Pengumuman & Ucapan:
Beranda ›› Headline ›› Kapolres Labuhanbatu Tandatangani Surat Perintah Penangkapan Mahasiswi Ini

Kapolres Labuhanbatu Tandatangani Surat Perintah Penangkapan Mahasiswi Ini

Rantauprapat, suarasumut.com – Kejanggalan demi kejanggalan perkara terdakwa Monalisa, mahasiswi salahsatu perguruan swasta di Kabupaten Labuhanbatu semakin terungkap. Kali ini, kejanggalan ditemukan atas terbitnya surat perintah penangkapan Monalisa pada hari Minggu Nomor SP-Kap/44/I/2015/Reskrim tanggal 24 Januari 2015 yang ditandatangani oleh Kapolres Labuhanbatu, AKBP Teguh Yuswardhie Sik MH.

Informasi yang dihimpun suarasumut.com hingga Senin (11/5), surat perintah penangkapan biasanya ditandatangani oleh Penyidik setingkat Kepala Satuan Polres Labuhanbatu. Seperti halnya, penerbitan surat perintah penangkapan tersangka kasus korupsi dana sertifikasi guru, Halomoan nomor SP-Kap/230/III/2011/Reskrim tanggal 15 Maret 2011.

Dalam perkara Halomoan, Kasat Reskrim saat itu AKP Tito Hutahuruk dengan nilai perkara mencapai Rp2,9 Milyar. Sementara, perkara Monalisa seyogyanyakorban mengalami kerugian nihil namun dipaksakan menjadi Rp1 juta. Dimana, sesuai faktanya, handphone mili korban telah dikembalikan tanpa paksaan saat kejadian terjadi.

Kapolres Labuhanbatu, AKBP Teguh Yuswardhie yang dikonfirmasi melalui short service massage (SMS) hingga berita ini dikirmkan ke meja redaksi tak kunjung memberikan penjelasan.

Sekedar untuk diketahui, perkara Monalisa saat ini menantikan putusan yang adil demi terciptanya kepastian hukum dan bermanfaat untuk kepentingan masyarakat untuk diperlakukan semestinya sesuai peraturan perundang-undangan. Pasalnya, unsure pidana kekerasan atas perbuatan Monalisa sangat bertentangan dengan Pasal 89 KUHP.

Menurut Jaksa Penuntut Umum (JPU) Erna, unsure kekerasan yang dilakukan Monalisa adalah pemukulan di kepala korban Fsrh (16) yang saat itu masih menggunakan helm. Sementara, Penasehat Hukum, Jeckson Nababan yang terkesan tidak serius melakukan pembelaan malah menyebutkan unsure kekerasannya dikarenakan adanya ancaman yang dilontarkan oleh Monalisa terhadap korban.

Sesuai fakta persidangan, unsure kekerasan sebagaimana dimaksud JPU, Erna dikuatkan dengan kesaksian saksi korban Fsrh dan saksi mahkota Pspt (16) di persidangan dengan agenda keterangan saksi. Padahal, sesuai Pasal 89 KUHP, yang dimaksud kekerasan adalah membuat tidak berdaya ataupun pingsan.

Dalam pemenuhan unsure pemerasan disertai dengan kekerasan sebagaimana dimaksud dengan PasaL 368 ayat (2) yang secara nyata mengatur, kekerasan dilakukan agar korban memberikan barang sesuatu. Sementara, faktanya, Monalisa melakukan pemukulan di kepala korban bukan untuk mendapatkan handphone ataupun uang, tetapi karena kesal atas pengakuan korban yang tidak memiliki uang.

Pada pemberitaan sebelumnya, kasus yang menjerat Monalisa bermula pada tanggal 24 Februari 2015 sekitar pukul 14.30 WIB di jalan Menara, Kelurahan Siringo-ringo, Kecamatan Rantau Utara, Kabupaten Labuhanbatu. Saat itu, sepeda motor yang dikendarai Monalisa bersama Pspt (terdakwa dalam berkas terpisah) mogok karena kehabisan bensin.

Saat itu, Pspt dan Monalisa meminta uang Rp10 ribu kepada Fsrh yang sedang melintas di lokasi yang sama. Namun karena Fsrh mengaku tidak memiliki uang, Pspt mengambil handphone korban yang diletakan di bagasi depan (terbuka,red) sepeda motor milik korban.

Usai handphone dikuasai, Monalisa mengajukan kembali permintaan uang Rp10 ribu kepada korban untuk mengisi bensin sepeda motor yang dikendarinya bersama Pspt. Karena Fsrh tetap mengaku tidak punya uang, Monalisa memukul (tangan kosong,red) kepala korban yang saat itu masih menggunakan helm dikepalanya, dan handphone dikembalikan kepada korban.

Namun naas, sekitar pukul 15.30 WIB, dengan mengendarai sepeda motor, Fsrh yang ditemani ibunya mendatangi kembali Monalisa dan Pspt di TKP. Melihat gelagat buruk itu, Monalisa dan Pspt melarikan diri hingga akhirnya ditangkap di Simpang Jalan Padang Bulan, Kelurahan Padang Bulan, Kecamatan Rantau Utara, Kabupaten Labuhabatu.

Tak berselang berapa lama, dengan mengendarai mobil Patroli, satuan Polri Resor Labuhanbatu tiba di lokasi penangkapan Monalisa dan Pspt dan membawanya ke Polres Labuhanbatu untuk diperiksa. Sesuai keterangan terdakwa Monalisa dan Ibunya, Megawati br Sitorus, serta tidak dibantah Kasipidum, Alan Baskara, barang bukti handphone diserahkan korban kepada anggota Polri di Resor Labuhanbatu. “Handphone yang dituduh kami curi, korban sendiri yang menyerahkan kepada polisinya,” kata Monalisa beberapa waktu lalu di ruang sel PN Rantauprapat

Jaksa Penuntut Umum (JPU), Erna yang dikonfirmasi di kantor Kejaksaan Negeri Rantauprapat menyebutkan, dalam perkara yang menjerat Monalisa, mereka hanya memiliki 1 barang bukti, yakni handphone milik korban Fsrh. Bahkan Erna secara tegas menerangkan, visum et revertum tidak ada. “Hanya handphone,” jawab Erna dengan tegas. (ls/ss/lb)

Lihat Juga

Kapolres : Anggota Polres Labuhanbatu Yang Beck-Up Judi Lapor Ke- Saya

Rantauprapat | suarasumut.com  –  Polres Labuhanbatu terus gencar memburu pelaku perjudian diwilayah hukumnya. Terbukti dengan ...