Pengumuman & Ucapan:
Beranda ›› Foto & Video ›› Anak-anak Pemulung Di Gunungsitoli Bentuk Komunitas

Anak-anak Pemulung Di Gunungsitoli Bentuk Komunitas

Gunungsitoli | suarasumut.com  –  -anak yang bermukim di sekitaran komplek Remeling, Kelurahan Ilir, yang merupakan kawasan miskin di Kota Gunungsitoli, yang didampingi lebih setahun oleh Yayasan Pusat Kajian dan Perlindungan (PKPA) Cabang Nias, atas inisiatif mereka sendiri belum lama ini membentuk kelompok bernama Persatuan Karya Remeling (PESKAR).

Ketua PESKAR terpilih, Darius N. Nehe didampingi Sekretaris, Yeremia Gea, Bendahara, Rufinus R.N. Nehe dan pendamping dari PKPA, Rido Waruwu, menyebutkan PESKAR merupakan organisasi komunitas anak-anak pemulung yang dibentuk sebagai wadah bagi mereka untuk menyalurkan minat, bakat dan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan setiap anak.

“Melalui PESKAR kami akan dapat menyalurkan hobby dalam olahraga seperti bermain futsal dan terpenting sekarang kami sedang mengikuti kursus komputer agar nantinya kami dapat mengikuti Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK)”, ujar Darius N. Nehe saat mengikuti kursus komputer di kantor PKPA Cabang Nias, Senin, 05/03/2018.

Sebagai pendamping anak, Rido Waruwu menambahkan, pembentukan kelompok anak-anak inklusi tersebut merupakan cara untuk mengorganisir anak-anak untuk belajar bersama.

“Mereka, anak-anak yang rentan dan memerlukan pendampingan intens sehingga PKPA Cabang Nias berinisiatif mendampingi mereka dan keluarganya. Melalui PESKAR inilah anak-anak dapat belajar bersama, bermain, mendapatkan penguatan kapasitas untuk dapat berpartisipasi,”ujarnya.

Rido Waruwu menambahkan, anak-anak PESKAR belajar komputer dua kali seminggu. Mereka difasilitasi alat praktek, modul dan akan diberikan sertifikat oleh PKBM Multi Guna setelah selesai mengikuti kursus selama tiga bulan.

Manager PKPA Cabang Nias, Chairidani Purnamawati, mengatakan, anak-anak dari komunitas Remeling tersebut dikategorikan anak inklusi karena memiliki karakteristik khusus.

“Mereka berbeda dengan anak-anak pada umumnya, walaupun secara mental, emosi atau fisik kelihatan sama, namun karakteristik lingkungan tempat tinggal, latar belakang ekonomi keluarga maupun karena sehari-harinya mereka bekerja sebagai pemulung, menyebabkan pendampingan dan perlakuan khusus sangat mereka perlukan” jelasnya di ruang kerjanya, Senin, 05/03/2018.

Menurut Chairidani Purnamawati, aspek inklusi anak tersebutlah yang melatari PKPA Cabang Nias mendampingi anak-anak tersebut, sementara bagi keluarganya pendampingan dilakukan melalui pendekatan ekonomi produktif.

Mengenai kursus komputer yang diikuti anak-anak PESKAR secara gratis tersebut, Chairidani mengatakan bahwa hal tersebut hasil kerjasama PKPA Cabang Nias dengan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Multi Guna Gunungsitoli.

Disinggung mengenai pendapat anak-anak terhadap kursus komputer tersebut, , yang merupakan anggota PESKAR mengatakan, selain ucapan terimakasih kepada PKPA, terpenting bahwa , sudah sejak kelas VII SMP dia berkeinginan mengikuti pelatihan tentang komputer, namun keinginan tersebut belum pernah terwujud karena secara ekonomi keluarga belum mampu mengkursuskannya.

“Saya bersyukur mengikuti kursus komputer ini karena selain untuk mempersiapkan UNBK, saya juga ingin melanjutkan studi di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) jurusan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ), jadi walaupun saya tidak memiliki komputer, namun saya bisa mengenal dan mengoperasikannya,”ujar Operius Laia.(rd/ss-gs)

Lihat Juga

Troktoar Di Kota Gunungsitoli Dialih Fungsikan

Gunungsitoli | suarasumut.com  –  Bangunan milik pribadi yang mengalih fungsikan troktoar di Kota Gunungsitoli,Sumatera Utara …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.