Pengumuman & Ucapan:
Beranda ›› Foto & Video ›› Dua Anak Medan Jadi Pembicara It’s Time To Talk Pada Global Child Forum Di Swedia

Dua Anak Medan Jadi Pembicara It’s Time To Talk Pada Global Child Forum Di Swedia

Medan | suarasumut.com  –  Ruth Kesia Simatupang (17 thn) dan Fauza Ananda (16 thn), dua anak dari Kota Medan menjadi pembicara mewakili Indonesia pada Global Child Forum yang dilaksanakan di Royal Palace, Stockholm, Swedia (11/4/2018).

Kedua merupakan pekerja anak yang selama ini menjadi dampingan Yayasan Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) untuk program penarikan dan pembedayaan pekerja anak di Medan.

“Ruth Kesia Simatupang berasal dari Kual Bekala, bersekolah kelas II di SMAN 2 Medan dan sehari-hari bekerja sebagai pemulung, sementara Fauza Ananda sudah putus sekolah dan sehari-hari bekerja di pabrik sablon. Fauza sudah tamat SMP melalui kejar Paket B dan tahun 2018 ini akan melanjutkan sekolah ke SMA,”jelas Direktur Eksekutif Yayasan PKPA, Keumala Dewi, yang mendampingi kedua anak dalam forum global tersebut, dari Stockholm (11/4/2018).

Lebih lanjut, Keumala Dewi, menyampaikan bahwa Yayasan PKPA sudah dua tahun terlibat aktif dalam kampanye inklusi bertema It’s Time to Talk di Sumatera Utara untuk meningkatkan keterlibatan sektor bisnis untuk menerapkan perlindungan anak baik dalam operasional mereka maupun dalam program tanggungjawab sosialnya.

“Melalui kampanye “Its time to talk”, lebih dari 1.800 anak yang bekerja di 36 negara dapat membagikan berbagai pandangan dan pesan mereka terhadap dunia, termasuk masyarakat, pemerintah, keluarga dan sektor bisnis,”tegas Keumala Dewi.

Menurutnya, dalam Global Child Forum tersebut anak-anak membagikan alasan dan motivasi yang berbeda-beda terkait alasan mereka bekerja.

“Dua orang anak-anak tersebut, bukan saja sebagai perwakilan PKPA tapi mewakili 1.800 anak yang bekerja di 36 negara di dunia. Pada forum tersebut mereka menyampaikan bahwa, umumnya anak-anak seusia mereka bekerja karena keterbatasan ekonomi keluarga, ingin membantu pekerjaan orang tua agar upah yang diperoleh lebih besar atau agar memperoleh keterampilan dan pengalaman dan terakhir, dengan bekerja mereka dapat memenuhi kebutuhan sekolahnya,”ujar Keumala Dewi mengenai isi pidato kedua anak tersebut.

Pada kesempatan tersebut pidato Ruth dan Fauza juga menyinggung mengenai pentingnya perbaikan fasilitas dan kualitas pendidikan dan pelatihan keterampilan bagi anak anak di seluruh dunia.

“Perusahaan dapat mendukung pendidikan yang berkualitas untuk semua anak, termasuk anak-anak disabilitas. Sektor usaha juga dapat membagikan dan menggunakan keuntungan mereka untuk melaksanakan pelatihan keterampilan dan memberikan modal usaha kepada anak-anak disabilitas dan anak putus sekolah agar mereka dapat memperbaiki kehidupan mereka,” jelas Keumala Dewi mengutip pidato Fauza, melalui pesan Whatsapp.

Lebih lanjut, Keumala Dewi menyampaikan mengenai pidato Ruth Kesia Simatupang yang meminta pemerintah harus berkomintmen membuat kebijakan atau undang-undang yang memastikan sektor bisnis bertanggungjawab dan berkewajiban untuk melindungi anak-anak dari pekerjaan yang berbahaya dan tidak akan mengeksploitasi anak-anak.

“Ruth sangat yakin bahwa bisnis seharusnya tidak mengizinkan anak-anak untuk melakukan pekerjaan yang berbahaya atau pekerjaan berat. Anak-anak seharusnya tidak dieksploitasi dan tidak diminta untuk bekerja dalam jangka waktu yang lama dan dibayar murah. Jika kami bekerja, kami seharusnya dibayar secara adil,”tambah Keumala mengutip pidato Ruth. .

Diakhir pesannya, Keumala Dewi menyampaikan bahwa Global Child Forum merupakan organissi non profit yang didirikan keluarga Kerajaan Swedia untuk membntu anak anak dan menjembatani relasi antara pemerintah, dunia usaha dan anak anak di seluruh dunia.

Pertemuan tahun 2018 tersebut, tambah Keumala Dewi, merupakan pertemuan ke 10 yang dihadiri setidaknya 50 perwakilan sektor bisnis dari berbagai negara seperti Nestlé, Standard Chartered Bank, Netherland Bank, Tege Energy, IKEA, Badan PBB dan Lembaga Non Pemerintah dari 36 negara yang membagikan pengalaman baik mereka dalam menerapkan partisipasi anak dan keharusan sektor bisnis untuk peduli dan menghargai anak-anak yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam proses bisnis.

“PKPA sendiri terlibat dalam kampanye Its time to talk mewakili Indonesia dan kedua anak Medan tersebut terpilih menjadi perwakilan pekerja anak di 36 negara yang terlibat dalam kampanye Its time to talk dan terpilih menghadiri Global Child Forum terssebut,”pungkas Keumala Dewi.(rd/ss-md)

Lihat Juga

Medan - Semenjak dibukanya proses pendaftaran Bakal Calon (Balon) DPD RI dari Dapil Sumutera Utara yang akan maju pada Pemilu serentak tahun 2019 oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi, sudah ada tiga belas kandidat yang datang menyerahkan berkas syarat dukungannya. WTP Simarmata menyerahkan dukungan sebagai bakal calon Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPD) RI di hari keempat dan pendaftar kesebelas di kantor Komisi Pemilihan Umum Sumut, Rabu (25/4/2018) yang diterima langsung oleh Komisioner KPU Sumut Dr Iskandar Zulkarnain WTP Simarmata mendaftarkan diri dengan didampingi Ketua Tim Ir Tumpal Simarmata dan sejumlah tim suksesnya dan simpatisan dimana terlebih dulu menandatangani pendaftaran. WTP Simarmata menyerahkan bukti dukungan fotokopi dukungan KTP masyarakat ke KPU Provinsi Sumut sebanyak 4671 lembar yang tersebar di sejumlah Kabupaten/Kota. Penerimaan pendaftaran balon DPD ke KPU Sumut itu secara resmi sudah dibuka Ketua KPU Sumut Mulia Banurea. Usai dibuka selanjutnya dilakukan penyerahan berkas kepada KPU Sumut untuk dilakukan pemeriksaan persyaratan dukungan oleh tim yang dibentuk KPU Sumut. Usai mendaftar, WTP Simarmata mengatakan, dirinya optimis akan lolos sebagai peserta calon Anggota DPD RI Dapil Sumut. Bahkan niatnya maju anggota DPD RI tersebut lantaran mendapat dukungan dari tokoh-tokoh Agama, Akademisi, Organisasi dan Masyarakat. “Untuk menjalankan perjuangan ini, sambung WTP, pihaknya sudah membentuk tim pemenangan di setiap daerah kabupaten/kota dan termasuk tim penghubung (LO) yang tugasnya selalu memantau di KPU provinsi baik ada hal-hal kekurangan yang harus dilengkapi,” imbuhnya. WTP Simarmata juga meminta warga masyarakat untuk membantu KPU dalam mensosialisasikan Pemilu Damai sesuai perundang-undangan. Menurut Edward Hs. Siallagan, WTP Simarmata sebagai bakal calon anggota DPD RI karena sosok dan kualifikasi yang dimilikinya sangat dibutuhkan melihat situasi dan kondisi bangsa saat ini. "Disamping memang mendapat dukungan dari tokoh agama, akademisi, organisasi dan masyarakat agar dirinya mengabdikan tenaga dan pikirannya untuk bangsa dan negara, khususnya Sumatera Utara, pungkas Sekjen DPP Punguan Siallagan Indonesia (Parsibor). Informasi yang diperoleh, sejauh ini sudah ada 13 balon DPD RI yang menyerahkan mandat ke KPU Sumut. Pengumuman penyerahan syarat dukungan balon DPD ini berdasarkan Peraturan KPU No.5/2018 sudah dibuka sejak 26 Maret-8 April 2018 di kantor KPU Sumut. Sedangkan dari tahapan yang sudah berlangsung, pada 22 April-26 April 2018 sudah harus menyerahkan dokumen syarat dukungan sebagai balon anggota DPD RI. Turut ikut Ketua Umum DPD Punguan Siallagan (Parsibor) Kota Medan Sekitarnya, Raswin Siallagan, S.Sos, Drs Saragi Simarmata MM Sekretaris Punguan Simataraja Kota Medan sekaligus Calek DPRD Kota Medan Dapil 3 (Medan Tembung, Medan Perjuangan dan Medan Timur) dari Partai Nasdem. Pengurus DPP Punguan Simataraja Indonesia diantaranya, John Wenson Simarmata, Rinton Simarmata, Richard Simarmata, Dosi Raja Simarmata, Lazarus Bona Simarmata, Abdon Simarmata STh dan Uba Simarmata. (js)

Korem 023/KS Gelar Samapta Periodik Semester Satu

Sibolga | suarasumut.com  –  Prajurit Korem 023/KS sedang melaksanakan samapta periodik semester satu di lapangan ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *