Pengumuman & Ucapan:
Beranda ›› Headline ›› Keadilan Bagi Klien Disoroti, Anggota Peradi, Jeckson Nababan: Jangan Kau Campuri Kerjaan Ku

Keadilan Bagi Klien Disoroti, Anggota Peradi, Jeckson Nababan: Jangan Kau Campuri Kerjaan Ku

Rantauprapat, suarasumut.com – Sungguh ironis, anggota Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) di Kabupaten Labuhanbatu, Jeckson Nababan SH merasa terganggu atas peranan Pers mendorong terwujudnya supremasi hukum di Pengadilan Negeri (PN) Rantauprapat. Menurut Jeckson Nababan, pemberitaan media suarasumut.com terkait bantuan hukum terhadap kliennya terdakwa Monalisa merupakan asumsi sepihak.

“Apa maksud mu? Banyak kau belajar. Profesionallah. Jangan kau masukkan asumsimu,” kata Jeckson Nababan kepada suarasumut.com tanpa basa-basi sesaat panggilan masuk dari seluler pribadinya diterima, tanpa menjelaskan judul berita yang dimaksudnya itu.

Sangat disayangkan, sekalipun Jeckson Nababan menganggap isi pemberitaan merupakan asumsi sepihak, namun dirinya tidak dapat membantah isi berita yang disajikan merupakan fakta yang terjadi saat dirinya memberikan bantuan hukum terhadap terdakwa Monalisa di PN Rantauprapat.

Ironisnya, pengacara yang sering beracara di PN Rantauprapat itu malah menganggap wartawan media ini telah mencampuri bantuan hukum yang diberikan secara cuma-cuma (prodeo,red) kepada terdakwa Monalisa. “Jangan kau campuri kerjaan ku. Banyak kau belajar,” kata Jeckson Nababan mengakhiri adu argument yang terjadi via seluler.

Sekedar untuk diketahui, dalam sepekan terakhir, 2 judul berita menyoroti bantuan hukum yang diberikan Jeckson Nababan kepada terdakwa Monalisa. Berdasarkan pantauan dan informasi yang dihimpun, Jeckson Nababan menunjukan kesan kurang serius menjalankan tugas-tugas pembelaan bagi terdakwa Monalisa untuk mendapatkan keadilan.

Dalam pledoi terdakwa Monalisa yang disampaikan Jeckson Nababan (Selasa, 5 Mei 2015) yang hanya 2 lembar atau 9 alinea tidak menuangkan pembuktian unsur objektif dan subjektif tindak pidana pemerasan disertai dengan kekerasan yang dilakukan oleh kliennya. Dalam pledoi yang dibacakannya kebenaran materil yang tergali dalam pembuktian di persidangan telah terpenuhi, dan seluruh keterangan saksi-saksi, juga surat atas tindak pidana pemerasan dan kekerasan diakui Monalisa.

Padahal, fakta sidang atas keterangan saksi-saksi yang dimaksud Jeckson Nababan tidak mengungkap unsur pidana pemerasan disertai kekersan yang dilakukan oleh kliennya terhadap korban Fsrh (16). Dimana, saat agenda sidang keterangan saksi, Jeckson Nababan tidak berada dalam persidangan karena dirinya belum menerima kuasa sebagai panasehat hukum terdakwa Monalisa.

Pada pemberitaan sebelumnya, kasus yang menjerat Monalisa bermula pada tanggal 24 Februari 2015 sekitar pukul 14.30 WIB di jalan Menara, Kelurahan Siringo-ringo, Kecamatan Rantau Utara, Kabupaten Labuhanbatu. Saat itu, sepeda motor yang dikendarai Monalisa bersama Pspt (terdakwa dalam berkas terpisah) mogok karena kehabisan bensin.

Saat itu, Pspt dan Monalisa meminta uang Rp10 ribu kepada Fsrh yang sedang melintas di lokasi yang sama. Namun karena Fsrh mengaku tidak memiliki uang, Pspt mengambil handphone korban yang diletakan di bagasi depan (terbuka,red) sepeda motor milik korban.

Usai handphone dikuasai, Monalisa mengajukan kembali permintaan uang Rp10 ribu kepada korban untuk mengisi bensin sepeda motor yang dikendarinya bersama Pspt. Karena Fsrh tetap mengaku tidak punya uang, Monalisa memukul (tangan kosong,red) kepala korban yang saat itu masih menggunakan helm dikepalanya, dan handphone dikembalikan kepada korban.

Namun naas, sekitar pukul 15.30 WIB, dengan mengendarai sepeda motor, Fsrh yang ditemani ibunya mendatangi kembali Monalisa dan Pspt di TKP. Melihat gelagat buruk itu, Monalisa dan Pspt melarikan diri hingga akhirnya ditangkap di Simpang Jalan Padang Bulan, Kelurahan Padang Bulan, Kecamatan Rantau Utara, Kabupaten Labuhabatu.

Tak berselang berapa lama, dengan mengendarai mobil Patroli, satuan Polri Resor Labuhanbatu tiba di lokasi penangkapan Monalisa dan Pspt dan membawanya ke Polres Labuhanbatu untuk diperiksa. Sesuai keterangan terdakwa Monalisa dan Ibunya, Megawati br Sitorus, serta tidak dibantah Kasipidum, Alan Baskara, barang bukti handphone diserahkan korban kepada anggota Polri di Resor Labuhanbatu. “Handphone yang dituduh kami curi, korban sendiri yang menyerahkan kepada polisinya,” kata Monalisa beberapa waktu lalu di ruang sel PN Rantauprapat

Jaksa Penuntut Umum (JPU), Erna yang dikonfirmasi di kantor Kejaksaan Negeri Rantauprapat menyebutkan, dalam perkara yang menjerat Monalisa, mereka hanya memiliki 1 barang bukti, yakni handphone milik korban Fsrh. Bahkan Erna secara tegas menerangkan, visum et revertum tidak ada. “Hanya handphone,” jawab Erna dengan tegas. (ls/ss/lb)

Kata kunci terkait:
ketua Peradi Labuhanbatu

Lihat Juga

Fakultas Teknik UMSU Lakukan Rekrutmen Staff

Medan | suarasumut.com  –  Fakultas Teknik UMSU menjalin kerjasama dengan Incasi Raya Group dan Gunas ...