Pengumuman & Ucapan:
Beranda ›› Foto & Video ›› Keluarga Petani Bangun Mulia Ajak Perantau Pulkam Lawan Preman Penggarap

Keluarga Petani Bangun Mulia Ajak Perantau Pulkam Lawan Preman Penggarap

Rantauprapat | suarasumut.com  –  Keluarga petani Bangun Mulia Desa Medan Krio Kecamatan Sunggal Kabupaten Deliserdang yang tinggal di Rantauprapat, Hendra Brata Sembiring (Foto), Sabtu (30/1) mengajak seluruh perantau yang didalam negeri maupun luar negeri supaya pulang kampung (Pulkam) untuk melawan preman penggarap lahan pertanian orangtua dan kakek-nenek mereka di Bangun Mulia.

Dikatakannya, saat ini orang tua mereka di Bangun Mulia sangat membutuhkan dukungan keluarga dan seluruh pihak untuk dapat segera membantu penyelesaian pengembalian lahan pertanian padi sawah mereka seluas 9 hektar yang dirampas preman.

Hendra menyebut, lahan pertanian irigasi se Bangun Mulia lengkap dengan bendungannya pernah menjadi proyek percontohan ketahanan pangan di Sumatera Utara, kini telah dirampas dan digarap orang lain dengan ala premanisme. Tetapi Dinas Pengairan Deliserdang dan Dinas Pengairan Sumatera Utara sampai saat ini bungkam, sementara pihak Poldasu yang menerima laporan petani terkait perampasan, pengancaman dan pengrusakan yang dilakukan preman terhadap lahan dan fasilitasnya sejak tahun 2014 sampai saat ini belum ada tanda-tanda tanah petani kembali ke pemiliknya.

“Makanya kita mengajak seluruh warga Bangun Mulia yang ada di perantauan baik di dalam maupun luar negeri agar pulang kampung (Pulkam) melawan preman penggarap mengatasi perampasan tanah milik saudara-saudara dan orang tua kita,” ajaknya.

Ia juga mengharapkan pihak kepolisian agar menggunakan hati nuraninya menangani kasus yang telah dilaporkan masyarakat petani itu. “Petani di sana bukan penggarap, tetapi yang sudah bercocok tanam selama 3 generasi sejak tahun 1953,” tandasnya.

Sementara, Kontras Sumut telah menggandeng Pusat Penelitian Hak Asasi Manusia (Puslitham) USU mengusut kasus ini, dan sudah mengadakan gelar perkara perampasan tanah dan penguatan kapasitas penegakan hukum, Rabu (20/1), di Gedung Puslitham USU. Ketua Puslitham USU, Prof DR Hasim Purba SH MH, turut menjadi pembicara dalam gelar perkara tersebut.

Dalam acara itu, Koordinator KontraS Sumut Herdensi Adnin memaparkan proses pendampingan terhadap petani Bangun Mulia Desa Medan Krio Kecamatan Sunggal yang tanahnya diduga dirampas oleh sekelompok orang sejak 2014.

Kasus yang sudah dilaporkan ke Mabes Polri dan Poldasu itu sepertinya tidak direspon pihak kepolisian. Kondisi ini kemudian membuat petani Bangun Mulia semakin terancam hidupnya karena tidak lagi memiliki penghasilan.

Herdensi Adnin menerangkan kronologis kejadian dari awal. Menurutnya, sengketa di atas lahan 9 hektar yang dimiliki 11 keluarga sejak tahun 1953, dirampas oleh sekelompok orang. Mereka (penggarap) mengaku orang suruhan seseorang yang mengklaim tanah itu miliknya. Petani yang sudah menguasai dan mengelola lahan pertanian secara turun temurun, harus mengalami kerugian karena tanahnya dirampas orang dimaksud.

“Kasus ini berawal sejak 23 April 2014, di mana sekelompok orang melakukan tindakan melanggar hukum seperti penyerobotan lahan, perampasan dan intimidasi terhadap masyarakat petani pemilik lahan,” paparnya.

Tak hanya perampasan tanah, petani Bangun Mulia juga menjadi korban penyerangan sekelompok orang yang diduga preman bayaran. Sekelompok orang ini menggunakan senjata tajam hingga panah beracun.

Pihak dari Kepolisian Daerah Sumatera Utara yang diundang dalam diskusi Gelar Perkara itu tidak terlihat hadir. Hanya ada beberapa dari Polsek. “Undangan sudah diantarkan, tapi pihak kepolisian gak ada yang datang. Padahal ini juga untuk membantu tugas kepolisian dalam penuntasan kasus ini,” tegasnya.(ab/ss/rp)

Lihat Juga

Terkait Mau Tampar Anggota, Kadis Pendidikan Akan Nasehati Oknum KUPT Ransel

Rantauprapat | suarasumut.com  –  Terkait ocehan Oknum Kepala Unit Pelaksana Tehnik (KUPT) Dinas Pendidikan,Kecamatan Rantau ...