Pengumuman & Ucapan:
Beranda ›› Kabar Sumut ›› Dairi ›› Dihadiri Keluarga Korban, Polres Dairi Gelar Rekontruksi 2 Kasus Pembunuhan Sekaligus

Dihadiri Keluarga Korban, Polres Dairi Gelar Rekontruksi 2 Kasus Pembunuhan Sekaligus

Sidikalang, suarasumut.com – Polres Dairi melalui Sat Reskrim Polres Dairi, menggelar 2 perkara kasus pembunuhan sekaligus, Selasa (25/11) di Mako Polres Dairi, dipimpinan Kasat Reskrim didampingi Kanit Tipikor Polrs Dairi Ipda Tugono.

Rekonstruksi pertama kasus pembunuhan yang dilakukan Domy Panjaitan (38) terhadap anak dibawah umur Tesya Br Sinambela (4), Warga dusun II Bongkaras, Kecamatan Silima Pungga-pungga, Dairi pada Sabtu (25/10) yang lalu.

Dalam rekonstruksi dengan 35 adegan itu terlihat, bahwa tersangka Domi Panjaitan memastikan korbannya meninggal dunia dengan memeriksa urat nadi tangan kiri korban sesaat setelah dicekik. “Saya pegang tangannya, apakah dia sudah meninggal. Setelah mengetahui belum mati, saya mengambil batu dan menjatuhkannya persis di kepalanya sebanyak tiga kali,” ujar tersangka dengan gelagat lupa.

Tersangka juga menceritakan sejak pergi ke kebun jagung, melarang korban untuk ikut dan menerima jawaban kurang enak dari korban, lalu menyekik, memukulkan batu kemudian mengubur dan mengorek serta menyodomi korban. Rekonstruksi itu memperlihatkan pembunuhan dilakukan tersangka Domy Panjaitan, dengan tidak terencana. Korban meninggal karena pukulan benda tumpul di kepala, serta mengalami luka di bagian dubur, akibat di sodomi oleh tersangka.

Kepala Desa Bongkaras Marijon Manik yang turut serta mengikuti rekonstruksi tersebut kepada wartawan menerangkan, bahwa dirinya meminta pelaku kejahatan itu dihukum setimpal dengan perbuatannya. Menurutnya, pemberian hukuman tersebut akan memberikan efek jera kepada para calon pelaku kejahatan yang sama di Indonesia dan di Dairi pada khususnya. “Memang kedua belah pihak ini masih keluarga saya. Namun, keluarga tetap keluarga, hukuman tetap berjalan,” ujarnya singkat.

Karena Cemburu

Rekonstruksi kedua, kasus pembunuhan yang direncanakan terhadap seorang Bidan Desa (Bindes) di Puskesmas Kuta Bulu, Kecamatan Tanah Pinem, Dairi Juanita Silitonga, Sabtu (11/10) yang lalu. Pembunuhan tersebut diduga kuat telah direncanakan, karena saat bertemu dengan korban, korban sudah mengadukan kepada temannya bahwa tersangka Poltak Sihombing membawa sebilah pisau di pinggangnya.

Dalam adegan yang diperagakan, tersangka sempat melakukan komunikasi dengan korban perihal hubungan asmara mereka selama ini. Tersangka yang merasakan kelainan dalam hubungan mereka, mendesak korban untuk mengakui apa sebenarnya yang terjadi dengan hubungan mereka.

“Selama beberapa minggu terakhir ini, dia tidak mau lagi balas sms dan jawab telepon. Saya menanyakan, apakah dia sudah memiliki laki-laki lain dan dia jawab ya. Iya, sudah kenapa rupanya,” ujar tersangka menirukan ucapan korban saat itu.

Tersangka tidak kalah dengan ucapan korban tersebut, setelah sebelumnya mereka berempat dengan 2 orang saksi dalam salah satu ruangan di Puskesmas Kuta Buluh, tersangka mengajak korban untuk beebicara di ruang tamu. Hujan yang lebat saat itu, membuat suara berisik dari keduanya tidak didengar 2 orang rekannya yang juga petugas kesehatan di Puskesmas itu.

“Setelah saya bujuk dan dia tidak mau, saya menusukkan pisau ke bagian perutnya. Setelah itu, saya ke belakang dan mengambil alu dan memukulkannya ke kepalanya. Saat itu dia berlari masuk ke kamarnya, kami sempat dorong mendorong pintu kamar itu,” ujar tersangka dan mengakui dia menghabisi korban di dalam kamar itu.Rekon 2.

Kepada wartawan, tersangka mengaku cemburu terhadap tingkah korban. Diakuinya, bahwa status rumah tangganya saat ini kurang harmonis dan telah menjalin hubungan dengan korban. “Kami sudah berjanji sehidup semati. Namun, belakangan dia berubah. Saya sangat menyesal,” ujarnya loyo.

Keluarga korban Toni Saragih (40) mewakili seluruh keluarga dari Pulau Raja Asahan, meminta kepada penegak hukum supaya menghukum tersangka sesuai dengan hukum yang berlaku. Menurutnya, seluruh keluarga selalu memberikan dukungan terhadap korban, untuk dapat hidup layak dan menemukan cita dan cintanya.

“Mulai dari bersekolah hingga melamar Bidan Pegawai Tidak Tetap (PTT) selalu mendapat dukungan dari keluarga. Keluarga selama ini mengharapkan korban mendapatkan pekerjaan yang layak dan pendamping hidup yang memberikan dia kesejahteraan bagi dirinya dan keluarganya. Namun, semuanya sudah pupus setelah kejadian yang menimpa adik kami itu,” ujar Saragi.(vd/ss/dr)

Kata kunci terkait:
dairi, berita dairi terbaru, Berita dairi, Polres Dairi, rekontruksi polres dairi hari ini, pembunuhan berencana yg terjadi di samosir, pembunuhan sadis di dairi, kasus pembunuhan dinias, Kabar dairi, kasus pembunuhan anak anak di dairi sidikalamg

Lihat Juga

Terkait Mau Tampar Anggota, Kadis Pendidikan Akan Nasehati Oknum KUPT Ransel

Rantauprapat | suarasumut.com  –  Terkait ocehan Oknum Kepala Unit Pelaksana Tehnik (KUPT) Dinas Pendidikan,Kecamatan Rantau ...