Pengumuman & Ucapan:
Beranda ›› Headline ›› Akibat Kasus Penikaman Oknum LSM Jalan Ditempat, Polres Labuhanbatu Didemo

Akibat Kasus Penikaman Oknum LSM Jalan Ditempat, Polres Labuhanbatu Didemo

Rantauprapat, suarasumut.com  –  Meski hampir setahun lebih kasus penikaman yang menimpa Fahruddin Hasibuan (35), warga Desa Sampean Kecamatan Sungai Kanan, yang merupakan Ketua LSM Forum Bela Rakyat yang dilaporkan ke Polres Labuhanbatu sejak tanggal 9 Juni 2014 tampaknya kasus tersebut jalan ditempat. Sebab hingga sampai saat ini pihak kepolisian khususnya Polres Labuhanbatu belum juga dapat mengungkap kasus yang tragis yang menimpa Oknum LSM itu.

Akibat belum terungkapnya kasus itu,sejumlah aktivis yang tergabung mengatas namakan Forum Bela Rakyat Indonesia (FBRI) mengorasikan diri di Mapolres Labuhanbatu, Senin (28/9) sekitar pukul 11.00 Wib, mereka meminta agar polisi segera mengungkap kasus tersebut dan menangkap pelaku.

“Kami meminta agar kasus tersebut dapat dituntaskan pihak kepolisian, tangkap pelaku penikaman itu, sudah berapa lama kasus itu belum juga ditemukan titik terang dalam kasus itu,”teriak Fahruddin didepan Kantor Mapolres Labuhanbatu.

Dikatakannya, dalam kasus yang menimpa dirinya itu ia menduga kuat ada kaitannya atas proyek Bantuan Daerah Bawahan (BDB) tahun anggaran 2012-2013 yang ia laporkan ke Mapolres Labuhanbatu. Sebab, lanjut Fahruddin, sewaktu ia ditikam di Kecamatan Tolan, Kabupaten Labuhanbatu Selatan, Selasa (19/8/2014) sekitar pukul 09.00 wib penikam sempat melontarkan kata-kata ”Rasakan mampus kau ngapain kau surati proyek bos kami”.

“Saat itu aku sudah ditikam, setelah aku terjatuh si penikam itu pun melontarkan kata tersebut sembari menancap gas yang menggunakan sepeda Motor Vixion berwarna merah,”ungkap Fahruddin.

Dari orasi yang dilakukan aktivis tersebut, Polres Labuhanbatu berjanji akan segera menindak lanjuti kasus tersebut yang menimpa Faharuddin.

yang sempat diwawancarai suarasumut.com menduga atas penikaman yang dialaminya itu ada kaitannya dengan orang nomor satu di Labusel, karena ia menilai atas lontaran penikam soal bos proyek itu merupakan diduga proyek orang nomor satu di Labusel.

“Aku menduga HN itu dan rekannya adalah suruhan orang nomor satu. Tapi karena belum tertangkapnya pelaku itu sehingga belum dapat dipastikan meski pelaku HN sempat diperiksa Polsek yang kini sekarang kabur yang tak tau dimana rimbanya,”tutur Fahruddin.

Sebelumnya, Fahruddin ditikam saat berada diatas sepeda motor miliknya BK 2528 YAC yang sedang dalam perjalanan dari Rantauprapat ke Kotapinang. Tepat di Jalinsum simpang Afdeling I Perkebunan Sisumut, Desa Pekan Tolan Kecamatan Kampung Rakyat, korban dipepet sepeda motor jenis Yamaha Vixion berwarna merah tanpa plat ditumpangi dua orang tak dikenal (OTK). Ciri-ciri kedua pelaku si pengemudi pakai jeket merah memakai helm dan pria yang dibonceng, yang melakukan penikaman memakai jaket hitam.

Setelah memepet sepeda motor korban, pelaku langsung menusukkan benda tajam diduga pisau belati sebanyak dua kali kebagian perut tubuh korban. Kemudian korban pun terjatuh dan terkapar dengan tubu bersimbah darah di bahu jalan Jalinsum.

Korban minta tolong kepada pengendara yang saat itu sedang melintasi jalinsum dan warga yang melintas pun kemudian menghubungi Satuan Polantas Tolan dan kemudian petugas Polantas membawa korban ke RSU Nur Aini Blok Songo Kotapinang. Saat menjalani perawatan di RSU Nur Aini, Fahruddin menceritakan, kejadian yang menimpanya, diduga ada kaitannya dengan surat pengaduannya tentang sejumlah proyek diduga bermasalah di Kecamatan Sungai Kanan Labusel ke Satuan Reskrim Unit Tipikor Polres Labuhanbatu. “Saat kejadian itu, aku masih sempat menghubungi Udaku (Pakcik) di Kotapinang,” katanya.

Dijelaskan Fahruddin, setelah ditikam, dirinya meminta tolong kepada orang yang melintas pertama kali yakni pengendara sepeda motor Honda Revo hitam. Namun penumpang sepeda motor Revo itu malam berkata ‘mati kau ke situ, di depan kau yang menikam itu,” kata Fahruddin, menirukan perkataan pria yang pertama kali melintas setelah kejadian.

Fahruddin menduga, dua pengendara Honda Revo warna hitam yang melintas setelah dirinya ditikam, merupakan komplotan pelaku. “Jadi ada empat orang pelaku. Kemungkinan mereka suruhan,” katanya.

Sementara Humaira (34), isteri korban mengatakan, sebelum kejadian tepatnya pada bulan puasa kemarin, memang ada orang yang mencari-cari rumah mereka di Perumnas Padang Pasir Kecamatan Rantau Selatan. Menumpang mobil dan bertanya-tanya kepada tetangganya.

“Ibu tahu dimana rumah Fahruddin,”kata Humaria, menirukan pertanyaan seorang pria kepada ibu-ibu tetanggannya. Humaria mengaku tidak mendapat tanda-tanda akan ada kejadian tersebut. Karena selama ini tidak ada ancaman atau peringatan dari siapa pun yang tidak suka dengan keluarga mereka.

Ibu dua yang masih berumur 4 tahun dan 2 tahun ini, berharap pihak kepolisian melindungi keluarga mereka dari ancaman pelaku penganiayaan kepada suaminya. Sementara itu, data yang dihimpun di RSU Nur Aini diketahui korban mengalami dua tusukan di bagian perut sebelah kanan dan kiri.(ab/ss/rp)

Lihat Juga

KSOP Gunungsitoli Gelar Diklat Gratis Untuk Nelayan Gunungsitoli, suarasumut.com-- Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) kelas V Gunungsitoli gelar pendidikan dan pelatihan pemberdayaan masyarakat kapal layar motor (KLM) secara gratis untuk nelayan di Kepulauan Nias. Jika berminat, nelayan di Kepulauan Nias bisa mendaftar di kantor KSOP Gunungsitoli, Jalan Yos Sudarso, Kelurahan Saombo, Kota Gunungsitoli, Sumatera Utara mulai tanggal 17 Oktober sampai 1 November 2018. Hal tersebut disampaikan kepala KSOP Kelas V Gunungsitoli Merdi Loi ketika di temui di kantor KSOP kelas V Gunungsitoli, Jum,at 19 Oktober 2018. Merdi memberitahu, diklat gratis kepada nelayan kerjasama dengan Politeknik Pelayaran Sumatera Barat, dan digelar selama lima hari atau tanggal 12 sampai 16 November 2018 di komplek pelabuhan Kota Gunungsitoli, Sumatera Utara. Nelayan yang berminat bisa mendaftar di kantor KSOP dengan membawa surat keterangan tidak mampu dari Kepala Desa dan surat keterangan sehat dan tidak buta warna dari rumah sakit pemerintah. Membawa foto copy izajah minimal SD, dan bagi yang tidak punya izajah bisa diberi dispenisasi harus benar-benar nelayan, foto copy KTP/SIM, umur minimal 16 tahun dibuktikan surat akte kelahiran atau surat keterangan lahir dari Kepala Desa, foto ukuran 3x4 latar belakang berwarna dan mengisi formulir pendaftaran. Untuk snack dan makan siang para peserta selama pelaksanan diklat kita yang menanggung, dan usai mengikuti diklat, para peserta akan mendapat sertifikat basic safety training (BST) nelayan, sertifikat keterangan kecakapan (SKK) nelayan dan alat keselamatan (life jacket). Tidak lupa Merdi menambahkan jika pada tanggal 2 November 2018 akan dilakukan pemeriksaan buta warna oleh tim Dokter Politeknik Pelayaran Sumatera Barat dan selama pendaftaran dan pelaksanaan diklat sampai diterbitkan sertifikat, peserta diklat tidak dipungut biaya apapun atau gratis. "diklat khusus kita gelar bagi masyarakat yang benar benar nelayan dan tidak diterima peserta diklat yang profesinya bukan nelayan.AL

Meriahkan HUT Pemko Padangsidimpuan 158 Anak SD Dan TK Ikuti Lomba Mewarnai

Padangsidimpuan | suarasumut.com  –  Dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) Pemko Padangsidimpuan yang ke-17 …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.