum KUPT Ransel

Rantauprapat | suarasumut.com  –  Terkait ocehan Oknum Kepala Unit Pelaksana Tehnik (KUPT) Dinas Pendidikan,Kecamatan Rantau ...