Pengumuman & Ucapan:
Beranda ›› Headline ›› Barang Bukti Hanya Handphone, Anggota Peradi Akui Kebenaran Materil Pemerasan Terpenuhi

Barang Bukti Hanya Handphone, Anggota Peradi Akui Kebenaran Materil Pemerasan Terpenuhi

Rantauprapat, suarasumut.com – Sekalipun barang bukti perkara terdakwa Monalisa hanya 1 unit handphone senilai Rp1 juta bukan diperoleh dengan cara kekerasan, namun Pengacara, Jeckson Nababan SH dari Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) malah akui kebenaran materil dalam pembuktian tindak pidana pemerasan disertai kekerasan telah terpenuhi. Ironinya, Jeckson Nababan malah mendalilkan handphone tersebut merupakan alat melakukan ancaman (kekerasan) untuk memeras.

Informasi yang dihimpun suarasumut.com hingga, Kamis (7/5), terdakwa Monalisa yang masih berstatus mahasiswi salah satu perguruan tinggi swasta di Kabupaten Labuhanbatu, didampingi Jeckson Nababan saat agenda sidang keterangan terdakwa di Pengadilan Negeri (PN) Rantauprapat. Tak pelak, Jeckson Nababan tidak mengikuti agenda sidang keterangan saksi korban, Fsrh yang menjelaskan handphone diambil bukan dengan cara kekerasan.

Saat itu, Fsrh menyebutkan, handphone yang dijadikan sebagai barang bukti atas perkara pemerasan dengan kekerasan sesuai Pasal 368 ayat (2) KUHP, diambil oleh Pspt (16) teman Monalisa dari bagasi depan sepeda motornya. Sementara, unsure tindak pidana kekerasan yang dituduhkan kepada Monalisa karena adanya pemukulan di kepala korban Fsrh yang saat itu masih menggunakan helm. “Dari bagasi depan. Bukan bagasi dibawah tempat duduk (jok,red),’ kata Fsrh beberapa waktu lalu saat mengklarifikasi sangkaan Hakim Mince dalam agenda sidang keterangan saksi, sementara saat itu Jeckson Nababan belum menerima kuasa dari Monalisa untuk menjadi penasehat hukum prodeo.

Ironinya, sekalipun handphone tersebut dikuasai oleh Pspt tanpa disertai kekerasan, namun setelah Monalisa memberi kuasa sejak sebulan lalu (Selasa,7/4), Jeckson Nababan, barang bukti handphone dalam pokok perkara malah beralih fungsi sebagai alat melakukan kekerasan untuk memeras korban Fsrh Rp10 ribu.

Ironinya lagi, sekalipun anggota Peradi itu mengetahui uang Rp10 ribu tidak ada diserahkan oleh korban Fsrh, namun dalam Pledoi-nya, Jeckson Nababan malah akui kebenaran materil dalam pembuktian telah terpenuhi. “Bahwa fakta-fakta yang terungkap didalam persidangan baik keterangan saksi-saksi, surat, keterangan terdakwa dan barang bukti semuanya diakui dan dibenarkan oleh terdakwa. Dengan demikian, kebenaran materil yang tergali didalam pembuktian di persidangan telah terpenuhi,” kata Jeckson Nababan beberapa waktu lalu membacakan pledoi-nya dengan nada suara yang nyaris tak terdengar.

Jaksa Penuntut Umum (JPU), Erna yang dikonfirmasi di kantor Kejaksaan Negeri Rantauprapat menyebutkan, dalam perkara yang menjerat Monalisa, mereka hanya memiliki 1 barang bukti, yakni handphone milik korban Fsrh. Bahkan Erna secara tegas menerangkan, visum et revertum tidak ada. “Hanya handphone,” jawab Erna dengan tegas.

Pada pemberitaan sebelumnya, kasus yang menjerat Monalisa bermula pada tanggal 24 Februari 2015 sekitar pukul 14.30 WIB di jalan Menara, Kelurahan Siringo-ringo, Kecamatan Rantau Utara, Kabupaten Labuhanbatu. Saat itu, sepeda motor yang dikendarai Monalisa bersama Pspt (terdakwa dalam berkas terpisah) mogok karena kehabisan bensin.

Saat itu, Pspt dan Monalisa meminta uang Rp10 ribu kepada Fsrh yang sedang melintas di lokasi yang sama. Namun karena Fsrh mengaku tidak memiliki uang, Pspt mengambil handphone korban yang diletakan di bagasi depan (terbuka,red) sepeda motor milik korban.

Usai handphone dikuasai, Monalisa mengajukan kembali permintaan uang Rp10 ribu kepada korban untuk mengisi bensin sepeda motor yang dikendarinya bersama Pspt. Karena Fsrh tetap mengaku tidak punya uang, Monalisa memukul (tangan kosong,red) kepala korban yang saat itu masih menggunakan helm dikepalanya, dan handphone dikembalikan kepada korban.

Namun naas, sekitar pukul 15.30 WIB, dengan mengendarai sepeda motor, Fsrh yang ditemani ibunya mendatangi kembali Monalisa dan Pspt di TKP. Melihat gelagat buruk itu, Monalisa dan Pspt melarikan diri hingga akhirnya ditangkap di Simpang Jalan Padang Bulan, Kelurahan Padang Bulan, Kecamatan Rantau Utara, Kabupaten Labuhabatu.

Tak berselang berapa lama, dengan mengendarai mobil Patroli, satuan Polri Resor Labuhanbatu tiba di lokasi penangkapan Monalisa dan Pspt dan membawanya ke Polres Labuhanbatu untuk diperiksa. Sesuai keterangan terdakwa Monalisa dan Ibunya, Megawati br Sitorus, serta tidak dibantah Kasipidum, Alan Baskara, barang bukti handphone diserahkan korban kepada anggota Polri di Resor Labuhanbatu. “Handphone yang dituduh kami curi, korban sendiri yang menyerahkan kepada polisinya,” kata Monalisa beberapa waktu lalu di ruang sel PN Rantauprapat. (ls/ss/lb)

Lihat Juga

Toko Mas Mutiara Disantroni Maling Di Siang Hari

  Tanjungleidong | suarasumut.com  –  Warga Kelurahan Tanjungleidong Kecamatan Kualuhleidong Kabupaten Labuhanbatu Utara dihebohkan adanya ...