Pengumuman & Ucapan:
Beranda ›› Headline ›› Ketua Komisi D DPRD Labuhanbatu Serahkan Bukti Kasus Penjualan Bayi Ke Polres

Ketua Komisi D DPRD Labuhanbatu Serahkan Bukti Kasus Penjualan Bayi Ke Polres

Rantauprapat | suarasumut.com  –  Ketua Komisi D DPRD Labuhanbatu Akhmat Saipul Sirait SH datang berkunjung ke Polres Labuhanbatu guna menyerahkan bukti penjualan Bayi yang diduga dilakukan pihak RSUD Labuhanbatu. Hal ini seperti apa yang telah diberitakan oleh beberapa Surat Kabar Harian terbitan Medan belum lama ini. Dengan tujuan, berharap pihak Yuridis dalam hal ini Kepolisian Resort (Polres) Labuhanbatu dapat mengungkap permasalahan ini hingga ke akarnya.

Bukti yang diserahkan oleh Wakil Rakyat yang satu ini, berupa lembar berita yang merupakan kronologis terjadinya kasus tersebut, ditambah koran harian terbitan Medan yang telah memberitakan dugaan penjualan bayi dimaksud, beserta 1 unit CD berisikan rekaman saat Saipul datang mengunjungi keluarga Ayu Mandasari ke kediamannya di Gang Aman Kelurahan Kartini Ranrauprapat, Jumat (5/8) lalu.

Saipul yang kedatangannya diterima langsung oleh Kasat Reskrim Labuhanbatu AKP M Firdaus SIK diruang kerjanya di Mapolres Labuhanbatu menyampaikan, pihaknya berharap Polres Labuhanbatu melalui Sat Reskrim dapat mengungkap masalah ini. Pasalnya, kejadian ini diketahui baru terungkap di Labuhanbatu. Dan disanksikan, peristiwa ini mungkin sudah pernah terjadi sebelumnya, namun sama sekali tidak diketahui masyarakat maupun pihak hukum. Sehingga, sulit dilacak maupun diungkap kebenarannya.

Dalam kesempatan tersebut, Kasat Reskrim Polres Labuhanbatu AKP M Firdaus SIK dengan baik menerima masukan dan bukti yang telah di sampaikan oleh Ketua Komisi D DPRD Labuhanbatu. Serta berharap dapat menjalin kerja sama yang baik dengan Komisi D DPRD maupun Lembaga Legislatif Labuhanbatu dan insan pers guna mengungkap permasalahan dimaksud. Serta menyampaikan, akan segera mempelajari bukti – bukti yang telah diserahkan terlebih dahulu. “Selanjutnya, melakukan pemeriksaan guna mengungkap kebenarannya,”sebut Firdaus.

Kepada Wartawan saat dikonfirmasi Saipul mengatakan, permasalahan ini tidak perlu lagi dilakukan Rapat Dengar Pendapat (RDP) di Komisi D DPRD Labuhanbatu. Sebab, kondisinya sangat erat berkaitan dengan pelanggaran hukum terkait UU Perlindungan Anak serta Traffiking. “Untuk itu, sebaiknya permasalahan ini lebih baik adanya diserahkan kepada pihak hukum guna mengungkap serta membongkar perihal sesunggunnya yang terjadi,”ucap Saipul kepada media usai berkunjung dari Ruang Kerja Kasat Reskrim Labuhanbatu.

“Tadi sudah saya serahkan bukti terkait adanya dugaan penjualan bayi di RSUD Labuhanbatu dengan modus Adopsi oleh karena tak sanggup membayar biaya perawatan bersalin. Komisi D DPRD Labuhanbatu tidak perlu lagi melakukan RDP karena permasalahan ini sangat rentan terhadap pelanggaran hukum, sesuai apa yang digariskan dalam aturan dan peraturan terkait Adopsi Ilegal, UU Perlindungan Anak maupun Traffiking atau Perdagangan Manusia, jadi kita serahkan saja semua hal itu kepada pihak hukum untuk menyelidikinya,”ucap Saipul.

Menurut Saipul, hal ini dilakukannya terkait kasus seperti ini baru ini terungkap di Labuhanbatu. Pasalnya, disanksikan mungkin peristiwa seperti ini sudah banyak terjadi di Labuhanbatu maupun di Rantauprapat, namun tidak diketahui masyarakat, insan pers maupun pihak hukum terkait, sehingga sulit terlacak. Atau mungkin saja, tambah Saipul, sindikat penjualan bayi sudah lama ada di Labuhanbatu, namun sama sekali belum terlacak.

Sebelumnya, Ayu Mandasari (29) tahun ibu dari Salsabila Lubis yang baru lahir berumur 8 hari terpaksa harus direlakan untuk diambil orang lain dari pangkuannya oleh karena tak mampu membayar biaya persalinan cesar di RSUD Labuhanbatu. Usaha antara hidup mati Ayu Mandasari pun melahirkan anak keduanya ini terpaksa harus kandas karena himpitan ekonomi yang menyelimutinya. Hingga datang Sahrul yang di jembati oleh Nurdiana alias Bu Edeng untuk mengambil anaknya Salsabila, kejamnya jerat beban membayar biaya persalinan di RSUD Labuhanbatu pun terlepas.

Ayu Mandasari Warga Gang Aman Jalan Ahmad Yani Kelurahan Kartini Kecamatan Rantau Utara Kabupaten Labuhanbatu, kepada Wartawan akhirnya mengakui dikarenakan himpitan ekonomi, membuat dirinya kendati tak rela tetapi harus pasrah menyerahkan bayi perempuan yang baru dilahirkannya lewat operasi cesar di RSUD Labuhanhatu kepada orang lain.

“Sebenarnya berat pak, ya dengan hati terpaksalah dikarenakan tidak mempunyai uang untuk biaya operasi bedah bersalin di Rumah Sakit dan juga untuk menyelamat nyawa saya dan anak saya, dengan terpaksa saya relakan anak saya diambil orang, walaupun dengan terpaksa, “ungkap Ayu.

Menurut Ayu, sebelumnya ia telah memiliki seorang anak yang masih ikut dengannya sampai saat ini. Sedangkan anak yang baru dilahirkannya bernama Salsabila Lubis adalah anak keduanya yang dengan terpaksa direlakannya diambil orang bernama Syahrul yang bertempat tinggal dan memiliki usaha rumah makan di Simpang Pasar Glugur Rantauprapat.

Ayu juga mengungkapkan, selain yang pertama, melahirkan anak yang kedua, ia juga harus di operasi diruang bedah RSUD Labuhanbatu. Usai operasi, dirinya bingung kemana harus mencari biayanya. Karena sudah 8 hari dirawat dan pihak rumah sakit telah menagih rekening biaya operasinya. Sementara, untuk mengandalkan Kartu BPJS nya, sudah tidak tidak berlaku lagi. Sebab, Kartu BPJS tersebut sudah lama dan sebelum dirinya berumah tangga dan tidak bisa digunakan lagi.

Tidak berapa lama kemudian, lanjut Ayu datang seorang perawat yang bertugas di Bagian Poli Bedah Bu Edeng menawarkan kepadanya, bahwa ada orang mencari anak untuk dijadikan anak angkat mereka. “Atas saran dari Bu Edeng dan juga karena butuh uang untuk membayar biaya operasi cesar, dengan berat hati dirinya harus merelakan anak bayinya yang baru berumur delapan hari harus diambil orang bernama Syahrul,”cetus Ayu kesal.

Ayu juga mengungkapkan, bahwa biaya operasi melahirkan di RSUD Labuhanbatu sebesar Rp. 6 juta ditanggung oleh orang yang mengambil anaknya ditambah untuk perawatan bayi selama di RSUD senilai Rp. 1,5 juta. Sedangkan untuk dirinya diberikan untuk beli jamu sebesar Rp. 1,5 juta.

“Biaya rumah sakit kata perawatnya Bu Edeng sebesar Rp 7,5 juta semuanya bahkan sampai 10 juta. Ya sudah lah, apa mau saya katakan lagi. Sedangkan bayi saya sudah dibawa orang yang bernama Sahrul itu,”ujar Ayu dengan nada sedih.

Hal serupa juga dikatakan Linda (60), ibu Ayu saat mengetahui Wartawan datang mengkonfirmasi anaknya, terkait adanya dugaan penjualan bayi.

“Seperti saya, siapalah yang rela cucunya dibawa orang. Tapi karena mahal kali biaya operasi melahirkan sampai Rp 7,5 juta, maka begitulah kondisinya. Kalau saja cuma Rp. 800.000,- biaya semuanya, bisalah aku cari pinjaman, utang kesana kemari. Ini jang sampai 7,5 juta. Kartu BPJS nya pun tidak berlaku,”ucap Linda kesal.

Linda juga menambahkan, bahwa anaknya Ayu sudah lama ditinggalkan suaminya dan dengan terpaksa cucunya rela diambil orang. Menurutnya, dirinya selaku seorang nenek tak mungkin harus menjual cucunya. Tapi, oleh karena keadaan dan nasib menjadi orang miskin, dimana suaminya hanyalah seorang tukang beca mesin roda tiga, yang selama ini tidak diperhatikan oleh pemerintah, begitu pula pihak Rumah Sakit, terpaksa dirinya harus merelakannya.(ta/ss-lb)

Kata kunci terkait:
Nama lengkap ketua DPRD 2 di labuhan batu

Lihat Juga

Bupati Taput Resmikan Listrik Tenaga Turbin Di Desa Lobusihim Kecamatan Simangumban

Taput | suarasumut.com  –  Usai sambut Kunjungan Presiden RI Joko Widodo, pada malam harinya Bupati ...