Pengumuman & Ucapan:
Beranda ›› Citizen Journalism ›› Alas Budaya Sibolga – Tapanuli Tengah Adalah Adat Toba Silindung, Bukan Adat Pesisir

Alas Budaya Sibolga – Tapanuli Tengah Adalah Adat Toba Silindung, Bukan Adat Pesisir

Oleh : Robert Hutagalung

(Pemerhati Budaya-Sejarah Bag I)
Sibolga-Tapanuli Tengah, suarasumut

Dalam bingkai “SAHATA SAOLOAN” Bermula dari istilah kata “adat SUMANDO” yang di rancang dan di gadang-gadang (di besar-besarkan) oleh orang-orang tertentu untuk menjadi Dasar atau Alas Budaya Pesisir di Sibolga,menjadi satu hal yang tidak masuk diakal dan pemicu untuk melakukan NAPAKTILAS bersama pemerintah kedua daerah demi meluruskan sejarah Sibolga-Tapanuli Tengah untuk kepentingan pemahaman sejarah daerah ini,bagi generasi mendatang.

Mengapa demikian ? jawabnya adalah “bahwa pada mulanya Sibolga maupun di Tapanuli Tengah hanya terdapat “dua Etnis” yang masing-masing adalah Etnis Batak dan Tionghoa.

”ETNIS BATAK”,yang dulunya dirintis oleh Marga Hutagalung bersama 18 marga Batak dari Toba – Silindung(1515-1900),sedangkan “ETNIS TIONGHOA”dulunya dirintis oleh marga ”KWAN” dari Tiongkok,dan menjadi ‘kapitan’di masa hidupnya di Sibolga (1740-1800).

Demikian juga di kerajaan hanya terdapat “dua kerajaan”yang masing-masing adalah “kerajaan Barus dan Kerajaan Tapian Nauli Godang”.
Kerajaan Barus, yang meliputi wilayah: Sorkam, Manduamas sekitarya,sedangkan kerajaan Tapian Nauli Godang (Patuan Pamolus Hutagalung 1690-1770),yang meliputi desa Aek Raisan,Sibolga, Siantar Gunung, hingga ke desa Anggoli. (wilayah ini disebut “Tapian Nauli Godang).

Sedangkan pusat kerajaan Tapian Nauli mula-mula di desa”PORIAHA”,yang pada akhirnya di pindahkan ke “PARGODUNGAN”pada masa Sutan Mainalan yang menjadi Raja Tapian Nauli ke-IV (1840-1855).

Status Sibolga sejak tahun 1810-1940,disebut wilayah Residen,dengan demikian Sibolga “bukan Tanah Kerajaan,”yang di pimpin oleh seorang Raja atau Kuria.

Jika Sibolga merupakan Tanah Kerajaan 204 tahun yang lalu,lalu siapa sebenarnya raja/kuria Sibolga?, dan dimana situs kerajaan itu (istana Pekuburan Keluarga kerajaan Sibolga, Tugu Raja, Artefak kerajaan Sibolga) lalu mengapa dulunya ada Sibolga,”perkampunga Cina 1 dan perkampungan Cina 2 yang di perkirakan di bentuk sejak tahun 1770-1905? Bagaimana mungkin situs kerajaan (kuburan,tugu,istana dan lain-lain) di katakana Hilang tanpa ada gugatan dari keturunan raja/kuria yang masih hidup sekarang ini?, sedangkan situs seorang Tionghoa ber marga ‘Kwan’ yang di beri Jabatan sebagai’Kapitan’ pada zamanya di Sibolga (1740-1800)274 tahunhingga sekarang masih dapat kita temukan di salah satu sudut pegunungan Sibolga.

Adapun TAPIAN NAULI GODANG Sibolga-Tapanuli Tengah (sekarang disebut)di”PUKKA’’oleh pendahulunya bernama “Raja Anggoli Hutagalung,anak ke 5 Ujung Oloan Hutagalung” dari Horong (turunan) Patuan Napitu bersama 18 marga batak lainnya,yang merupakan sepupu serta sahabat-sahabat beliau,lalu di lanjutkan anaknya,yaitu Raja Patuan Pamolus(disebut juga : Raja Marluntak dalan Hutagalung) diantaranya”Hutagalung Harean,Hutagalung si Raja Ina,Hutabarat,Panggebean, Lumban Ratus,Lumban Tobing,Nainggolan, Napitulu, Dongoran, Silitonga, Sipahutar, Pasaribu, Togatorop, Nababan, Manalu, Tambunan, Sitompul, Tamba dan Simaremare”.
Marga tersebut menjadi “Raja Huta,Namora ni Huta dan Paripe ni Huta’’,yang berpopulasi di wilayah TAPIAN NAULI GODANG yang berubah nama menjadi TAPANULI TENGAH dan SIBOLGA.

Menurut cerita yang di kisahkan(alm) Sutan Letter Hutagalung semasa hidup beliau,bahwa pada tahun 1700-an,bertempat di istana Raja Tapian Nauli-Poriaha terjadilah kesepakatan SIPUKKA HUTA (selaku pengayom/perintis perkampungan baru) bersama 18 marga sepupu,sahabat-sahabat menjadi Raja Huta, Namora ni Huta, Paripe ni Huta untuk merumuskan suatu tatanan adat yang baru untuk di bingkai menjadi’Alas’Adat/Budaya’yang sah sesuai dengan aturan Habatahon(etnis Batak) yang berlaku secara terus menerus yang belakangan disebut “Dos ni Tahi”atau “Rim ni Tahi” atau “Sahata Saoloan”. Dos ni Tahi,di artikan sebagai awal dari pembicaraan yang berasal dari niat Sipukka ni Huta yang mengundang para sepupu dan sahabat-sahabatnya untuk sebuah pertemuan guna membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan aturan dan peraturan”Paradaton Na Somal”(khas Budaya Batak),dan selama perbincangan itu berlangsung,di sebutlah “Rim ni Tahi,sehingga tercapailah maksud “Sipukka Huta” bersama Raja Huta,Namora ni Huta,Paripe ni Huta,yaitu “SAHATA SAOLOAN”.

Untuk menetapkan Paradaton Nasomal tersebut,maka si Raja pukka huta menyebut Sahata Saoloan,sebagai”bingkai Alas Budaya”khas di Sibolga-Tapanuli Tengah,dengan meresmikannya dalam acara”Tor-tor Raja,dan memotong buah kelapa tua yang santannya di peras dengan air kunyit di padu bersama daun Pandan yang di iris halus lalu di tuang ke dalam beras kemudian di masukkan ke dalam buah Labu besar yang sudah tua,yang bagian dalam nya di korek dan di bersihkan lalu di ikat dengan pelepah pohon pisang,kemudian di masak dalam kukusan dan setelah Nasi Labu itu matang barulah di dinginkan lalu buah Labu yang berisi kunyit itu,di belah secara perlahan yang di letakkan di tengah-tengah Pinggan(piring)besar berbentuk oval 18 ekor “IHAN” (Ikan)yang sudah di bumbuh di atas nasi putih yang mengelilingi nasi yang di masak ke dalam labu tadi,barulah boleh di sajikan kepada raja Sipukka Huta bersama tamu-tamu Raja.
Nasi yang dimasak dalam Labu yang Sudah menjadi Kuning beraroma daun pandan yang telah di padu dalam santan kelapa itu serta di kelilingi 18 ekor ihan berbumbu sedap di atas nasi putih itulah yang telah terlupakan hingga 100 tahun terakhir ini,padahal nasi dan ihan itulah yang sesungguhnya sejarah cirri makanan khas yang resmi di Sibolga-Tapanuli Tengah.

Bersambung

Kata kunci terkait:
pakaian adat sibolga, adat sibolga, pakaian adat tapanuli tengah, kerajaan sibolga, Pidato tentang budaya daerah yg ada disibolga tapteng, paradaton habatahon, apakah adat sibolga, suku batak di tapteng, marga yg ada di sorkam tapanuli tengah, arti cermin bakilek dlam adat sibolga

Lihat Juga

Pemkab Nias Bantu Lanjut Usia Terlantar

Nias | suarasumut.com  —  Pemerintah Kabupaten Nias memberikan bantuan kepada 100 orang Lanjut Usia terlantar ...