Pengumuman & Ucapan:
Beranda ›› Foto & Video ›› Demo Pengadilan Dan Kejari Rantauprapat, GMPH Minta Monalisa Dibebaskan

Demo Pengadilan Dan Kejari Rantauprapat, GMPH Minta Monalisa Dibebaskan

Rantauprapat, suarasumut.com – Banyaknya kejanggalan atas perkara terdakwa Monalisa memicu semangat solidaritas mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Peduli Hukum (GMPH). Sebagai bentuk solidaritas sesama mahasiswa, sekitar pukul 11.00 WIB hingga 13.00 WIB, GMPH mendemo Pengadilan Negeri (PN) dan Kejaksaan Negeri Rantauprapat meminta Monalisa dibebaskan, Selasa (12/5).

Pantauan suarasumut.com, Selasa (12/5), di PN Rantauprapat, GMPB dalam orasinya menyebutkan, karena meringkuk di balik jeruji besi, sebagai mahasiswa, Monalisa tidak dapat mengikuti proses belajar. Untuk itu, mereka secara bersama-sama melakukan aksi solidaritas meminta PN Rantauprapat membebaskan Monalisa atau setidak-tidaknya menghukum sesuai kesalahan yang diperbuatnya. “Kami meminta Pengadilan Negeri memutus perkara saudara seperjuangan kami seadil-adilnya, sesuai dengan kesalahan yang diperbuatnya,” kata Anto Ziliwu dalam orasinya.

Saat itu, GMPH meminta Ketua PN Rantauprapat, Tumpal Sagala SH memberikan penjelasan kepada mereka terkait perkara Monalisa. Namun sehubungan Tumpal Sagala tidak berada ditempat, Arman Siregar SH dan M Iqbal SH mempersilahkan GMPH untuk memasuki ruang sidang Cakra agar tuntutan aksi solidaritas tersebut dapat ditanggapi sesuai ketentuan yang ada. “Perkara ini akan diputus besok. Saya selaku salahsatu hakim (perkara Monalisa,red) akan menyampaikan hal ini kepada Majelis untuk dipertimbangkan,” kata Arman Siregar sembari mempersilahkan GMPH untuk menghadiri perisdangan pembacaan putusan perkara Monalisa esok hari.

Usai audiensi, GMPH meninggalkan PN Rantauprapat menuju Kejaksaan Negeri Rantauprapat. Kali ini, mereka mendesak agar para Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang menangani perkara membuat dakwaan dan tuntutan sesuai dengan perbuatan tersangka. Di Kejaksaan ini, aksi demo nyaris bentrok dengan aparat kepolisian Polres Labuhanbatu saat GMPH meletakan jerigen bensin berdekatan dengan ban bekas, dan obor.

Aparat Polisi menganggap GMPH akan membakar ban bekas di depan kantor Kejari. Tak pelak adu argument agar Kepala Kejari Rantauprapat hadir di hadapan mereka untuk menjelaskan duduk perkara teman seperjuangan mereka yang didakwa melakukan pencurian atau pemerasan disertai kekerasan, sementara handphone milik korban senilai dikembalikan saat kejadian.

Pengembalian Handphone Tidak Menghapus Tindak Pidana

Sungguh miris mendapatkan penjelasan dari Jaksa Penuntut Umum (JPU), Erna yang menangani perkara Monalisa yang menyebutkan, pengembalian handphone kepada korban tidak menghapus tindak pidana yang dilakukan. Padahal, aturan tentang pengembalian barang (kerugian) tidak menghapusnya tindak pidana yang dilakukan secara nyata diatur Pasal 4 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Korupsi. “Pengembalian handphone tidak menghapus tindak pidana,” kata Erna yang didampingi Kasi Intel AP Naibaho dalam audiensi bersama GMPH di ruang kerjanya.

Hal tersebut dikatakan Erna, menjawab pertanyaan delegasi GMPH, Nurdin Sipahutar SH yang mempertanyakan, nilai kerugian korban sebesar Rp1 juta. Sementara, secara nyata dalam dakwaan perkara Monalisa, handphone tersebut telah dikembalikan kepada korban tanpa dasar keterpaksaan (tertangkap) atau lebih tepatnya dengan kesadasaran sendiri. “Nilai kerugian Rp1 juta, sementara handphone sudah dikembalikan dengan niat dan kesadaran sendiri tanpa unsure keterpaksaan,” tanya Nurdin Sipahutar saat itu.

Sekedar untuk diketahui, baik JPU, Erna maupun Penasehat Hukum (prodeo), Jeckson Nababan SH memberikan keterangan yang saling bertentang tentang unsure kekerasan yang dilakukan oleh terdakwa Monalisa. Versi Erna, kekerasan yang dilakukan Monalisa adalah pemukulan dikepala korban, sedangkan versi Jeckson Nababan, kekerasan itu berupa ancaman.

Menurut Jeckson Nababan, handphone yang diambil dari korban dijadikan alat untuk melakukan pemerasan, sementara Erna menyebutkan handphone merupakan barang bukti perkara pencurian yang didakwakan. Lebih parahnya lagi, Handphone milik korban diambil oleh terdakwa Monalisa dari bagasi depan sepeda motor korban sementara dalam sidang angenda keterangan saksi, handphone diambil oleh saksi mahkota.

Namun faktanya, sekalipun Erna dan Jeckson saling berbeda pendapat tentang perbuatan pidana yang dilakukan oleh Monalisa, namun kedua penegak hukum itu memiliki pendapat yang sama tentang terpenuhinya kebenaran materil dalam pembuktian dipersidangan. Padahal, keabsahan alat bukti saksi mahkota dalam persidangan hingga saat ini masih kontra versi.

Pada pemberitaan sebelumnya, kasus yang menjerat Monalisa bermula pada tanggal 24 Februari 2015 sekitar pukul 14.30 WIB di jalan Menara, Kelurahan Siringo-ringo, Kecamatan Rantau Utara, Kabupaten Labuhanbatu. Saat itu, sepeda motor yang dikendarai Monalisa bersama Pspt (terdakwa dalam berkas terpisah) mogok karena kehabisan bensin.

Saat itu, Pspt dan Monalisa meminta uang Rp10 ribu kepada Fsrh yang sedang melintas di lokasi yang sama. Namun karena Fsrh mengaku tidak memiliki uang, Pspt mengambil handphone korban yang diletakan di bagasi depan (terbuka,red) sepeda motor milik korban.

Usai handphone dikuasai, Monalisa mengajukan kembali permintaan uang Rp10 ribu kepada korban untuk mengisi bensin sepeda motor yang dikendarinya bersama Pspt. Karena Fsrh tetap mengaku tidak punya uang, Monalisa memukul (tangan kosong,red) kepala korban yang saat itu masih menggunakan helm dikepalanya, dan handphone dikembalikan kepada korban.

Namun naas, sekitar pukul 15.30 WIB, dengan mengendarai sepeda motor, Fsrh yang ditemani ibunya mendatangi kembali Monalisa dan Pspt di TKP. Melihat gelagat buruk itu, Monalisa dan Pspt melarikan diri hingga akhirnya ditangkap di Simpang Jalan Padang Bulan, Kelurahan Padang Bulan, Kecamatan Rantau Utara, Kabupaten Labuhabatu.

Tak berselang berapa lama, dengan mengendarai mobil Patroli, satuan Polri Resor Labuhanbatu tiba di lokasi penangkapan Monalisa dan Pspt dan membawanya ke Polres Labuhanbatu untuk diperiksa. Sesuai keterangan terdakwa Monalisa dan Ibunya, Megawati br Sitorus, serta tidak dibantah Kasipidum, Alan Baskara, barang bukti handphone diserahkan korban kepada anggota Polri di Resor Labuhanbatu. “Handphone yang dituduh kami curi, korban sendiri yang menyerahkan kepada polisinya,” kata Monalisa beberapa waktu lalu di ruang sel PN Rantauprapat

Jaksa Penuntut Umum (JPU), Erna yang dikonfirmasi di kantor Kejaksaan Negeri Rantauprapat menyebutkan, dalam perkara yang menjerat Monalisa, mereka hanya memiliki 1 barang bukti, yakni handphone milik korban Fsrh. Bahkan Erna secara tegas menerangkan, visum et revertum tidak ada. “Hanya handphone,” jawab Erna dengan tegas. (ls/ss/lb)

Lihat Juga

Tidak Semua Program Dan Kegiatan Yang Telah Ditetapkan Dapat Dilakukan Oleh Pemerintah Sendiri

Rantauprapat | suarasumut.com  –  Pemerintah menyadari bahwa tidak semua program dan kegiatan yang telah ditetapkan ...