Pengumuman & Ucapan:
Beranda ›› Headline ›› Keadilan Bagi Mahasiswi Ini Kandas Dipembelaan, Anggota Peradi Akui Pembuktian Dipersidangan Terpenuhi

Keadilan Bagi Mahasiswi Ini Kandas Dipembelaan, Anggota Peradi Akui Pembuktian Dipersidangan Terpenuhi

Rantauprapat, suarasumut.com – Bukannya membela keadilan bagi terdakwa Monalisa, Mahasiswi salah satu perguruan tinggi di Kabupaten Labuhanbatu ini harus kandas dipembelaan anggota Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi), Jeckson Nababan. Pasalnya, sekalipun kerugian dan luka yang diperbuatnya nihil, namun Jeckson malah mengakui kebenaran materil yang digali dalam pembuktian persidangan telah terpenuhi.

Pantauan suarasumut.com, Selasa (5/5), dalam agenda sidang penyampaian pembelaan, Jeckson Nababan selaku panasehat hukum terdakwa Monalisa hanya menyajikan pledoi dalam 9 alinea atau 2 lembar kertas HVS. Tak pelak, 9 aline pledoi itu tidak menuangkan pembelaan unsure pembuktian atas tuntutan perbuatan pidana pemerasan disertai kekerasan Pasal 368 ayat (2) ke-2 KUHP. “Bahwa fakta-fakta yang terungkap di dalam persidangan baik keterangan saksi-saksi, surat, keterangan terdakwa dan barang bukti semuanya diakui dan dibenarkan oleh terdakwa. Dengan demikian kebenaran materil yang tergali di dalampembuktian di persidangan telah terpenuhi,” kata anggota Peradi, Jeckson Nababan selaku penasehat hukum terdakwa Monalisa saat membaca alinea ke-6 pledoinya dihadapan Majelis Hakim, Arman Siregar, Mince S Ginting, dan Jhonson Sirait serta Jaksa Penuntut Umum (JPU) Erna di ruang sidang Garuda Pengadilan Negeri (PN) Rantauprapat.

Dalam pledoi yang disajikan pada 2 lembar kertas HVS itu, Jeckson Nababan hanya menunjukan pembelaan terhadap tuntutan pidana penjara 1 tahun 6 bulan terhadap terdakwa Monalisa. Sementara, pembuktian unsure objektif dan subjektif tindak pidana pemerasan disertai kekerasan yang masih simpang siur tidak diungkapkan dalam pledoi tersebut.

“Melihat tuntutan Jaksa Penuntut Umum yang sangat tinggi kepada terdakwa sangat kami hargai dan memberikan apresiasi yang tinggi, akan tetapi perlu dipertimbangkan pula hal-hal yang meringankan bagi terdakwa sebagai berikut: Terdakwa merasa sangat bersalah dan menyesali perbuatannya, terdakwa belum pernah dihukum, terdakwa bersikap sopan dipengadilan, terdakwa berterus terang akan perbuatannya, terdakwa berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya lagi,” kata Jeckson Nababan, anggota Peradi itu saat membacakan 2 lembar pledoinya.

Ironinya, saat dikonfirmasi usai persidangan, unsure pemerasan disertai kekerasan yang dilakukan oleh terdakwa Monalisa, Jeckson Nababan malah memberikan keterangan yang berbeda dengan keterangan JPU Erna yang dikonfirmasi beberapa waktu lalu di PN Rantauprapat. Versi Jeckson Nababan, handphone yang diambil oleh terdakwa dijadikan sebagai alat untuk melakukan pemerasan dengan kekerasan (ancaman,red) “Handphone dijadikan alat (pemerasan,red), kalau gak kau kasi, awas kau,” jawab Jeckson Nababan saat dikonfirmasi usai persidangan digelar.

Sementara, versi JPU, Erna menyebut handphone merupakan objek perkara pidana pencurian senilai Rp1 juta. Sedangkan unsure kekerasan yang dilakukan oleh terdakwa Monalisa dikarenakan adanya pemukulan di kepala korban Fsrh yang saat itu masih menggunakan helm. “Ada diambil. Karena takut diteriaki si korban (Fsrh,red), makanya dikembalikan. Nilai kerugiannya Rp1 juta,” kata Erna beberapa waktu lalu di PN Rantauprapat.

Pada pemberitaan sebelumnya, kasus yang menjerat Monalisa bermula pada tanggal 24 Februari 2015 sekitar pukul 14.30 WIB di jalan Menara, Kelurahan Siringo-ringo, Kecamatan Rantau Utara, Kabupaten Labuhanbatu. Saat itu, sepeda motor yang dikendarai Monalisa bersama Pspt (terdakwa dalam berkas terpisah) mogok karena kehabisan bensin.

Saat itu, Pspt dan Monalisa meminta uang Rp10 ribu kepada Fsrh yang sedang melintas di lokasi yang sama. Namun karena Fsrh mengaku tidak memiliki uang, Pspt mengambil handphone korban yang diletakan di bagasi depan (terbuka,red) sepeda motor milik korban.

Usai handphone dikuasai, Monalisa mengajukan kembali permintaan uang Rp10 ribu kepada korban untuk mengisi bensin sepeda motor yang dikendarinya bersama Pspt. Karena Fsrh tetap mengaku tidak punya uang, Monalisa memukul (tangan kosong,red) kepala korban yang saat itu masih menggunakan helm dikepalanya, dan handphone dikembalikan kepada korban.

Namun naas, sekitar pukul 15.30 WIB, dengan mengendarai sepeda motor, Fsrh yang ditemani ibunya mendatangi kembali Monalisa dan Pspt di TKP. Melihat gelagat buruk itu, Monalisa dan Pspt melarikan diri hingga akhirnya ditangkap di Simpang Jalan Padang Bulan, Kelurahan Padang Bulan, Kecamatan Rantau Utara, Kabupaten Labuhabatu.

Tak berselang berapa lama, dengan mengendarai mobil Patroli, satuan Polri Resor Labuhanbatu tiba di lokasi penangkapan Monalisa dan Pspt dan membawanya ke Polres Labuhanbatu untuk diperiksa. Sesuai keterangan terdakwa Monalisa dan Ibunya, Megawati br Sitorus, serta tidak dibantah Kasipidum, Alan Baskara, barang bukti handphone diserahkan korban kepada anggota Polri di Resor Labuhanbatu. “Handphone yang dituduh kami curi, korban sendiri yang menyerahkan kepada polisinya,” kata Monalisa beberapa waktu lalu di ruang sel PN Rantauprapat. (ls/ss/lb)

Lihat Juga

Cegah Mismatch Menahun, BPJS Kesehatan Diminta Koreksi Diri

Jakarta | suarasumut.com  –  Anggota Komisi IX Irma Suryani mengibaratkan defisit yang dialami Badan Penyelenggara ...