Pengumuman & Ucapan:
Beranda ›› Headline ›› Kasus Laka, Terdakwa Ditahan, Korban Menangis

Kasus Laka, Terdakwa Ditahan, Korban Menangis

Rantauprapat | suarasumut.com  –  Namanya Juta Rahma Yati Br Juntak (28) warga jalan Perjuangan Desa Pondok Batu Aeknabara Kecamatan Bila Hulu seketika menangis terharu setelah pelaku yang melanggar dirinya ditahan oleh Majelis Hakim yang diketuai oleh Tumpal Sagala, Pada sidang yang digelar di Pengadilan negeri Rantauprapat, Senin(7/12).

Sedangkan terdakwa Ronald Gultom (40) warga yang sama hanya bisa pasrah atas Penetapan yang dibacakan oleh Hakim. “Diperintahkan Agar Jaksa Penuntut Umum melakukan penahanan terhadap terdakwa terhitung mulai hari ini,”ucap Tumpal kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU) Malda dan terdakwa sambil mengetuk palu.

Usai persidangan, korban Juta Rahma Yati Br Juntak didampingi suaminya Feri Rolin (38) menceritakan peristiwa kecelakaan yang dialaminya. Dimana kecelakaan yang mengakibatkan tangan sebelah kirinya patah itu terjadi pada tanggal 11 Mei 2015 yang lalu sekira pukul 23.00 Wib.

Saat itu Korban bersama suaminya baru saja selesai menghadiri acara kirim doa kepada saudaranya yang sudah meninggal dunia dan hendak pulang ke rumah. Namun, didalam perjalanan tepatnya di jalan Kotapinang Desa Perbaungan simpang Gapuk Kecamatan Bilah Hulu tiba-tiba rantai sepeda motor yang mereka kendarai putus.

“Karena Rantai sepeda motor kami putus, kami dorong lah. Sedangkan, aku mendorong dari belakang,” terang korban.

Namun, saat sedang mendorong sepeda motor tiba-tiba korban ditabrak dari belakang oleh terdakwa dengan mengendarai sepeda motor Honda Mega Pro. Seketika itu pula korban jatuh pingsang dengan kondisi kepala terluka dan tangan kiri patah.

“Saat kejadian aku tidak sadarkan diri. Kata suami ku, aku langsung dilaringan ke RSUD Rantauprapat. Sebab, kepala ku luka dan tangan kiri ku patah. Sedangkan si terdakwa dibawa warga ke Rumah sakit PTPN III Aek Nabara. Sebab, terdakwa satpam di Kebun itu,” ujar Korban.

Namun, kata korban, selama proses pengobatan maupun setelah pulang dari RSUD Rantauprapat pihak terdakwa tidak bertanggung jawab untuk biaya pengobatan. Sehingga korban pun melaporkan terdakwa ke Polisi.

“Kata dokter tangan ku harus dioperasi sebanyak dua kali. Untuk sekali operasi biayanya mencapai Rp.12 Juta. Nah, saat diminta suami ku biaya pengobatan mereka hanya sanggup Rp.500 ribu. Dan yang buat sakit hati ku, kata terdakwa dirinya kebal hukum. Atas dasar itu lah, makanya perkara ini lanjut,” terang korban sambil menghapus air mata.

Atas penahanan yang dilakukan oleh Hakim, korban berharap kepada penegak hukum agar terdakwa dihukum seberat-beratnya. “Saya menangis karena terharu terhadap sikap hakim yang berani menahan terdakwa. Dan saya berharap agar si terdakwa dapat dihukm seberat-beratnya,”pinta Korban.

Sementara itu, terdakwa yang ditemui di sel tahanan pengadilan mengaku tidak menyangka akan ditahan oleh hakim. Sebab, menurutnya dirinya sudah berusaha melakukan upaya damai dengan memberikan uang perobatan.

“Bukan 500 ribu bang, aku hanya sanggup Rp.2,5 Juta untuk membantu biaya pengobatan si korban. Lebih dari situ aku gak sanggup bang. Sebab, penghasilan ku pas-pasan untuk membiayai kebutuhan anak dan istri ku. Makanya aku gak nyangka sampai ditahan seperti ini bang. Bukan aku gak mau tanggung jawab, tapi memang segitulah sanggup ku,”kata terdakwa sambil dibawa petugas kedalam mobil tahanan untuk diantar ke Rutan Lobusona Rantauprapat. (ab/ss/rp)

Kata kunci terkait:
berita kasus di aek nabara kec barumun sumatera utara, lobusona rantauprapat

Lihat Juga

Pemkab Nias Bantu Lanjut Usia Terlantar

Nias | suarasumut.com  —  Pemerintah Kabupaten Nias memberikan bantuan kepada 100 orang Lanjut Usia terlantar ...